Konten dari Pengguna

Murni Sebuah Kesadaran, Bukan Kekecewaan

Lalita

Lalita

Sederhana itu pilihan!

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Lalita tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Murni Sebuah Kesadaran, Bukan Kekecewaan
zoom-in-whitePerbesar

Bersama Institut Harkat Negeri (IHN), Sudirman Said ingin memberikan sumbangsih kepada negara, terutama tentang kepemimpinan dan bagaimana pemuda mempunyai kesadaran untuk ikut terjun dan mengambil peran secara langsung, terutama dalam pentas politik.

Sudirman Said, bersama kawan-kawannya, ingin agar pemimpin masa depan diisi dengan sosok yang tangguh, berintegritas, dan baik. Acuh terhadap politik, adalah bagian dari masalah itu sendiri. Sebab, banyak hal (jika tidak ingin dikatakan segala hal) yang lahir melalui proses politik, bahkan harga cabai dan bawang sekalipun!

Suatu kali, ketika melihat pemimpin-pemimpin nasional mengalami dekadensi, bahkan rupanya banyak terlibat kasus koruptif dan perilaku kriminal, Sudirman Said mulai berpikir, bahwa upayanya bersama kawan-kawannya di IHN menemukan momentum. Miris ketika peta politik dan kepemimpinan nasional diisi dengan orang-orang yang tidak berintegritas, apalagi ikut masuk dalam permainan para “pemburu rente”.

Sehingga, Sudirman Said mendorong kepada siapapun mereka yang jujur, berintegritas, dan pekerja keras untuk terjun langsung merasakan “perjuangan” di medan, berkecimpung dengan politik, dan tak lagi menjadi pengamat yang produktif tapi miskin aplikasi.

Namun, ada hal yang tak mengenakkan hatinya. Paradoks. Ketika Sudirman Said gigih dan semangat untuk melahirkan pemimpin-pemimpin sebagai regenerasi dari “masa-masa suram”, ia mulai berpikir, kenapa tidak dirinya sendiri yang terjun langsung? Ini bukan hanya soal “keraguan” semata, tapi rasa tidak enak hati ketika hanya pandai menyarankan, tapi tidak melaksanakan.

Maka, ketika melihat situasi di Jawa Tengah yang tidak membahagiakan, berbagai ketimpangan masih ditemui, dan kesejahteraan masih jauh panggang dari api, Sudirman Said lalu memantapkan diri untuk ikut berkompetisi dalam kontestasi Pilkada di Jawa Tengah. Artinya, Sudirman Said memastikan untuk ikut masuk dalam bursa pencalonan adalah hasil dari kesadaran yang murni kesadaran. Kesadaran dan keterpanggilan untuk sebisa mungkin mengabdi di “jalan baru”, sekaligus momentum untuk menambah ladang amal.

Jadi, merupakan pendapat yang serampangan ketika pencalonan Sudirman Said (selalu) dikaitkan dengan kekecawaan, terutama karena “dicukupkan” menjadi menteri. Banyak orang-orang yang nyinyir terhadapnya, atau minimal menganggap terlalu GR karena kemenangan Anies Baswedan di Jakarta, bahkan ada “tuduhan” untuk men-Jakartakan Jawa Tengah karena dianggap akan memainkan isu-isu primordial dan rasial.

Bahkan ketika Sudirman Said mencuitkan nada kritis terhadap fenomena yang terjadi, terutama soal Setya Novanto dan penggembosan KPK, banyak tanggapan yang bernada nyinyir dengan mengaitkan hal itu pada rasa sakit hati karena “dibuang” Jokowi.

“Janganlah. Jangan selalu dikaitkan dengan sesuatu yang tidak terkait. Itu pendidikan politik yang tidak baik. Untuk apa saya kecewa? Saya telah dianugerahi banyak kesempatan oleh Negara. Saya bersyukur untuk itu. Soal cuitan saya di twitter, itu biasa. Bahkan ketika masih menjadi Menteri-pun, Saya biasa kritis kalau berkaitan dengan moral,”. Jawabnya suatu ketika dalam sebuah wawancara.

Artinya, kemantapan niat Sudirman Said untuk “turun gunung” dan secara pasti mengutarakan niatnya untuk maju dalam kontestasi Gubernur Jawa Tengah, itu adalah murni hasil dari keterpanggilan dan kesadaran. Tak perlu dikaitkan dengan sesuatu yang secara “membabi buta” dituduhkan sesuai keinginan.

Karena kesadaran itu pulalah, kita bisa melihat Sudirman Said sebagai calon yang paling aktif turun lapangan. Puluhan kota/kabupaten sudah disambanginya untuk melakukan silaturrahmi dengan masyarakat secara langsung. Tinggal menunggu kepastian, koalisi partai manakan yang akan meminangnya.