ODGJ yang Dianiaya 4 Anak dan Perjalanan Sunyi Mengubah Stigma Kesehatan Mental

Lulusan Psikologi tapi senang ngomongin bisnis, perempuan, dan isu sosial problematik lainnya.
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Lala Choirunnisa tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Rabu, 14 Juni 2023 sore, grup WhatsApp keluarga saya digemparkan oleh foto penampakan mayat laki-laki dengan kondisi mengerikan. Kita semua penasaran siapa identitas mayat tersebut, karena kebetulan lokasi penemuannya dekat dengan tempat tinggal keluarga saya. Belum sampai 24 jam berlalu, ada keterangan resmi dari polisi tentang tersangka pembunuhan mayat laki-laki tersebut.
Tidak kalah gempar dengan hari kemarin, ternyata tersangka adalah empat pelaku yang masih duduk di bangku SD dan SMP! Berdasarkan rilis Satreskrim Polres Lebak, diketahui mayat laki-laki tersebut merupakan seorang ODGJ.
ODGJ tersebut dianiaya oleh empat pelaku di bawah umur selama berhari-hari hingga tewas. Diketahui motif dari penganiayaan tersebut adalah karena salah satu pelaku dendam pernah dilempari batu oleh korban hingga mengenai punggung dan sepeda motornya. Sampai rilis tersebut dipublikasikan, belum diketahui identitas korban sehingga polisi menyebutnya sebagai Mr.X.
Betapa bejat yang dilakukan anak-anak tersebut sehingga netizen langsung ramai merujak berbagai hal yang diasumsikan jadi penyebab anak sepolos itu memiliki ide sadis untuk menganiaya ODGJ—pola asuh orang tua yang salah, YouTube, TikTok.
Ada juga golongan netizen lain yang menuntut hukuman seberat-beratnya untuk tersangka, minta identitas tersangka dibongkar ke publik, hingga minta orang tuanya juga ikut diadili atas kasus ini.
Di tengah-tengah ramainya kasus ini, ada satu faktor pendorong kejadian ini yang menurut saya luput dari pembicaraan, yaitu tentang stigma terhadap kesehatan mental.
Harapan Hidup yang Terbuang Sia-sia karena Stigma
Mengutip dari Kamus Psikologi American Psychological Association, stigma adalah sikap negatif yang ditujukan ke karakteristik seseorang yang dianggap sebagai ‘kekurangan’ mental, fisik, atau sosial. Individu dengan mental disorder rentan menerima stigma dari orang-orang di sekitarnya.
Terlebih orang-orang yang memiliki gangguan skizofrenia. Sebagai mental disorder yang sering sekali disalahpahami, orang dengan skizofrenia sering dikira sebagai orang gila, sinting, dan berbahaya sehingga alih-alih mendapatkan perawatan profesional, orang dengan skizofrenia malah dikucilkan, dibuang, dipasung, bahkan diperlakukan seperti layaknya bukan manusia.
Begitu pun yang terjadi dengan Mr.X. Dari pembicaraan dengan orang tua saya pasca kejadian ini diberitakan di mana-mana. Ternyata, Mr.X dikenal sebagai ODGJ yang galak.
Tidak ada yang tahu siapa nama dan asalnya, namun orang lokal tahu bahwa Mr.X sering mengamuk tanpa alasan yang jelas dan melempari pengguna jalan dengan bebatuan. Begitu malang nasib Mr.X. Bukannya mendapatkan perawatan ahli, malah bertemu dengan anak-anak bejat yang menghilangkan nyawanya.
Stigma membuat kita menganggap ODGJ berbahaya, padahal mereka lebih sering menjadi korban kekerasan daripada pelaku. Stigma membuat ODGJ itu sendiri menganggap hidup mereka tidak berguna atau berbahaya sehingga menghambat mereka untuk mencari bantuan profesional. Stigma membuat sedikit dari kita yang tahu bahwa ODGJ dapat melakukan aktivitas normal di lingkungannya dengan perawatan yang tepat.
Sejauh Mana Dampak Kampanye Kesehatan Mental yang Kita Lakukan Selama Ini?
Di tengah-tengah maraknya pembicaraan tentang kesehatan mental, ternyata skizofrenia masih banyak luput dari pembicaraan. Atau sebenarnya meningkatnya kesadaran terhadap kesehatan mental hanya terjadi di kota-kota besar saja?
Entah mana yang paling menggambarkan realita yang sebenarnya. Namun yang jelas, kita semua bertanggung jawab dalam mengubah stigma masyarakat terhadap kesehatan mental, terutama ODGJ.
Terlalu lama jika kita hanya menunggu jumlah Psikolog klinis di Indonesia bertambah dan merata. Terlalu naif juga kita semua menyerahkan permasalahan edukasi ini kepada instansi yang terkait. Ini tugas kita semua untuk mulai mengubah pola pikir, mencoba memahami skizofrenia tanpa stereotip, dan juga yang paling penting meningkatkan kesadaran kesehatan mental ini di kalangan anak-anak.
Kita sebagai bagian dari masyarakat memiliki peran yang sangat penting untuk mencegah kasus Mr. X tidak terulang kembali di masa depan. Mengubah stigma kesehatan mental tidak boleh lagi menjadi perjalanan sunyi, persoalan itu harus menjadi perjalanan bersama–setiap orang sadar, setiap orang tahu, bagaimana menyikapi dan merespons persoalan tersebut.
DISCLAIMER: tulisan ini berfokus kepada dampak stigma terhadap orang dengan gangguan kesehatan mental tanpa bermaksud mendiskreditkan atau bersikap insensitif dengan penganiayaan yang dilakukan pelaku di bawah umur yang terjadi.
