Briket Eceng Gondok: Merombak Gulma Menjadi Peluang Usaha

lailiayu ramadhani
Mahasiswa Bahasa dan Sastra Indonesia, Universitas Negeri Semarang.
Konten dari Pengguna
12 Desember 2022 12:32 WIB
·
waktu baca 5 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Tulisan dari lailiayu ramadhani tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Briket eceng gondok yang sudah jadi. Foto: dokumen pribadi.
zoom-in-whitePerbesar
Briket eceng gondok yang sudah jadi. Foto: dokumen pribadi.
ADVERTISEMENT
sosmed-whatsapp-green
kumparan Hadir di WhatsApp Channel
Follow
“Bukan padi. Lima belas hektar malah kebak (penuh) eceng gondok,” ucap Rochmat—Carik Desa Bulungcangkring (10/11). Matanya terlihat gusar. Merebaknya eceng gondok menjadi imbas dari lahan yang tergenang air. Nyaris empat puluh persen lahan di Desa Bulungcangkring ‘tenggelam’. Alhasil, lahan tersebut tidak bisa dimanfaatkan—bahkan dijuluki sebagai lahan mati. Dengan kondisi demikian, tak ayal jika lahan ini banyak ditumbuhi eceng gondok. “Saking banyaknya wis kayak hama,” celetuk Rochmat.
ADVERTISEMENT
Pada Agustus 2022 lalu, pihak desa sempat menyewa drone untuk membasmi eceng gondok. Drone tersebut disewa dari Pasuruan, Jawa Timur. Penyewaan dilakukan agar memudahkan dalam penyemprotan cairan pembasmi eceng gondok. Dengan demikian, diharapkan tanaman ini tidak lagi memenuhi genangan air. Namun lagi-lagi, usaha itu tak lantas membuat eceng gondok hilang. “Agustus disemprot, sekarang (November) sudah ada lagi,” ucap Rochmat.
Tanaman ini tidak akan musnah jika hanya dibasmi. Toh, pembasmian menggunakan cairan kimia hanya akan merusak lingkungan. Belum lagi biaya yang tidak murah untuk membeli cairan dan menyewa drone. Untuk itu, perlu ada pemanfaatan eceng gondok agar memiliki daya guna. Namun sayangnya, belum ada masyarakat yang memanfaatkan eceng gondok di Desa Bulungcangkring. Akhirnya, tanaman ini tergeletak begitu saja dan menjadi hama.
ADVERTISEMENT
“Kalau eceng gondok biasanya jadi kerajinan, tapi kan butuh kreativitas. Ya (warga di sini) tidak banyak yang kreatif,” ucap Ngadimin—Kepala BPD Bulungcangkring—sembari terkekeh.

Minimnya Pemanfaatan Eceng Gondok

Tak bisa ditampik, memanfaatkan eceng gondok memang bukan perkara mudah. Kebanyakan orang sebatas memanfaatkan eceng gondok sebagai kerajinan. Padahal, kerajinan memerlukan orang dengan kreativitas tinggi dan keterampilan. Masyarakat masih terpaku bahwa pemanfaatan eceng gondok hanya sebatas anyaman. Kurangnya eksplorasi ini membuat masyarakat enggan untuk memanfaatkannya. “Orang di sini enggak pinter nganyam. Jadi enggak ada yang memanfaatkan (eceng gondok),” ucap Rochmat.
Tidak hanya perihal kreativitas, kerajinan eceng gondok biasanya membutuhkan waktu pengerjaan yang lama. Kerajinan anyaman biasanya memerlukan eceng gondok yang kering. Untuk itu, eceng gondok perlu dikeringkan kurang lebih 2-3 hari. Namun, jika cuaca sedang mendung, pengeringan bisa memakan waktu seminggu. Belum lagi, proses pengerjaan yang juga memerlukan waktu yang tidak sebentar. Alasan-alasan itu yang pada akhirnya membuat orang enggan melakukannya.
ADVERTISEMENT
Selain itu, juga sulit untuk mengolah eceng gondok. Hal ini karena eceng gondok minim energi. Berdasarkan penelitian dari Merita Ayu (2019), kandungan nutrisi eceng gondok, seperti Bahan Kering (BK) 17.20 persen; Serat Kasar (SK) 4.08 persen; Protein Kasar (PK) 3.55 persen; Karbohidrat 8.22 persen; dan Kadar Abu sebesar 3.93 persen. Minimnya protein dan karbohidrat membuat eceng gondok kurang dilirik untuk dijadikan olahan.
Eceng gondok juga tidak bisa dijadikan bahan baku untuk pakan ternak. Lagi-lagi, alasannya karena kandungan gizi yang rendah. “Kalau eceng gondok kan proteinnya rendah. Jadi kalau jadi pakan ternak atau pelet gak cocok. Ya masa nanti ternaknya kurang protein. Masa (ternaknya) stunting,” ucap Suroso—Ketua Bumdes Bulungcangkring—tergelak. Hal itu juga dibenarkan oleh Agung Sutarto—Dosen Sipil Unnes. Menurutnya, perlu campuran protein lain jika ingin mengolah eceng gondok menjadi pakan, seperti dari ikan atau jangkrik.
ADVERTISEMENT

Mengubah Gulma menjadi Usaha

Proses pembuatan briket eceng gondok (4/11). Foto: dokumen probadi.
Melihat kondisi yang demikian, Mahasiswa KKN Universitas Negeri Semarang (Unnes) menginisiasikan pemanfaatan eceng gondok, di antaranya sebagai briket. Bergayut pada penelitian Bulong (2016), bahan utama yang harus terdapat dalam bahan baku pembuatan briket adalah selulosa. Semakin tinggi kandungan selulosa, maka semakin baik kualitas briket. Dengan pemanfaatan tersebut diharapkan tidak hanya mampu mengurangi, tetapi juga memberikan daya guna dan daya jual pada eceng gondok.
Jika merujuk pengertian dari Jain pada 2014 (A Comparative Experimental Investigation of Physical and Chemical Properties of Sawdust and Cattle Manure Briquette), briket didefinisikan sebagai sumber energi yang berasal dari biomassa yang bisa digunakan sebagai energi alternatif pengganti. Pada umumnya, briket menggunakan tempurung kelapa sebagai bahan baku. Namun, penggunaan tempurung kelapa digantikan dengan eceng gondok—biomassa yang banyak ditemukan di daerah ini.
ADVERTISEMENT
Pembuatan briket eceng gondok tidak jauh berbeda dengan briket biasanya. Langkah pertama yang dilakukan tentu saja pengeringan. Hal ini dilakukan untuk menghilangkan kandungan air dalam tanaman eceng gondok. Proses pengeringan bisa dilakukan selama 2-3 hari dengan cuaca panas. Namun, proses ini bisa disiasati dengan menggunakan oven sehingga hanya memakan waktu 4-5 jam. Setelah itu, eceng gondok ditumbuk dan dicampur dengan bahan lain, seperti serbuk gergaji dan tepung kanji. Kemudian bahan tersebut dicetak dan dikeringkan.
Dengan melihat proses pembuatannya, briket eceng gondok ini bisa dibuat oleh semua kalangan. Bahan yang mudah ditemukan dan terjangkau. Langkah-langkahnya pun tidak sulit, tapi memang butuh ketelatenan. Untuk itu, briket eceng gondok bisa dibuat oleh remaja hingga orang dewasa. Bedanya dengan briket arang, briket eceng gondok menghasilkan api, bukan bara. Tekstur eceng gondok sebagai tanaman serat akan menjadi debu saat dibakar.
ADVERTISEMENT

Menilik Peluang Usaha

Merujuk data dari Republika.co, permintaan briket meningkat sebesar lima puluh persen selama dan pascapandemi. Hal itu dibenarkan oleh Istikanah—salah satu pengusaha briket arang tempurung kelapa asal Kabupaten Kendal, Jawa Tengah. "Karena kebutuhan atas komoditas tersebut di luar negeri juga terus meningkat," ungkap Istikanah saat melakukan audiensi dengan Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo di Kantor Gubernuran, Semarang.
Lonjakan permintaan briket juga menggaet perhatian dari Menteri Perdagangan. Dikutip dari laman kemendag.go.id, Kementerian Perdagangan siap memfasilitasi kapasitas dan daya saing usaha mikro briket. Bahkan, pada Agustus 2022 lalu, Suhanto—Sekretaris Jenderal Kementerian Perdagangan—ekspor briket perdana ke Jepang sebanyak satu kontainer. “Briket cukup diminati di Negara Jepang. Hal itu bisa dimanfaatkan oleh pelaku usaha di Indonesia,” ucapnya.
ADVERTISEMENT
Selain Jepang, masih banyak negara yang menggunakan briket, seperti Amerika, China, Eropa, dan Timur Tengah. Melihat hal itu, peluang usaha briket tidak bisa dianggap enteng. Peluang inilah yang menjadi alasan mahasiswa KKN Unnes melakukan eksperimen pembuatan briket eceng gondok. Dibandingkan dengan briket tempurung kelapa, briket eceng gondok memiliki residu yang lebih sedikit dan panas yang tahan lama. Dengan keunggulan tersebut, produk ini diharapkan mampu bersaing di pasar global.
Tak hanya itu, warga Desa Bulungcangkring bisa menekuni pemanfaatan eceng gondok sebagai briket. Adanya usaha ini akan membuka komoditas baru di desa. Dengan begitu, lapangan pekerjaan juga semakin luas. Eceng gondok pun tak lagi dianggap sebagai gulma, tapi sebagai peluang usaha yang menjanjikan.
ADVERTISEMENT
Penulis : Laili Ayu, Mahasiswa Bahasa dan Sastra Indonesia, Universitas Negeri Semarang.