Tekno & Sains17 September 2020 19:11

Bagaimana Manusia mengawetkan Makanan Secara Tradisional - Bagian 1

Konten kiriman user
Sebelum adanya bahan-bahan pengawet modern, atau mesin yang digunakan untuk mengawetkan makanan seperti lemari pendingin atau lemari pembeku, manusia telah menggunakan berbagai macam metode dan bahan-bahan tradisional untuk menyimpan makanan. Metode-metode tradisional ini menggunakan bahan-bahan yang mudah dan murah ditemukan. Karena inilah metode-metode pengawetan tradisional ini yang masih dilestarikan dan digunakan hingga saat ini. Apa saja ya cara-cara pengawetan makanan tradisional ini? Dan bagaimana penjelasan sains dibaliknya yang menyebabkan makanan menjadi lebih awet?
ADVERTISEMENT
Pengasapan
Manusia telah menggunakan metode pengasapan untuk mengawetkan makanan seperti daging, ikan bahkan sayur dan buah. Pengasapan adalah metode pengawetan bahan makanan segar dengan cara diasapi. Asap yang digunakan dapat berupa asap dari pembakaran berbagai jenis kayu atau tempurung kelapa. Aroma yang dihasilkan dari pengasapan akan sangat beragam tergantung dari jenis bahan bakar yang digunakan. Asap terbentuk akibat interaksi uap air, gas dan partikel-partikel kecil di udara.
Ketika kayu atau tempurung kelapa dibakar, gas nitrogen dioksida dihasilkan. Kemudian molekul gas ini menumbuk permukaan daging atau bahan makanan yang sedang diawetkan sehingga ikatan oksigennya terlepas. Ketika bahan makanan melepaskan molekul oksigennya, ikatan molekul makanan tersebut mencari molekul baru agar menjadi stabil kembali. Yang ditemukan adalah molekul myoglobin. Molekul myoglobin ini kemudian terikat dengan molekul-molekul yang ada pada makanan dan membawa rasa asam serta aroma pengasapan masuk ke dalam makanan.
Bagaimana Manusia mengawetkan Makanan Secara Tradisional - Bagian 1 (612400)
Proses pengasapan daging. Sumber: Pixabay
Teknik pengasapan sendiri ada berbagai macam. Ada pengasapan yang dilakukan pada suhu rendah, dan ada pula yang dilakukan pada suhu tinggi. Selain itu waktu pengasapan juga sangat bervariasi, ada yang dilakukan dalam hitungan jam, hari bahkan minggu. Lamanya waktu pengasapan bergantung pada jenis bahan makanan yang diasapi, teknik pengasapan hingga jenis bahan bakar untuk pengasapan. Salah satu contoh makanan khas Indonesia yang diproses menggunakan teknik pengasapan adalah Se’i daging yang berasal dari Nusa Tenggara Timur
ADVERTISEMENT
Pengeringan
Sinar matahari merupakan sumber energi yang melimpah dan bisa didapatkan di mana saja terutama di daerah lintang rendah dengan iklim tropis, di mana lama penyinaran matahari relatif sama sepanjang tahun. Atau pada musim panas di lintang tinggi ketika lama siang hari lebih panjang dibandingkan pada musim-musim yang lain. sehingga pengawetan makanan dengan pengeringan menggunakan sinar matahari sangat lumrah digunakan oleh masyarakat dari berbagai penjuru dunia. Bahan makanan yang dikeringkan dapat berupa daging, buah-buahan maupun sayur-sayuran. Daging yang akan dikeringkan biasanya diiris tipis-tipis kemudian dibumbui atau digarami dan diletakkan dibawah sinar matahari seperti pembuatan dendeng daging.
Bagaimana Manusia mengawetkan Makanan Secara Tradisional - Bagian 1 (612401)
Buah-buahan yang dikeringkan. Sumber: Pixabay
Ketika bahan makanan dikeringkan dengan sinar matahari kandungan airnya berkurang dan suhunya meningkat sehingga dapat menurunkan aktivitas hingga membunuh mikroba yang secara alami ada pada setiap bahan makanan. Mikroba-mikroba ini yang mulanya dapat mempercepat proses pembusukan atau kerusakan bahan makanan. Karakteristik bahan makanan yang dikeringkan akan berubah seperti ukurannya menjadi menyusut, teksturnya berkerut dan keras atau lebih kenyal dan berwarna lebih gelap. Namun berdasarkan hasil penelitian, pengeringan tidak mengurangi nutrisi yang dikandung oleh bahan makanan tersebut.
ADVERTISEMENT
Pengasinan
Pemberian garam juga merupakan metode yang dapat digunakan untuk mengawetkan bahan makanan. Contoh bahan makanan khas Indonesia yang digarami selama diawetkan adalah ikan asin—yang juga dikeringkan dengan sinar matahari, dan telur asin—telur bebek yang dibalut dengan bubur lumpur bergaram yang dapat bertahan lebih lama dari telur bebek biasa.
Bagaimana Manusia mengawetkan Makanan Secara Tradisional - Bagian 1 (612402)
Telur bebek yang telah diasinkan. Sumber: Pixabay
Pada saat telur bebek diasinkan, garam yang berasal dari bubur lumpur masuk ke dalam cangkang telur yang berpori. Molekul garam kemudian berdifusi ke dalam putih telur kemudian kuning telur. Proses ini menyebabkan kandungan air berdifusi ke arah sebaliknya dari kuning telur ke putih telur hingga keluar cangkang telur. Pengurangan kadar air dari proses pengasinan ini menjadikan telur lebih awet karena berkurangnya mikroba yang menyebabkan pembusukan. Selain telur sayuran dan buah-buahan juga banyak diasinkan agar dapat disimpan lebih lama.
ADVERTISEMENT
Sumber: 1, 2, 3, 4, dan 5.
Tulisan ini adalah kiriman dari user, isi tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan
sosmed-whatsapp-whitesosmed-facebook-whitesosmed-twitter-whitesosmed-line-white