Cara Baru untuk Menyimpan Data Di Masa Depan
Tulisan dari Lampu Edison tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Para ilmuwan akhirnya menemukan penyimpanan data ini dengan menggunakan bahan 2D Atom-Tipis yang bukan chip silikon
Penyimpanan data yang ada saat ini umumnya menggunakan chip yang mungkin cukup terbilang tebal untuk masa depan, walaupun dibandingkan dengan penyimpanan dengan disket dua dekade lalu yang lebih terbilang kompleks lagi. Sampai saat ini penyimpanan dengan jenis chip tipis masih menjadi primadona utama yang beredar di pasaran walaupun penelitian terkait penyimpanan data ini masih terus dilakukan oleh para ilmuwan di dunia. Titik cerah penyimpanan data ini telah menemukan titik cerah dari para peneliti yang melakukannya, sebuah tim yang dipimpin oleh Stanford telah menemukan cara untuk menyimpan data dengan menggeser satu lapisan logam tipis secara atomis satu sama lain, suatu pendekatan yang dapat mengemas lebih banyak data ke dalam ruang lebih sedikit daripada chip silikon yang ada saat ini. Aaron Lindenberg, profesor ilmu dan teknik material di Stanford dan di SLAC National Accelerator Laboratory, mengatakan bahwa akan terjadi peningkatan signifikan dari jenis penyimpanan memori non-volatil yang saat ini dicapai oleh komputer dengan teknologi berbasis silikon seperti chip flash.

Penelitian yang dijelaskan dalam jurnal Nature Physics ini merupakan terobosan yang didasarkan pada kelas logam yang baru ditemukan yang membentuk lapisan yang sangat tipis, dalam hal ini hanya tiga atom. Lapisan-lapisan yang sangat tipis ini terbuat dari logam yang dikenal sebagai tungsten ditelluride, jika dibayangkan mungkin seperti setumpuk kartu berskala nano. Menurut Lindenberg, susunan lapisan menjadi metode untuk pengkodean informasi yang menciptakan on-off, 1s dan 0s yang menyimpan data biner. Untuk membaca data digital yang tersimpan di antara lapisan-lapisan atom yang bergeser ini, para peneliti mengeksploitasi properti kuantum yang dikenal sebagai Berry curvature, yang bertindak seperti medan magnet untuk memanipulasi elektron dalam materi untuk membaca susunan lapisan tanpa mengganggu tumpukan pada lapisan tersebut.
Di sisi lain, energi yang dibutuhkan dalam pembuatan bahan ini diklaim lebih sedikit jika dibandingkan dengan teknologi yang ada sekarang ini. Lebih jauh lagi, berdasarkan penelitian kelompok yang sama yang diterbitkan di Nature tahun lalu, meluncurnya lapisan atom dapat terjadi begitu cepat sehingga penyimpanan data dapat dilakukan lebih dari seratus kali lebih cepat daripada dengan teknologi saat ini. Setelah para peneliti mengamati hasil eksperimen yang konsisten dengan prediksi teoritis, mereka membuat perhitungan lebih lanjut yang meyakinkan mereka bahwa penyempurnaan lebih lanjut pada desain mereka akan sangat meningkatkan kapasitas penyimpanan dari pendekatan baru ini, membuka jalan ke inovasi yang lebih tinggi lagi dengan menggunakan bahan 2D yang sangat tipis.
Eksperimen ini sendiri merupakan kolaborasi dari teori di Stanford atau SLAC National Accelerator Laboratory yang didanai oleh Departemen Energi Amerika Serikat dengan Aaron Lindenberg yang berperan sebagai kepala peneliti yang merupakan associate professor, Photon Science Director, afiliasi dari Precourt Institute for Energy, dan peneliti utama dari Stanford Institute for Material and Energy Sciences. Penelitian ini sendiri telah dipatenkan seiring dengan penyempurnaan prototipe dan desain memori mereka dilakukan, dimana dengan rencana selanjutnya adalah mencari bahan 2D lain yang bisa bekerja lebih baik sebagai media penyimpanan data daripada tungsten ditelluride. Walaupun Lindenberg mengatakan bahwa secara ilmiah ada sedikit sekali penyesuaian pada lapisan super tipis ini yang memiliki pengaruh besar pada sifat fungsionalnya, namun dengan menggunakan pengetahuan itu untuk merekayasa perangkat baru dan hemat energi, kita dapat menuju masa depan yang berkelanjutan dan cerdas.

