Konten dari Pengguna

Dampak Negatif 'Jomblo' dari Kacamata Sains

Lampu Edison

Lampu Edison

Edison 9955 kali gagal menemukan lampu pijar yang menyala. Jika ia berhenti di percobaan ke 9956, mungkin sekarang kita tidak akan punya lampu.

comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Lampu Edison tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Melajang memang sangatlah menyenangkan. Single memiliki segudang kelebihan dan banyak orang menikmati hidup single di usia yang tak lagi muda. Bagaimanapun tak dapat dipungkiri ada satu momen ketika rasa takut dan khawatir akan hidup melajang menghampiri pikiran para single. Terlepas dari apakah seseorang ingin tetap melajang atau tidak, ternyata ada beberapa dampak negatif single dari kacamata sains. Simak ulasannya!

Ilustrasi lajang. Gambar oleh Engin Akyurt dari Pixabay
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi lajang. Gambar oleh Engin Akyurt dari Pixabay

Risiko meningkatnya tingkat mortalitas para jomblo

Penelitian mengenai hubungan status perkawinan dan kaitannya dengan tingkat kematian seseorang telah banyak dilakukan sejak puluhan tahun yang lalu. Studi awal tentang hubungan antara status perkawinan dengan tingkat kematian seseorang secara umum konsisten melaporkan adanya peningkatan tingkat kematian untuk lajang.

Salah satu yang populer adalah tulisan Durkheim yang menemukan bahwa orang yang belum menikah (single atau jomblo) memiliki tingkat bunuh diri yang lebih tinggi dibandingkan dengan orang yang menikah.

Sebuah studi yang diterbitkan oleh American Journal of Epidemiology, dengan penulis utama David Roelfs, asisten profesor sosiologi di Universitas Louisville, juga menyebutkan adanya peningkatan tingkat kematian para lajang dibandingkan dengan mereka yang memiliki pasangan.

Roelfs dkk menganalisis data dari 90 penelitian yang sudah ada, yang mencakup sekitar 500 juta orang. Mereka kemudian membandingkan risiko kematian para lajang (tidak pernah menikah) dengan orang yang sudah menikah, tidak termasuk mereka yang bercerai atau janda/duda.

Berdasarkan analisis data tersebut peneliti menemukan risiko kematian pria lajang 32 persen lebih tinggi dibandingkan dengan pria yang sudah menikah. Wanita lajang juga mengalami peningkatan risiko kematian sebesar 23 persen dibandingkan dengan wanita yang sudah menikah. Jika dikalkulasikan menggunakan perhitungan skenario terburuk, maka pria lajang bisa meninggal hingga 17 tahun lebih awal dari pria yang sudah menikah, dan wanita lajang bisa meninggal 15 tahun lebih awal dari wanita yang sudah menikah. Sebagai catatan, data ini diperoleh dari pengamatan penelitian yang telah dilakukan dalam 60 tahun terakhir.

Dari analisis tersebut peneliti berspekulasi bahwa umur panjang pada orang yang sudah menikah berkaitan dengan dukungan yang mereka dapatkan dari pasangannya. Ketika sudah menikah, akan ada dorongan utama dan efek healing dari pasangan, selain dari orang tua, saudara kandung, atau teman dekat.

Namun begitu tidak semua orang menerima kesimpulan di atas. Seorang psikolog social Bella DePaulo tidak begitu setuju dengan kesimpulan tersebut karena banyaknya penelitian yang tidak memasukkan kelompok orang yang bercerai atau janda/duda. DePaulo berujar bahwa bagaimanapun orang-orang yang bercerai dan janda adalah orang-orang yang dahulu pernah menikah menikah juga. Selain itu ada pertanyaan tentang kualitas pernikahan dan pengaruhnya terhadap umur seseorang. Bagaimanapun, seperti apa yang dikatakan oleh Roelfs, kita tidak perlu mengetahui kesehatan seseorang dalam pernikahan yang buruk, karena jelas pernikahan yang buruk akan berakibat buruk pula pada kesehatan orang-orang di dalamnya.

Ilustrasi menua bersama. Gambar oleh pasja1000 dari Pixabay

Pernikahan dan kaitannya dengan proses penyembuhan setelah operasi

Sebuah studi peer-reviewed dari Emory University, Amerika Serikat, meneliti tentang hubungan pernikahan dengan kelangsungan hidup seseorang setelah menjalani pembedahan jantung.

Secara keseluruhan, hasil penelitian menunjukkan pernikahan memberikan efek positif pada kelangsungan hidup seseorang hingga 5 tahun setelah melakukan operasi jantung. Risiko kematian bagi pasien yang belum menikah meningkat hingga dua kali lebih besar dibandingkan dengan pasien yang sudah menikah, baik wanita maupun pria. Bahaya kematian pasien yang belum menikah lebih tinggi pada periode 3 bulan setelah operasi, yaitu sebesar 233 persen, dan sebesar 71 persen dalam periode 5 tahun setelah operasi dibandingkan dengan pasien yang sudah menikah. Salah satu alasan adalah pasangan yang menikah memberikan efek potensial ‘sentuhan hangat’ pada pengurangan stress pasien. Kehadiran seseorang dalam konteks pernikahan akan memberikan rasa tenang, yang berbeda dari kehadiran keluarga, teman, atau pengasuh.

Sebuah studi tahun 2013 dalam Journal of Clinical Oncology juga mengungkapkan bahwa pasien yang menikah cenderung hidup 20 persen lebih lama daripada mereka yang lajang, bercerai, atau janda/duda. Tim peneliti menyimpulkan bahwa manfaat pernikahan bahagia sebanding dengan atau bahkan lebih baik dari kemoterapi.

sumber:

https://www.macleans.ca/society/health/

https://journals.sagepub.com/doi/abs/10.1177/0022146511432342