Romeo and Juliet Pada Kisah Mahabharata

Mahasiswa Sastra Indonesia, Universitas Pamulang
Tulisan dari Laily Anggraini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Jauh sebelum abad-21, istilah cinta mati sudah ada di ratusan tahun yang lalu. Cinta mati atau cinta sehidup-semati adalah fenomena di mana seseorang merasa sangat jatuh cinta pada pasangannya. Cinta tersebut membutakan dirinya sendiri, ia bahkan rela berkorban untuk pasangannya. Namun, terkadang banyak cinta yang berakhir tak bahagia. Cinta yang berakhir menyedihkan.
Cinta buta akan membuat seseorang selalu ingin bersama-sama dan bahkan menghasilkan buah cinta mereka. Namun, terlalu mencintai seseorang pun tidaklah baik. Terlalu mencintai seseorang akan membuat seseorang terlalu bergantung kepada pasangannya dan kemungkinan ia akan mengalami depresi ketika ia berpisah kepada pasangannya.
Fenomena cinta mati ini terjadi pada epos Mahabharata yang ditulis oleh Nyoman S. Pendit. Fenomena cinta buta tersebut hadir pada bagian 10 yang berjudul ‘Pandawa Lahir Di Hutan.” Kisah ini adalah sebuah kisah yang tragis. Kisah ini menceritakan mengenai Pandu yang memiliki dua istri cantik yaitu Dewi Madri dan Dewi Kunti.
Kisah memilukan ini terjadi karena kutukan sang resi yang dibunuh Pandu, ketika sang resi itu berwujud kijang. Kutukan sang resi adalah Pandu akan mati setelah ia bercinta dengan pasangannya. Maka sejak saat itu Pandu tidak bercinta dengan siapa pun. Namun, demikian ia meminta kepada dua istrinya untuk memberikannya anak. Dua istri Pandu tersebut meminta para dewa untuk membuat mereka hamil. Sang Dewa pun mengabulkan permintaan mereka dan lahirlah 3 orang anak laki-laki dari Dewi Kunti dan Dua anak perempuan dari Dewi Madri.
Kelima anak tersebut disebut dengan pandawa, anak-anak tersebut bukanlah sembarang anak. Mereka memiliki kemampuan hebatnya masing-masing. Hidup di hutan membuat mereka pun semakin hebat daripada anak-anak lainnya. Suatu hari, Pandu tidak tahan melihat Dewi Madri yang sangat cantik dan penuh dengan pesona. Mereka bercinta, Dewi Madri tak kuasa menahan karena ia pun menyukai hal itu. Tepat setelah kejadian itu, Pandu meninggal dunia. Kutukan tersebut ternyata masih ada.
Dewi Madri sangat sedih dan juga merasa bersalah. Ia meminta maaf kepada Dewi Kunti karena telah membuat suaminya meninggal. Kemudian ia menitipkan dua anak kembarnya pada Dewi Kunti. Dewi Madri pun melakukan satya, satya adalah prosesi membakarkan diri pada perapian mayat Pandu. Kisah cinta yang tadinya indah berujung tragis, mereka mati berdua dan meninggalkan anak-anak serta Dewi Kunti.
Kisah cinta tak selamanya indah, namun Dewi Kunti memilih untuk ikhlas dan membesarkan kelima anaknya dengan penuh akan kasih sayang. Cinta tidak selamanya indah, pada akhirnya cinta akan membuat siapa pun merasakan duka.
Seperti kisah ini, Dewi Kunti ditinggalkan oleh suaminya. Suaminya yang meninggal karena kutukan, kemudian Dewi Madri yang rela mati demi orang ia cintai. Mereka berdua terlihat sangat egois, namun Dewi Kunti sadar jika ia ikut mati bersama dua orang itu, siapakah yang akan menjaga kelima orang anak yang masih membutuhkan kasih sayang darinya.
