Konten dari Pengguna

Orang Baik (Harus) Berpolitik: Sudirman Said

Lalita

Lalita

Sederhana itu pilihan!

clock
comment
5
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Lalita tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Orang Baik (Harus) Berpolitik: Sudirman Said
zoom-in-whitePerbesar

Sebuah diktum lama berkata, “… orang baik akan melahirkan kebaikan…”. Artinya, sederhana saja, kalau ingin semuanya berjalan baik, maka pasrahkanlah segala sesuatunya untuk dikerjakan oleh orang baik. Baik secara keilmuan, pengalaman, dan tentu saja yang lebih penting adalah perilaku (attitude). Termasuk juga baik mempunyai arti tepat, benar, dan ahli.

Dalam hadis dikatakan, “jika sesuatu dipasrahkan pada yang bukan ahlinya, maka tunggulah saat (kehancurannya)”. Kemudian kita mengenal istilah “The right man on the right place”. Begitu juga dalam konteks politik.

Masalahnya sekarang adalah, terjadi paradoks yang nyata dalam dunia perpolitikan kita dimana mereka yang tidak baik, justeru banyak bergentayangan. Posisinya pun sangat tragis sebagai penentu nasib bangsa ke depan. Dari mana melihat tidak baik? Mudah saja, tinggal kita ingat-ingat dan buka memori kita, akan ditemukan banyak cerita bagaimana para politisi, pejabat banyak yang diciduk KPK atau melakukan tindakan amoral serta perilaku kriminal lainnya.

Tak usah terlalu jauh mengingat, tinggal lihat saja sebuah fakta yang aneh (untuk tidak dikatakan gila) bagaimana seorang tersangka masih dengan senyumnya memimpin lembaga negara yang terhormat sekelas DPR RI.

Masalahnya kemudian adalah, dengan segala bentuk carut-marut berpolitikan di negara kita ini, rakyat kemudian apatis dengan politik. Tingkat kepercayaan rakyat sebegitu rendahnya terhadap politikus, dan politik menjadi “barang haram” yang najis ketika disentuh. Padahal apatisme rakyat terhadap politik bisa menjadi boomerang karena hampir semua kebijakan dan kepentingan rakyat diambil melalui jalur politik.

Lalu, kalau para pengambil kebijakan itu bermasalah apakah kebijakannya tidak akan bermasalah? Kalau mereka itu bukan orang yang baik, apakah akan menghasilkan kebaikan?

Inilah yang menjadi kekhawatiran besar Sudirman Said, bahwa semakin cuek rakyat terhadap dunia politik, maka “dunia gemerlap” itu akan diisi oleh orang-orang yang tidak baik; yang ingin memperkaya diri; yang ingin gengsi; dan yang ingin dihormati. Maka, Sudirman Said selalu konsisten menyerukan kepada mereka yang baik dan berintegritas untuk ikut berperan mengangkat harkat dan martabat perpolitikan dan demokrasi.

“Orang baik yang diam akan menjadi makanan empuk penjahat yang liar”, begitu kata Sudirman Said. Maka, mestinya kondisi ini dijadikan sebagai momentum untuk bangkit memperbaiki dunia politik di negara tercinta ini. Orang baik harus ikut turun tangan, atau terjun langsung ke dunia praktis sekalian. Tak kalah pentingnya, bagi Sudirman Said, adalah pendidikan politik untuk memilih calon wakil yang baik. Jangan lagi menggadaikan masa depan bangsa hanya karena money politic, yang tak seberapa jumlahnya tapi luar biasa dosanya dan akibatnya.

Sebagai cara untuk mengembalikan kepercayaan publik terhadap dunia perpolitikan yang kian hari kian kusut, penting sekali peran orang-orang baik yang mempunyai niat ikhlas dan tulus untuk membangun negeri, bukan merajakan diri. Mereka, dengan moral, ilmu, dan pengalaman yang baik akan membawa bangsa ini menuju kebaikan dan kemajuan. Sehingga, tak ada lagi pejabat publik dan politisi kita yang mempertontonkan perilaku negatif di ruang publik.

Sudirman Said telah memulai itu.