Berbagai Jaket Anti Peluru

Edison 9955 kali gagal menemukan lampu pijar yang menyala. Jika ia berhenti di percobaan ke 9956, mungkin sekarang kita tidak akan punya lampu.
Tulisan dari Lampu Edison tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Benarkah selalu efektif? Bagaimana cara kerjanya?
Jika kita melihat film dan melihat polisi mengenakan jaket anti peluru, bisa jadi kita penasaran seberapa amankah jaket itu. Pada tahun 2016, Joaquin Mendez yang berusia 23 tahun dan bertempat tinggal di Florida mengenakan jaket anti peluru. Ia duduk dan menunggu temannya menembakkan peluru karena ingin tahu apakah jaket anti peluru benar-benar dapat melindunginya. Hasilnya, Mendez meninggal karena percobaan itu.
Lalu apakah jaket anti peluru bisa terdegradasi seiring dengan waktu? Bagaimana jaket anti peluru bisa gagal dan tertembus?
Jaket peluru generasi pertama dibuat oleh seorang insinyur teknik kimia yang bekerja di DuPont bernama Stephanie Kwolek pada tahun 1960-an. Jaket anti peluru generasi pertama ini dibuat dari Poly-Paraphenylene terephtalamide atau memiliki nama dagang Kevlar. Saat itu DuPont telah memproduksi nylon dan spandex yang merupakan serat-serat berkualitas tinggi.
Serat sintetis terbuat dari polimer, yaitu komponen kimia disebut monomer yang direaksikan sehingga terulang membentuk rantai yang sangat panjang. Contohnya, nilon terbuat dari monomer bernama hexamethylenediamine dan asam heksanedioat (adipic acid). Selain diaplikasikan untuk membuat jaket anti peluru, kevlar juga digunakan untuk membuat ban mobil. (Howstuffworks.com)
Namun, jaket anti peluru modern banyak dibuat dari Poly-Ethylene (PE). PE adalah bahan yang sangat populer untuk membuat plastik belanja, kantong sampah, dan mainan. PE dapat digunakan sebagai bahan jaket anti peluru dengan jumlah lapisan yang sangat banyak. Membuat jaket peluru dari PE terhitung lebih murah dari kevlar, namun lebih kuat dan lebih ringan. Salah satu pembuat jaket anti peluru yang terkenal adalah DSM Heerlen, Belanda. Mereka membuat jaket anti peluru berbahan PE untuk digunakan anggota polisi. Jaket ini hanya setebal 5 mm, dan diklaim 15 kuat lebih kuat daripada baja dan jauh lebih ringan daripada kevlar.
Namun, beberapa tahun yang lalu Kementerian kehakiman Amerika Serikat melarang jaket anti peluru dengan bahan polimer. Alasannya sangat logis yaitu polimer dapat terdegradasi seiring waktu. Diantara faktor yang membuatnya cepat terdegradasi adalah air, termasuk air hujan. Saat jaket ini sudah mulai terdegradasi, tentu saja keamanan anggota polisi yang memakainya akan terancam. (newscientist.com)
Jaket anti peluru yang ideal seharusnya bisa menyerap energi dari peluru, kemudian mendistribusikan energi itu secara merata ke seluruh bagian jaket. Selama ini dengan kevlar dan PE, yang terjadi adalah jaket mementalkan peluru sehingga peluru terpental mengenai bagian lain seperti kaki. Akibatnya, timbul luka lain seperti memar di bagian kaki. Alasan inilah
Yang melatarbelakangi munculnya inovasi baru terbuat dari dari karbon nanotube. Karbon nanotube ini menarik perhatian banyak orang beberapa tahun ke belakang karena diklaim sebagai material terkeras sekaligus teringan di dunia. Secara struktur kimia, karbon nanotube masih dekat dengan graphite. Strukturnya adalah silinder tersusun atas segi enam atau heksagon yang sangat rapat satu sama lain. Struktur heksagon ini adalah struktur yang paling efektif dalam sudut pandang ilmu material karena tidak menyisakan sedikitpun celah antara satu heksagon dengan heksagon yang lain. Saat dikenai tekanan yang sangat besar termasuk peluru, maka struktur nanotube akan melengkung dan tidak putus membuat resiko jaket berlubang menjadi nol. Karbon nanotube juga memiliki elastis modulus yang sangat tinggi menjadikannya mampu menerima energi yang sangat tinggi dari peluru kemudian mendistribusikannya secara merata.
Tim yang dengan gencar meneliti tentang karbon nanotube untuk dijadikan jaket anti peluru adalah peneliti dari Centre of Advanced Material Technology, University of Sydney, Australia. Riset ini dipimpin oleh Kausala Mylvaganam and L C Zhang. Mereka meneliti jenis nanotube seperti apa yang baik untuk digunakan sebagai jaket anti peluru. Mereka menyimpulkan bahwa nanotube dengan diameter silinder yang besar dapat menahan peluru yang memiliki kecepatan sangat tinggi. Sedangkan nanotube dengan bentuk silinder yang panjang dapat mendistribusikan energi peluru dengan lebih merata. Maka dari itu, membuat nanotube dengan desain diantara kedua karakter tersebut akan jadi sangat menjanjikan terutama untuk mendukung aspek penegakan hukum dan pertahanan militer. (bulletproofnanotechnology.weebly.com)
Sumber Gambar : Pixabay
