Alasan Kunang-kunang Suka Mengedipkan Cahayanya Secara Serentak

Edison 9955 kali gagal menemukan lampu pijar yang menyala. Jika ia berhenti di percobaan ke 9956, mungkin sekarang kita tidak akan punya lampu.
Tulisan dari Lampu Edison tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Selama berabad-abad, manusia di seluruh dunia bertanya-tanya bagaimana kumbang dapat mengkoordinasikan cahaya mereka. Beberapa orang meyakini bahwa fenomena tersebut dipengaruhi oleh angin, dan sebagian lainnya menganggapnya sebagai kebetulan belaka. Namun, pada tahun 1917 Seorang peneliti mengatakan bahwa cahaya yang harmonis itu merupakan ilusi yang dihasilkan oleh kedipan mata orang yang melihatnya.
Sejak saat itu, berbagai penelitian membuktikan bahwa sinkronisasi pada kunang-kunang nyata dan bukan ilusi. Namun, mekanisme terjadinya peristiwa tersebut masih sulit dipahami.
Dilansir dari situs science alert, saat ini peneliti telah mendapatkan sedikit titik terang di balik sinkronisasi cahaya pada kunang-kunang.
Dalam studi terbaru yang dipublikasikan di Journal of the Royal Society Interface, peneliti berhasil menemukan rekonstruksi tiga dimensi dari kedipan sinkron kunang-kunang yang terjadi dalam kelompok.
Awalnya, tim yang dipimpin oleh fisikawan Raphaël Sarfati dari University of Colorado Boulder (CU Boulder) penasaran, apakah ada sesuatu dalam kunang-kunang yang membuat mereka melakukan sinkronisasi, atau mungkin ada faktor lingkungan di balik fenomena tersebut.
Untuk membuktikan rasa penasaran mereka, tim melakukan eksperimen sederhana. Mereka mengambil video stereoskopis dari sekelompok kunang-kunang Amerika utara (Photinus carolinus) di Taman Nasional Pegunungan Great Smoky di Tennessee, dan merekonstruksi kedipan cahaya dalam ruang tiga dimensi.
Pengumpulan data dilakukan pada Juni tahun lalu. Sarfati dan rekan-rekannya mendirikan tenda dan memasang dua kamera 360 di lokasi observasi.
Berdasarkan rekaman yang diperoleh, peneliti menemukan bahwa tidak ada ritme bawaan kunang-kunang yang aneh; sebaliknya, mereka melakukan sinkronisasi dengan meniru kunang-kunang lain di sekitarnya.
Mereka merekam aktivitas kawin (mating) selama sekitar 90 menit sehari (setelah matahari terbenam). Mereka juga mengambil video ketika kunang-kunang mulai bercahaya, lalu berkedip dalam pola berulang.
Peneliti mengamati bahwa dalam satu kelompok, awalnya kunang-kunang melakukan kedipan pendek, lalu jeda beberapa detik dan muncul lebih banyak lagi kedipan dari rekan mereka yang lain. Saat mereka bersinkronisasi, cahayanya tampak seperti gelombang.
Tim juga melihat bahwa gerombolan kunang-kunang tetap berada dalam jarak sekitar dua meter dari tanah, dan bentuk gerombolan itu mengikuti bentuk medan.
Ketika peneliti mengisolasi serangga secara individu di tenda, mereka menemukan bahwa kunang-kunang tersebut kehilangan semua ritme yang terjadi di luar. Mereka berkedip secara sporadis, sama sekali tidak sinkron dengan anggota kelompoknya.
Fakta yang lebih menarik adalah ketika beberapa kunang-kunang ikut dimasukkan ke tenda. Hingga sekitar 15 kunang-kunang yang dimasukkan, kedipan masih tidak menentu. Tetapi saat jumlahnya ditambah menjadi 20 ekor, mereka mulai menunjukkan kedipan yang sinkron.
Menurut tim, ini menunjukkan bahwa sinkronisasi bersifat sosial. Kunang-kunang melihat apa yang dilakukan oleh rekan-rekan di dekatnya, dan merespons dengan cara yang sama, yaitu menghasilkan gelombang cahaya, mirip gelombang yang dihasilkan penonton dalam stadion.
Alasan terkait perilaku kunang-kunang ini masih menyisahkan tanda tanya. Ada satu teori yang menyebutkan bahwa sinkronisasi terjadi karena interval kegelapan sehingga memungkinkan pejantan untuk menemukan kedipan betina yang lebih redup saat mereka merespons kedipan cahaya di sekitarnya.
Akan tetapi, pemodelan matematis dari penelitian ini akan menjadi metode yang penting untuk mempelajari pola kedipan cahaya spesies kunang-kunang lainnya. Fenomena ini juga dapat membantu dalam memahami contoh sinkronisasi lainnya di alam.
Fisikawan Orit Peleg dari CU Boulder menjelaskan bahwa sinkronisasi semacam ini banyak terjadi di alam. Contohnya, sel-sel di hati yang lentur dan berkontraksi secara serentak. Neuron di otak kita juga melakukan sinkronisasi.
Sinkronisasi sangat penting dalam teknologi, seperti komunikasi radio, GPS, komputasi paralel, dan yang sedang berkembang adalah swarm robotics, di mana segerombolan robot kecil dapat disinkronkan untuk bekerja sama dalam melakukan suatu tugas.
sumber:
https://www.sciencealert.com/fireflies-synchronise-their-flashing-butts-by-watching-other-fireflies
https://royalsocietypublishing.org/doi/10.1098/rsif.2020.0179#d1e301
