Konten dari Pengguna

Efek Plasebo: Apakah Seseorang Bisa Sembuh Hanya dengan Memikirkannya?

Lampu Edison

Lampu Edison

Edison 9955 kali gagal menemukan lampu pijar yang menyala. Jika ia berhenti di percobaan ke 9956, mungkin sekarang kita tidak akan punya lampu.

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Lampu Edison tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Efek Plasebo adalah salah satu fenomena dalam fisiologi dan psikologi manusia yang saat ini masih belum dapat dipahami seutuhnya.

Obat-obatan. Sumber gambar: Wikimedia Commons.
zoom-in-whitePerbesar
Obat-obatan. Sumber gambar: Wikimedia Commons.

Ketika pasien diberikan obat plasebo, mereka memakan tablet, diberikan suntikan, diberikan operasi bohongan, dan prosedur lainnya yang sebenarnya tidak memiliki kandungan tertentu yang dapat menyembuhkan. Meskipun begitu, pasien tetap dapat sembuh. Ini artinya bukan perlakuan yang diberikan kepada pasienlah yang sebenarnya dapat menyembuhkan, tetapi kepercayaan pasien yang menganggap bahwa perlakuan tersebut benar-benar bekerja pada tubuh mereka. Bisa jadi tubuh jadi termotivasi untuk mengeluarkan zat-zat kimia yang dapat meringankan rasa sakit. Dengan kata lain mereka memperdaya diri mereka sendiri untuk kembali menjadi sehat dan membuktikan bahwa otak merupakan satu entitas yang kuat.

Meskipun masuk akal bahwa manusia dapat melakukan hal tersebut, ada beberapa aspek dari efek plasebo yang masih belum dapat dijelaskan oleh para dokter dan saintis.

Praktik efek plasebo pertama kali tercatat pada akhir abad ke-18 oleh seorang dokter di Connecticut, AS. Dokter tersebut bernama Elisha Perkins. Ia memeperoleh paten untuk alat kesehatannya yang ia beri nama “tractors”. Tractors adalah sebuah alat yang berbentuk seperti tongkat besi dengan panjang tiga inci. Perkins mengaku bahwa alat tersebut terbuat dari bahan-bahan yang spesial, tapi kenyataannya tractors hanyalah terbuat dari tembaga dan kuningan.

Perkins mengatakan bahwa alat tersebut dapat membantu untuk meringankan rasa sakit pada sendi-sendi dan bagian tubuh lainnya. Ia mematok harga yang cukup mahal untuk praktik tractors tersebut. Selama 20 menit ia akan menjalankan tractors di atas bagian tubuh yang sakit, dan pasien mengaku merasa lebih baik setelah pengobatan tersebut.

Praktik yang dilakukan oleh Perkins diragukan oleh ahli medis lainnya. Seorang dokter dari Inggris bernama John Haygarth melakukan uji coba praktik yang serupa dengan menggunakan bahan lain seperti tulang, pensil, dan pipa tembakau. Ia pun menemukan hasil yang serupa. Pasien-pasien yang ia tangani merasa lebih baik setelah tubuh mereka disentuh oleh benda-benda tersebut. Haygarth menarik kesimpulan bahwa perkembangan yang terjadi pada tubuh pasien adalah karena pemikiran pasien itu sendiri.

Sampai sini efek plasebo tampaknya hanya terjadi karena psikologi. Tapi ada bukti kuat bahwa tubuh pasien juga merespon secara fisik pengobatan yang diberikan. Pada 2005, sekelompok peneliti dari Universitas Michigan melakukan scan PET pada 14 laki-laki muda dan sehat. Rahang mereka disuntikkan dengan larutan air garam untuk menimbulkan rasa sakit. Beberapa saat kemudian, mereka diberikan sebuah plasebo dan diberitahu bahwa obat tersebut sedang bekerja. Melalui scan yang dilakukan, para peneliti melihat bahwa otak yang berfungsi untuk mengeluarkan endorfin menjadi aktif setelah plasebo diberikan. Para peserta uji coba ini juga mengaku bahwa rasa sakit mereka berkurang dan toleransi akan rasa sakit meningkat.

Sebuah penelitian lain dilakukan pada 2001. Pada penelitian tersebut, peserta diberikan plasebo yang dicampur dengan obat yang dapat menghalangi endorfin. Hasilnya, tidak ada efek plasebo yang terjadi. Meskipun penelitian masih terus dilakukan sampai sekarang, kedua penelitian tersebut menunjukkan bahwa endorfin memiliki peran yang besar untuk membuat efek plasebo menjadi efektif.

Efek plasebo juga memiliki dampak yang lebih besar jika diberikan dalam porsi yang lebih besar. Misalnya, jika seseorang sedang sakit dan sedang membutuhkan pengobatan, salah satu cara yang paling cepat dan paling efektif adalah dengan memberikan suntikkan. Hal tersebut membuat para peneliti bertanya-tanya apakah plasebo yang diberikan dengan cara disuntik akan lebih efektif dibandingkan dalam bentuk pil.

Antara 1956 sampai 1965 dan antara 2000 sampai 2006, ada uji coba yang dilakukan untuk membandingkan kedua hal tersebut. Hasilnya adalah plasebo yang disuntikkan menunjukkan hasil yang lebih baik dibandingkan dalam bentuk pil yang ditelan. Hal tersebut membuktikan bahwa kepercayaan pasien bahwa suntikkan dapat mempercepatan pengobatan ternyata juga berperan dalam efektifnya plasebo.