Konten dari Pengguna

Berkenalan dengan Wax Worm, Si Larva Pelahap Plastik

Lampu Edison

Lampu Edison

Edison 9955 kali gagal menemukan lampu pijar yang menyala. Jika ia berhenti di percobaan ke 9956, mungkin sekarang kita tidak akan punya lampu.

comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Lampu Edison tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Produksi plastik yang sangat tinggi menjadikan plastik sebagai masalah utama yang dihadapi dunia saat ini. Pada tahun 1950, produksi plastik dunia hanya sekitar 2 juta ton. Sedangkan pada tahun 2015 produksi plastik dunia meningkat hampir 200 kali lipat menjadi 381 ton. Secara kumulatif, dalam periode tahun 1950 hingga 1965 produksi plastik dunia mencapai 7.8 miliar ton! Jika populasi manusia di dunia saat ini sekitar 7.7 miliar orang, maka lebih dari 1 ton plastik setara untuk setiap individu manusia yang hidup saat ini.

Sampah Plastik. Sumber: Pexels
zoom-in-whitePerbesar
Sampah Plastik. Sumber: Pexels

Plastik yang dahulu dikenal kuat dan tahan lama, secara literal adalah sebuah material yang sangat sulit untuk terdegradasi. Alih-alih terdegradasi, plastik justru hanya terurai menjadi ukuran-ukuran yang kecil bahkan mikro, yang terkadang terkonsumsi secara tidak sengaja oleh hewan-hewan yang ada di bumi. Tidak jelas berapa lama waktu yang dibutuhkan plastik tersebut untuk benar-benar terurai menjadi molekul penyusunnya. Namun peneliti mengungkapkan paling tidak butuh waktu 450 tahun untuk menguraikan sebuah plastik botol minuman secara natural.

Lalu apa yang harus kita lakukan dengan 7.8 miliar ton plastik ini?

Sebuah harapan muncul ketika sebuah tim peneliti menemukan bahwa Wax worm, larva ngengat Galleria mellonella, yang biasanya memakan lilin pada sarang lebah, ternyata juga dapat melahap plastik. Federica Bertocchini, seorang ahli biologi dari Universitas Cantabria di Spanyol, meletakkan sekumpulan wax worm dalam sebuah kantong plastik. Awalnya plastik tersebut dalam kondisi baik, namun beberapa jam kemudian Bertocchini menemukan tas plastik itu penuh dengan lubang-lubang kecil, sehingga larva-larva di dalam plastik berhamburan keluar plastik.

Worm Wax. Sumber: Pexels

Bertocchini kemudian bekerja sama dengan Paolo Bombelli dan Christopher Howe, peneliti dari Universitas Cambridge, untuk mencari tahu bagaimana wax worm menguraikan plastik. Mereka menempatkan 100 ekor wax worm pada plastik polietilen, kemudian melihat hasilnya 12 jam kemudian. Eksperimen menunjukkan bahwa wax worm dapat memecah ikatan kimia plastik dengan cara yang mirip saat wax worm mencerna lilin lebah. Hasil percobaan menunjukkan bahwa satu ekor wax worm rata-rata menghasilkan 2,2 lubang per jam. Secara kumulatif, dalam waktu 12 jam 100 wax worm mampu menguraikan 92 mg plastik. Pada tingkat ini, 100 ekor wax worm mampu mengurai 5.5 gram plastik hanya dalam jangka waktu sebulan. Sangat mengesankan jika kita mengingat bahwa para peneliti sebelumnya menyatakan paling tidak butuh waktu 450 tahun untuk mendegradasi plastik!

Selain itu percobaan mereka menunjukkan bahwa wax worm tidak hanya menguraikan plastik menjadi ukuran yang lebih kecil, namun wax worm benar-benar melarutkan senyawa plastik. Mereka menyatakan bahwa terdapat enzim dan atau bakteri yang hidup di dalam tubuh wax worm yang membantu melarutkan plastik dengan mengubah polietilen/PE menjadi etilen glikol, yaitu bahan kimia yang biasa digunakan dalam antibeku. Belum diketahui pasti enzim apa yang berfungsi melarutkan PE tersebut. Bertocchini dkk saat ini sedang mengidentifikasi enzim tersebut dan mengidentifikasi proses kimia yang terjadi, sehingga hal ini dapat mengarah pada solusi untuk mengelola limbah plastik di lingkungan.

Kabar gembira penemuan ini menjadi harapan bagi bumi yang semakin penuh dengan sampah plastik. Adanya organisme yang mampu melarutkan plastik menjadi senyawa yang dapat terdegradasi, meningkatkan ekspektasi manusia untuk dapat mengurangi sampah plastik yang ada. Namun mengembangbiakkan larva untuk kebutuhan degradasi plastik tidak semudah itu. Ada prosedur ketat tentang pelepasan organisme hasil rekayasa genetik ke lingkungan. Selain itu peneliti juga perlu mencari tahu tentang motif wax worm mengunyah plastik. Apakah mereka mengunyah plastik untuk makanan atau mereka hanya ingin meloloskan diri dari dalam plastik.

"Kami berencana untuk menerapkan temuan ini menjadi cara yang layak untuk mendegradasi limbah plastik, sebagai solusi untuk menyelamatkan lautan, sungai, dan semua lingkungan kita dari konsekuensi yang tidak dapat dihindari dari penggunaan plastik berlebih" ungkap Dr. Bertocchini.

"Namun, kita seharusnya lebih bijak dengan tidak merasa dibenarkan untuk membuang polietilen dengan sengaja di lingkungan kita hanya karena kita sekarang tahu cara mendegradasikannya."

Sumber:

https://www.bbc.com/news/science-environment-39694553

https://news.nationalgeographic.com/2017/04/wax-worms-eat-plastic-polyethylene-trash-pollution-cleanup/

https://ourworldindata.org/faq-on-plastics#is-it-true-that-some-types-of-worm-can-break-down-plastic