Konten dari Pengguna

Apakah Vitamin C Bisa Meningkatkan Kekebalan Tubuh Terhadap Virus Corona?

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Lampu Edison tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi virus corona. Foto: kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi virus corona. Foto: kumparan

Beberapa dari kita mungkin percaya bahwa salah satu cara mencegah tertularnya Virus Corona adalah dengan mengkonsumsi jus jeruk dan suplemen yang kaya akan Vitamin C. Namun, apakah vitamin C efektif menangkal Virus Corona?

Beberapa penelitian menyebutkan bahwa vitamin C tidak efektif melawan Virus Corona. Ketika menderita pilek, banyak orang menenggak dan menelan suplemen vitamin C untuk meningkatkan sistem kekebalan tubuh mereka.

Tetapi suplemen vitamin C tidak menangkal pilek pada kebanyakan orang, dan masih sedikit bukti yang menunjukkan bahwa vitamin C memberikan efek kekebalan terhadap SARS-CoV-2, virus yang menyebabkan COVID-19.

Dr. William Schaffner, seorang profesor dalam bidang preventive medicine and infectious diseases di Vanderbilt University Medical Center di Tennessee, mengatakan kepada New York Times bahwa tidak ada bukti yang menunjukkan bahwa suplemen vitamin C dapat membantu mencegah COVID-19.

Dilansir dari Live Science, Vitamin C yang juga disebut sebagai asam askorbat, dikenal sebagai super nutrien peningkat kekebalan. Hal ini semakin diperkuat setelah dua kali pemenang Hadiah Nobel, Linus Pauling, memuji manfaat zat tersebut dalam serangkaian buku.

Ilustrasi vitamin C tambahan Foto: dok.shutterstock

Pauling mengklaim bahwa mengkonsumsi vitamin C dalam dosis besar tidak hanya dapat mencegah pilek, tetapi juga membantu mencegah penyakit yang lebih parah seperti kanker dan penyakit jantung.

Penelitian terbaru menunjukkan bahwa suplemen vitamin C dapat mengurangi durasi pilek pada populasi umum. Ulasan tersebut menemukan bahwa suplemen vitamin C yang dikonsumsi saat pilek dapat mengurangi durasi penyakit hingga 8% pada orang dewasa dan 14% pada anak-anak.

Secara praktis, itu berarti bahwa suplemen vitamin C dapat mempersingkat durasi pilek sekitar satu hari. Dosis vitamin C harian yang digunakan dalam setiap studi tersebut adalah sekitar 200 miligram.

Beberapa studi juga melibatkan orang-orang yang beraktifitas di bawah tekanan fisik yang hebat, seperti pelari maraton dan pelatihan tentara di Kutub Utara. Di antara orang-orang ini, sekitar setengah dari mereka yang mengonsumsi vitamin C, cenderung terkena pilek dibandingkan mereka yang tidak mengkonsumsi suplemen tersebut. Pada populasi umum, ditemukan bahwa suplemen tidak mampu mencegah pilek.

Meskipun tidak dapat menangkal pilek, vitamin C tetap penting bagi kesehatan kita. Menurut sebuah laporan pada tahun 2017 dalam jurnal Nutrients, vitamin C berperan penting dalam tubuh manusia dan mendukung fungsi kekebalan tubuh normal.

Vitamin C juga bertindak sebagai antioksidan, yang menetralkan radikal bebas yang dihasilkan oleh metabolisme normal tubuh dan oleh paparan dari lingkungan, termasuk radiasi ultraviolet dan polusi udara. Radikal bebas adalah partikel bermuatan yang dapat merusak sel, jaringan dan bahan genetik, jika dibiarkan, hal ini dapat memicu peradangan berbahaya.

Selain menghentikan radikal bebas, vitamin C juga membantu mengaktifkan beberapa enzim kunci dalam tubuh, yang selanjutnya mensintesis hormon dan menyusun kolagen. Hormon-hormon ini membantu mengendalikan respons sistem kardiovaskular terhadap infeksi berat, sementara itu, kolagen membentengi kulit dari cedera.

Vitamin C juga dapat meningkatkan membran lemak di kulit dan jaringan ikat, sehingga melindungi organ-organ seperti paru-paru dari patogen. Ketika terjadi infeksi, vitamin C membantu mengarahkan sel-sel kekebalan yang disebut neutrofil ke tempat infeksi dan membela sel-sel ini dari radikal bebas.

Singkatnya, tubuh mengandalkan vitamin C untuk mengeluarkan respons imun yang efektif sambil menjaga agar kerusakan yang terjadi lebih ringan. Namun, tubuh tidak dapat membuat vitamin C sendiri atau menyimpan nutrisi secara efisien, karena menurut National Institutes of Health (NIH), vitamin yang larut dalam air akan larut begitu dicerna dan diekskresikan dalam urin. Cara terbaik untuk memenuhi kebutuhan harian kalian adalah dengan mengonsumsi buah-buahan, sayuran, dan makanan yang diperkaya vitamin.

Dosis yang dianjurkan tergantung pada usia, jenis kelamin, kehamilan dan status menyusui, tetapi secara umum, pria dewasa disarankan untuk mengonsumsi setidaknya 90 miligram (mg) sehari, dan wanita dewasa harus mengonsumsi setidaknya 75 mg. Orang yang merokok harus menambahkan 35 mg ke dosis yang direkomendasikan, karena merokok menghabiskan vitamin C dalam tubuh.

Dilaporkan bahwa dosis vitamin C yang tinggi, melebihi level 2.000 mg sehari, dapat menyebabkan mual, diare, dan sakit perut pada kebanyakan orang. Stephen Lawson, seorang peneliti di Linus Pauling Institute di Oregon State University, menjelaskan kepada Live Science bahwa pria yang memiliki riwayat batu ginjal dan kadar oksalat yang tinggi di dalam tubuh harus menghindari suplemen dengan vitamin C, karena zat tersebut dapat meningkatkan pembentukan jenis batu tersebut.

Nah, sambil menunggu penemuan terkait obat atau vaksin yang mampu melawan Virus Corona, tidak ada salahnya agar kita selalu menjaga kebersihan diri dan pola makan agar kesehatan tubuh tetap terjaga, karena mencegah lebih baik daripada mengobati.

Ilustrasi : Jeruk yang mengandung vitamin C. Sumber Gambar : Pixabay

Sumber: https://www.livescience.com/coronavirus-vitamin-c-myth.html