Berselancar : Cara Lebah Madu Bertahan di Atas Air

Edison 9955 kali gagal menemukan lampu pijar yang menyala. Jika ia berhenti di percobaan ke 9956, mungkin sekarang kita tidak akan punya lampu.
Tulisan dari Lampu Edison tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Lebah madu (Apis sp.) ternyata memiliki keunikan dalam berselancar.
Serangga ini merupakan serangga terbang eusosial yang terkenal karena peranannya dalam pembuatan madu dan penyerbukan. Namun, kalian harus tahu bahwa ada alasan baru yang dapat digunakan untuk lebih menghargai lebah madu. Lebah madu diketahui merupakan peselancar kelas dunia.
Selain penyerbukan bunga, lebah pekerja yang semuanya adalah betina, diberi tugas mencari air untuk mendinginkan sarang mereka. Akan tetapi, jika mereka jatuh ke kolam atau air, sayap mereka akan menjadi basah dan tidak bisa digunakan untuk terbang. Lalu, bagaimana cara lebah ini menyelamatkan diri ke darat?
Dilansir dari situs ilmiah independent.co.uk, Sebuah tim peneliti di California Institute of Technology (Caltech) menemukan bahwa ketika lebah jatuh ke badan air, mereka dapat menggunakan sayap mereka untuk menghasilkan riak dan meluncur ke arah daratan seperti para peselancar.
Menurut Chris Roh, seorang insinyur peneliti Caltech dan juga penulis utama studi yang diterbitkan di Prosiding National Academy of Sciences tersebut, Ketika lebah jatuh ke dalam air, mereka harus menemukan cara untuk sampai ke pantai agar dapat bertahan hidup.
Sama halnya dengan penemuan-penemuan ilmiah lainnya yang telah maju, seperti “apel” Isaac Newton atau “sambaran petir” Benjamin Franklin, penemuan Mr. Roh juga terjadi tanpa sengaja yaitu ketika dia sedang berjalan-jalan melewati Caltech's Millikan Pond pada tahun 2016. Ketika itu, ia mengamati seekor lebah di atas permukaan air yang menghasilkan riak. Peristiwa ini membuat Mr. Roh penasaran tentang bagaimana seekor serangga yang dikenal bisa terbang mampu melewati air.
Untuk menjawab semua pertanyaan itu, Mr. Roh dan rekan penulisnya Morteza Gharib, seorang profesor dari jurusan aeronautics and bio-inspired engineering, Caltech, melakukan percobaan dengan menggunakan jaring kupu-kupu untuk mengumpulkan lebah madu Pasadena lokal dan mengamati gerakan mereka yang seperti berselancar.
Para peneliti membuat kawat harness untuk membatasi gerak tubuh masing-masing lebah, yang memungkinkan pemeriksaan sayap mereka secara lebih dekat. Dari percobaan yang dilakukan, mereka menemukan bahwa ketika berada di atas air, lebah akan menekuk sayapnya pada sudut 30 derajat, menarik air dan menghasilkan dorongan ke depan. Lebah terperangkap di permukaan air karena air mempunyai tingkat kepadatan yang lebih besar (kira-kira tiga kali lipat lebih padat) daripada udara. Namun, bobot itu membantu mendorong lebah untuk maju ketika sayapnya mengepak. Ini adalah latihan yang berat bagi lebah, yang diperkirakan oleh para peneliti dapat dilakukan sekitar 10 menit dari aktivitas.
Para peneliti mengatakan bahwa gerakan seperti berselancar belum pernah didokumentasikan pada serangga lain, dan sebagian besar serangga semi-akuatik menggunakan kaki mereka untuk propulsi atau mendorong di atas permukaan air, yang dikenal sebagai water-walking. Mereka berspekulasi bahwa kemampuan yang dimiliki oleh lebah inilah yang menjadi penyebab sehingga para lebah pekerja bisa mengumpulkan cairan tanpa terjebak di dalam air dan mati. Gerakan yang hampir sama juga terlihat pada lalat batu, tetapi gerakan mereka lebih mirip seperti sedang mengayuh daripada berselancar.
Mr. Roh dan Mr. Gharib berencana menggunakan pengamatan mereka untuk merancang robot yang mampu melintasi langit dan laut. Mereka telah membuat model mekanis yang mensimulasikan gerakan selancar lebah. Selanjutnya, mereka akan membuat satu cahaya yang cukup untuk terbang.
Howard Stone, seorang profesor teknik mesin dan kedirgantaraan di Princeton, mengatakan bahwa alam adalah panduan yang membantu untuk inovasi teknologi karena "evolusi telah terjadi bertahun-tahun untuk mencari solusi-solusi" untuk masalah fisik umum.
Laboratorium Mr. Gharib sebelumnya telah mempelajari penggerak bawah air dengan melihat ubur-ubur, dan pemanenan energi dengan melihat dedaunan yang berdesir ketika ditiup angin. Dia membayangkan banyak aplikasi praktis untuk lebah yang berselancar.
"Anda dapat membayangkan sistem amfibi yang dapat bergerak di permukaan air dan terbang tanpa kesulitan," kata Gharib. "Ini bisa berguna untuk pencarian dan penyelamatan, atau untuk mendapatkan sampel permukaan laut, jika Anda tidak dapat mengirim kapal atau helikopter."
Sumber :
https://www.independent.co.uk/news/science/bees-surf-waves-drowning-water-pond-study-caltech-a9217916.html
