2.000 Petani Sawit, Kesetaraan Gender dan Cerita dari Sumatera Utara

Pendiri Himpunan Serikat Perempuan Indonesia (HAPSARI) dan Fellow Ashoka Indonesia (Tahun 2000).
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari Laili Zailani tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Di sebuah rumah sederhana di Deli Serdang, aroma teh rempah menyebar dari dapur. Di meja makan, seorang ibu petani sawit bercerita tentang perubahan kecil yang mengubah hidupnya:
— “Sekarang suami saya mau bantu cuci piring.”
Kalimat itu sederhana, tapi di baliknya ada gelombang perubahan sosial yang tumbuh pelan-pelan—dimulai dari dapur, meluas ke forum desa.
Dari Angka ke Cerita Nyata
Sejak Desember 2024 hingga Agustus 2025, HAPSARI bersama mitra pembangunan Stichting Nederlandse Vrijwilligers (SNV) Indonesia melalui Proyek HORAS Hub melaksanakan Program Kesetaraan Gender dan Inklusi Sosial (GESI) serta Pemberdayaan Ekonomi Perempuan. Program ini menjangkau lebih dari 2.000 petani sawit di Sumatera Utara. Dari jumlah itu, 400 perempuan terlibat aktif dalam literasi keuangan dan kepemimpinan. Ada pula 10 kelompok perempuan dengan 296 anggota yang kini berproses membangun usaha bersama.
Angka-angka ini bukan sekadar statistik. Di baliknya ada cerita nyata: perempuan yang dulunya diam di forum desa kini berani bicara; laki-laki yang biasanya menyerahkan urusan dapur pada istri kini mau ikut mengurus anak.
“Dulu saya tidak berani bicara di forum desa. Sekarang saya jadi pengurus kelompok dan ikut musyawarah,” kata Maria, salah satu peserta yang bahkan sudah bisa menjadi fasilitator di kelompoknya.
Cerita-cerita ini menegaskan satu hal penting: perempuan petani sawit kerap luput dari perhatian. Dalam masyarakat patriarki, yang dianggap “petani” hampir selalu laki-laki. Padahal, perempuan ikut menanam, merawat, memanen, bahkan menjaga ekonomi keluarga dari hasil sawit. Mengakui perempuan sebagai petani sawit adalah langkah awal menuju keadilan.
Dari Dapur ke Produk Teh Rempah
Pendampingan kelompok perempuan di Deli Serdang melahirkan inovasi segar—Teh Rempah. Awalnya hanya untuk konsumsi keluarga, lalu setelah mendapat pelatihan bisnis sederhana dengan model canvas, produk ini dikelola lebih serius: dari menghitung modal, menjaga mutu, hingga memikirkan pemasaran.
Dengan dukungan perguruan tinggi, dinas terkait, dan koperasi petani sawit, Teh Rempah naik kelas dari produk rumahan menjadi ikon usaha kolektif perempuan desa. Inovasi ini juga bertumpu pada konsep Rumah Nusa (Rumah Nutrisi Keluarga) yang sejak 2021 mendorong perempuan menanam rempah, sayuran, dan herbal di pekarangan—untuk gizi keluarga sekaligus bahan baku bernilai ekonomi.
Teh Rempah hanyalah satu contoh keberhasilan: dimulai dari dapur, lalu tumbuh menjadi usaha bersama yang siap menembus pasar.
“Dulu kami buat untuk konsumsi sendiri. Sekarang kami percaya diri menjualnya,” ujar seorang anggota kelompok dengan mata berbinar.
Perubahan yang Terukur dan Tantangan Nyata
Perubahan yang terjadi tidak hanya personal, tapi juga struktural. Kelompok perempuan mulai mendapat SK Desa, diundang dalam pertemuan desa, dan berani menyampaikan gagasan pentingnya perlindungan dari kekerasan berbasis gender.
Namun jalan ini tidak mudah. Perempuan petani sawit menghadapi tantangan ganda: sistem ekonomi yang eksploitatif dan dampak krisis iklim. Banjir, kekeringan, dan penurunan hasil panen semakin dirasakan, sementara akses perempuan terhadap pelatihan dan permodalan masih terbatas.
Siti Khadijah: Wajah Perubahan
Salah satu wajah perubahan itu adalah Siti Khadijah, Koordinator Wilayah di Kabupaten Deli Serdang. Dengan ketelatenannya, ia mendampingi kelompok perempuan untuk tetap konsisten berproses meski menghadapi resistensi sosial.
Siti tidak hanya hadir di forum formal, tapi juga menjemput persoalan di rumah-rumah anggota. Ia yang pertama kali meyakinkan kelompok perempuan pembuat Teh Rempah bahwa produk mereka bisa berkembang, asal ada keberanian belajar. Siti menemani mereka membaca kekuatan dan kelemahan usaha, menghitung modal, hingga memahami pentingnya menjaga kualitas.
Di tangannya, bahasa teknis seperti “literasi keuangan” atau “inklusif gender” diterjemahkan ke hal-hal yang membumi: cara menabung hasil kebun, membagi peran rumah tangga lebih adil, atau berani bicara soal harga jual di koperasi. Inilah wujud nyata dari GESI—kesetaraan yang bukan hanya teori proyek, tapi dirasakan langsung oleh petani sawit, terutama perempuan.
Peran Siti juga penting dalam membuka jalan ke jejaring yang lebih luas. Ia menjadi penghubung antara komunitas, organisasi, dan pemangku kebijakan lokal. Berkat pendampingannya, kelompok perempuan mulai diundang dalam musyawarah desa, bahkan dipercaya menyuarakan isu perlindungan dari kekerasan berbasis gender.
Cerita Siti menegaskan, bicara kesetaraan gender bagi petani sawit bukan sekadar soal berbagi piring kotor, tapi juga keadilan ekonomi dan keberlanjutan ekologi. Dari rumah tangga sampai kebun, dari dapur sampai koperasi, perempuan petani sawit membuktikan bahwa keberlanjutan tidak bisa tercapai jika mereka terus dipinggirkan.
Dari Lokal ke Global: Aksi Iklim di Tingkat Tapak
Cerita ini tidak berhenti di desa. Ia terhubung dengan agenda global pembangunan berkelanjutan. Kesetaraan gender bukan lagi jargon, tapi nyata di kebun sawit ketika perempuan punya ruang bicara dan kepemimpinan. Kemiskinan dan kelaparan bisa ditekan ketika perempuan ikut mengelola keuangan keluarga, menabung, dan merencanakan usaha produktif.
Dan yang tak kalah penting, perempuan petani sawit kini berkontribusi langsung pada aksi iklim di tingkat tapak. Melalui Rumah Nusa, mereka menanam rempah dan sayuran untuk gizi keluarga sekaligus adaptasi iklim. Melalui usaha bersama, kelompok perempuan didorong dan difasilitasi mengolah produk lokal dengan prinsip berkelanjutan.
Perempuan yang selama ini paling dekat dengan tanah dan pangan terbukti menjadi aktor penting dalam menjaga ketahanan iklim dan pangan keluarga.
Penutup
Jika perubahan bisa dimulai dari dapur, bayangkan apa yang bisa terjadi jika suara perempuan benar-benar didengar di setiap ruang pembangunan—dari forum desa hingga kebijakan nasional. Sawit sering dipandang hanya sebagai komoditas ekspor, tapi bagi ribuan perempuan, sawit juga adalah ruang perjuangan untuk martabat, kemandirian, dan keberlanjutan hidup.
Cerita dari rumah tangga petani sawit ini membuktikan bahwa kesetaraan gender bisa berjalan seiring dengan pembangunan berkelanjutan.***
Laili Zailani
Fasilitator pemberdayaan perempuan, pendiri HAPSARI dan Rumah Kata. Ashoka Fellow (2000), serta penulis yang percaya bahwa cerita adalah alat perubahan.
