kumparan
11 Jan 2019 7:08 WIB

Benarkah Sidik Jari Benar-benar Dapat Mengungkap Identitas Seseorang?

Sidik jari pada manusia mengalami perubahan dari waktu ke waktu
ADVERTISEMENT
Dalam film-film fiksi bertema kriminal, sidik jari yang tertinggal pada benda-benda atau lokasi tertentu biasanya dapat membantu dalam mengungkap pelaku kejahatan. Padahal faktanya, menurut penelitian yang diterbitkan dalam Proceedings of the National Academy of Sciences, tertanggal 14 Juli 2015, ditemukan bahwa identifikasi sidik jari yang dilakukan pada dua pasang cetakan dengan interval waktu berbeda semakin menunjukkan hasil yang tidak mendukung dari waktu ke waktu. Hal ini menjadi pertanda jika tonjolan pada ujung jari seseorang sesungguhnya dapat sedikit berubah sepanjang kehidupan seseorang. Meski demikian, untuk mengidentifikasi seseorang yang masih hidup atau individu yang baru saja mati (kondisi tubuh terpelihara dengan baik) melalui sidik jarinya, cara ini masih sangat dapat diandalkan. Lalu bagaimana dengan sidik jari orang yang sudah meninggal? Apakah masih bisa berubah? Berapa lama setelah kematian sidik jari terus masih bisa digunakan untuk identifikasi?
ADVERTISEMENT
Memang, tugas mendeteksi melalui sidik jari akan menjadi lebih sulit ketika terjadi pembusukan, pengeringan, atau terendam dalam air sehingga kulit menjadi melembek. Tapi bukan berarti tidak mungkin untuk mendeteksi sidik jari. Pada kasus orang mati, mungkin perlu adanya paksaan untuk meluruskan jari-jari yang kaku dari kondisi rigor mortis (kekakuan mayat). Berdasarkan chapter buku berjudul “Recording Living and Postmortem Friction Ridges Exemplars”, para ahli menggunakan alat khusus berbentuk melengkung agar sidik jari dapat diambil tanpa perlu menggulung ujung jari. Penguji medis melalui operasi dapat mengangkat tangan atau jari dari orang yang mati tersebut untuk dikirim ke laboratorium yang menerapkan teknik-teknik mutakhir. Sementara untuk kulit yang rusak parah, dapat menggunakan dempul silikon untuk membuat cetakan yang mampu menangkap tonjolan sidik jari secara mendetail. Jejak tersebut dapat dipotret untuk kemudian digunakan dalam mengidentifikasi seseorang.
ADVERTISEMENT
Dalam kajian yang diterbitkan pada 5 November 2013 dalam GMS Interdisciplinary Plastic and Reconstructive Surgery DGPW, para ilmuwan memperhatikan efektivitas suatu teknik yang disebut pemrosesan thanatopractical, dimana cairan diekstrak dari bagian tubuh lain yang tersisa. Tujuannya untuk digunakan dalam mengembalikan kepadatan dan volum jari-jari, sehingga jari-jari kembali terisi dan memungkinkan proses pencetakan sidik jari. Dari 400 tubuh dengan beragam tingkat kebusukan, cara ini memungkinkan diperolehnya sidik jari yang dapat diserahkan kepada Sistem Identifikasi Federal Otomatis pada sekitar ¾ kasus yang dilaporkan. Untuk jangka waktu berapa lama sidik jari dari orang yang telah meninggal dapat digunakan, sayangnya belum mendapat banyak para peneliti yang mengkajinya. Namun, sebuah studi yang diterbitkan pada 22 Desember 2016 dalam IEEE Xplore, serta di tahun 2017 dalam artikel USA Today dijelaskan bahwa data biometrik yang diperoleh dari orang yang telah meninggal dapat digunakan hingga 4 hari di udara hangat dan selama-lamanya 50 hari saat musim dingin.
ADVERTISEMENT
Metode mengidentifikasi pelaku kriminalitas melalui sidik jari sendiri telah diperkenalkan pada tahun 1860-an oleh Sir William James Herschel di India. Sementara penggunaan di ranah forensik untuk pertama kali dicetuskan oleh Dr. Henry Faulds di tahun 1880. Ia adalah seorang ahli bedah keturunan Skotlandia yang bekerja di Rumah Sakit Tokyo. Makalah pertamanya yang diterbitkan dalam jurnal ilmiah Nature, membahas mengenai kegunaan sidik jari untuk proses identifikasi dan mengusulkan metode untuk merekam sidik jari menggunakan tinta cetak. Faulds juga menetapkan klasifikasi pertamanya serta yang pertama mengidentifikasi sidik jari yang tertinggal dalam sebuah botol. Saat kembali ke Inggris pada tahun 1886, ia menawarkan konsep tersebut pada Metropolitan Police di London, namun mendapat penolakan pada masa itu. Faulds kemudian menulis kepada Charles Darwin lengkap dengan penjelasan metodenya, namun ia terlalu tua dan sakit-sakitan untuk menjalankannya. Kemudian Darwin memberikan informasi tersebut kepada sepupunya, Francis Galton yang tertarik akan antropologi. Terinspirasi untuk mempelajari sidik jari selama 10 tahun, Galton menerbitkan model analisis dan identifikasi sidik jari yang secara statistik lebih mendetail, serta mendorong penggunaannya dalam ilmu forensik yang tertuang dalam bukunya berjudul Finger Prints. Galton juga telah mengperhitungkan kemungkinan munculnya “false positive” (dua orang berbeda memiliki sidik jari yang sama), yaitu sekitar 1 banding 64 miliar. Kepolisian Jepang secara resmi mengadopsi sistem sidik jari yang dicetuskan Faulds pada tahun 1911.
ADVERTISEMENT
Meski demikian, jauh sebelum kehadiran metode yang dicetuskan oleh Faulds, sidik jari telah ditemukan pada catatan tanah liat, segel, dan tembikar peninggalan bangsa Babilonia kuno. Sidik jari juga ditemukan pada dinding-dinding makam orang Mesir di Minoan, Yunani, dan tembikar buatan China, serta pada batu-bata dan ubin dari Babilonia dan Roma kuno. Beberapa sidik jari tersebut disimpan secara tidak sengaja oleh para pengrajin tembikar dan tukang batu karena telah menjadi pekerjaan mereka sehari-hari, sedangkan yang lainnya dibuat selama proses penambahan dekorasi. Namun pada sebagian tembikar, terlihat sidik jari yang dicetak sangat dalam, yang kemungkinan menunjukkan kesengajaan sebagai tanda pengenal bagi para pengrajinnya. Sidik jari digunakan sebagai tanda pengenal kaum Babilonia Kuno sejak milenium kedua Sebelum Masehi. Bertujuan untuk menjaga terhadap pemalsuan, pihak-pihak yang terlibat kontrak hukum akan membubuhkan sidik jari mereka ke dalam papan tanah liat dimana kontrak tersebut tertulis. Di India Kuno, sejumlah teks yang disebut Naadi ditulis oleh seorang Rishi yang disebut Agastya dimana teks tersebut disebut dapat meramalkan kehidupan masa kini, masa depan, bahkan mengetahui masa lalu dari seluruh manusia melalui sidik pada ibu jari. Pada laki-laki digunakan ibu jari kanan, sementara perempuan diprediksi melalui ibu jari kiri. Sistem astrologi masyarakat India Kuno ini kemudian disebut dengan astrologi Nadi. Tidak hanya Babilonia dan India Kuno saja, masyarakat China secara resmi mencetakkan sidik jari mereka pada segel tanah liat yang digunakan untuk menyegel dokumen sejak tahun 246 SM. Seiring dengan munculnya sutra dan kerta di Cina, pihak-pihak yang terlibat dalam kontrak hukum selanjutnya mencetakkan tangan mereka pada dokumen.
ADVERTISEMENT
Meskipun masyarakat di zaman kuno tidak menyadari bahwa sidik jari dapat secara unik mengidentifikasi seseorang, petunjuk dari zaman raja Babilonia Hammurabi, yang memerintah pada tahun 1792 hingga 1750 SM, mengindikasikan bahwa pejabat hukum akan mengambil sidik jari dari orang-orang yang mereka tangkap. Catatan dari Dinasti Qin di Cina menunjukkan bahwa para pejabat tersebut mengambil jejak tangan, kaki, hingga jari-jari sebagai bukti dari tempat kejadian perkara (TKP). Sementara sekitar tahun 300, jejak tangan digunakan sebagai bukti dalam persidangan pencurian. Ahli sejarah China, Kia Kung-Yen, pada tahu 650 mencatat bahwa sidik jari dapat dimanfaatkan sebagai alat untuk autentikasi. Dalam Jami al-Tawarikh atau Sejarah Dunia yang ditulis tabib keturunan Persia, Rashid-al-Din Hamadani, mengacu pada praktik yang dilakukan masyarakat Cina untuk mengidentifikasi orang-orang melalui sidik jari. Ia menyebut, “Pengalaman menunjukkan bahwa tidak ada dua individu yang memiliki sidik jari benar-benar sama.”
Sumber gambar: unsplash.com/PaulGreen
ADVERTISEMENT
Tulisan ini adalah kiriman dari user, isi tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan