Berkenalan dengan Fasilitas dan Teknologi Ramah Disabilitas

Edison 9955 kali gagal menemukan lampu pijar yang menyala. Jika ia berhenti di percobaan ke 9956, mungkin sekarang kita tidak akan punya lampu.
Tulisan dari Lampu Edison tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS) pada 2016, populasi penyandang disabilitas di Indonesia setidaknya berjumlah 12.15 persen. Dari total 12.15 persen, sebanyak 45.74 persen tidak lulus Sekolah Dasar atau bahkan tidak pernah bersekolah sama sekali (Republika, 2016).
Vinton Cerf, salah satu pioner bisnis internet Amerika Serikat mengatakan 15% populasi dunia merupakan penyandang disabilitas berdasarkan informasi dari World Health Organization (WHO). Pada 2014, Cerf menginisiasi sebuah pertemuan tentang memanfaatkan teknologi internet untuk membantu penyandang disabilitas. Cerf sendiri dan istrinya merupakan penyandang tuna rungu. Istrinya menerima implant cochlear yang membantunya bisa mendengar kembali.
Perlu dicatat bahwa di tahun 2012 separuh populasi dari komunitas penyandang disabilitas menyatakan aktivitas mereka sangat terbatasi karena kondisi yang mereka miliki. Dalam forum lain di tahun 2015 yaitu European Disability Forum, dibicarakan mengenai fasilitas publik apa saja yang masih perlu dievaluasi karena menyulitkan penyandang disabilitas. Berikut list nya :
Tidak ada alat otomatis yang dapat mengangkat kursi roda untuk dapat masuk ke dalam bus.
Sedikit sekali akses terhadap transportasi khusus penyandang disabilitas seperti taksi
Adanya struktur tangga dan trotoar di depan gedung yang menyulitkan pengguna kursi roda untuk memasuki gedung
Film, TV, atau video tanpa subtitle
Penunjuk jalan yang tidak memiliki huruf braille
Tidak ada petunjuk khusus (seperti suara) di zebra cross dan mesin tiket untuk membantu tuna netra
Tidak adanya lift di beberapa gedung bertingkat
Untuk menggalakkan budaya kota membangun fasilitas ramah disabilitas, Uni Eropa memberikan award tahunan untuk kota yang menunjukkan pembangunan yang berarti. Award ini dinamakan “Access City Award”. Award ini dimulai dari tahun 2011 yang pertama kali didapatkan kota Sevilla di Spanyol, Salzburg di Austria, Berlin di Jerman, Gothenburg di Swedia, Boras di Swedia, Milan di Italia, Chester di Inggris, Lyon di Prancis, dan terakhir Breda di Belanda di tahun 2019.
Diantara solusi yang telah dilakukan adalah :
Wheelmap : Peta dengan petunjuk jalan mana saja yang memiliki fasilitas untuk kursi roda
Blindsquare : GPS yang khusus didesain untuk penyandang tuna netra dengan menggunakan fasilitas audio. Tersedia dalam 22 bahasa yang berbeda
Wayfindr : Aplikasi untuk membantu penyandang tuna netra untuk mampu menemukan jalan secara mandiri. Misalkan ke stasiun kereta atau ke rumah sakit
Cap4access : Sebuah proyek untuk membuat kota-kota di Eropa memiliki fasilitas publik yang ramah disabilitas
Euan’s guide : Website ini adalah semacam tripadvisor untuk para penyandang disabilitas
Google sendiri telah mengadakan “Impact challenges disability grants” yang membuka kesempatan pendanaan bagi organisasi non profit untuk menciptakan teknologi tepat guna agar memudahkan penyandang disabilitas. Diantara produknya adalah myhumankit.org yaitu open source model 3D printing untuk 5 macam prosthesis (bagian tubuh buatan) yang dapat diprint dengan 3D printing dan kemudian digunakan oleh penyandang disabilitas di seluruh dunia.
Lalu bagaimana dengan fasilitas ramah penyandang disabilitas di Indonesia? Sejauh apa teknologi telah dimanfaatkan untuk menciptakan tempat yang ramah bagi penyandang disabilitas?
Negara-negara Asia tenggara termasuk dalam posisi peringkat bawah dalam mewujudkan kota ramah penyandang disabilitas, khususnya Indonesia. Namun, beberapa contoh telah sering ditemui seperti toilet ramah difabel. Selain itu, di Jakarta telah ada tactile paving atau ubin pemandu yaitu jalur trotoar berwarna kuning dan bertekstur untuk memudahkan penyandang tuna netra. Namun, sayangnya pemasangan ubin pemandu ini sering disalahgunakan sebagai tempat parkir karena kurangnya pengetahuan masyarakat kita mengenai fungsinya.
Selain ubin pemandu, stasiun MRT yang baru saja dibuka juga cukup ramah difabel sebagaimana yang dimuat dalam IDNtimes. Fasilitas dilengkapi toilet khusus, trotoar serta jalur pemandu, pemberitahuan audiovisual, lift dengan huruf braille, ruang khusus penyandang disabilitas, serta tinggi pintu dan loket karcis yang disesuaikan agar setinggi kursi roda.
Semua fasilitas ramah disabilitas di Jakarta adalah awal yang baik untuk berbenah. Namun, pemeliharaan fasilitas ini juga sangat bergantung pada kesadaran masyarakat untuk tidak salah memanfaatkannya sehingga tidak mengurangi manfaat fasilitas tersebut dan merugikan penyandang disabilitas.
