Fakta Menarik tentang Antartika

Edison 9955 kali gagal menemukan lampu pijar yang menyala. Jika ia berhenti di percobaan ke 9956, mungkin sekarang kita tidak akan punya lampu.
Tulisan dari Lampu Edison tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sumber gambar: Pixabay
Menduduki tempat kelima dari enam benua yang terluas, Antartika memiliki luas kurang lebih 14 juta kilometer persegi. Artinya hampir sama besar dengan benua Amerika dan dua kali lipat benua Australia.
Benua Antartika terjadi karena hasil dari pergeseran benua sekitar 25 juta tahun lalu yang merupakan bagian dari super benua Gondwana, yang dulunya bersatu dengan Amerika Selatan, Afrika, Semenanjung India, dan Australia. Antartika pertama kali ditemukan oleh penjelajah asal Norwegia, Roald Amundsen. Dia menancapkan bendera kebangsaanya pada 14 desember 1911.
Antartika terkenal dengan salju abadinya, suhu rata rata tahunannya saja tercatat berkisar antara -55 °C sampai -57 °C dan memiliki suhu ekstrem yaitu -90 °C di stasiun Vostok 21 Juli 1983 Antartika dan suhu terpanas di sana adalah 15 °C di stasiun Vanda 5 Januari 1974.
Beberapa faktor yang membuat benua Antartika memiliki suhu yang sangat dingin adalah karena sedikitnya penerimaan sinar matahari yang diterima benua ini dalam satu tahun. Faktor kedua adalah ketinggian rata rata benua ini juga termasuk tinggi, yaitu 2.800 mdpl dan membuat suhu sekitarnya semakin rendah. Faktor terakhir adalah karena hampir 80 persen sinar matahari dipantulkan oleh permukaan lapisan es yang solid.
Walaupun memiliki suhu yang menyulitkan makhluk hidup untuk bertahan di daerahnya, Antartika masih punya spesies makhluk hidup, seperti pinguin, ikan paus biru, anjing laut, dan beberapa spesies serangga yang memiliki toleransi suhu dingin yang sangat tinggi.
Tebalnya es di Antartika membuat kualitas tanah yang buruk dan tidak memungkinkan tumbuhan untuk dapat hidup di daerah ekstrem tersebut kecuali 100 spesies lumut 25 spesies Marchiantiophyta dan 2 spesies bunga yang dapat hanya dapat hidup di musim panas dan menghilang di musim dingin.

Di malam hari, kita bisa melihat aurora yang indah di langit Antartika. Aurora hanya bisa dilihat di dua tempat di bumi ini yaitu kutub utara (Arktika) dan kutub selatan (Antartika). Aurora terbentuk karena interaksi partikel-partikel atmosfer bumi dengan partikel bermuatan dari matahari yang disebut dengan plasma. Plasma adalah partikel sejenis gas yang telah terionisasi.
Pada umumnya gas tidak bermuatan, tetapi karena suhu yang sangat panas di matahari menyebabkan partikel gas terionisasi maka terbentuklah plasma. Plasma ini dipancarkan matahari ke segala arah , kemudian saat mendekati medan magnet bumi maka plasma akan tertarik ke kutub-kutub bumi, saat bertemu dengan partikel atmosfer bumi terjadi eksitasi-relaksasi elektron sehingga memendarkan warna yang indah.
Antartika merupakan benua tanpa negara dan tanpa pemerintahan, tetapi beberapa negara mengklaim kedaulatan di beberapa wilayah berbeda. Terhitung sudah ada 49 negara yang telah menandatangani perjanjian Antartic Treaty System, yaitu sistem yang mengatur hubungan antar negara tentang wilayah Antartika secara netral.
Atmosfer yang sangat tipis membuat peneliti dari beberapa negara harus menggunakan baju khusus untuk mencegah kulit mereka dari sinar matahari langsung yang panas dan bisa membakar kulit manusia.
Namun ada rahasia yang belum diketahui banyak orang tentang benua ini. Di balik tebal dan dinginnya es di Antartika, ada tenaga vulkanik besar yang tersembunyi. Baru-baru ini, para ilmuwan menemukan kekuatan luar biasa tersebut dalam wujud gunung berapi aktif yang tersimpan rapi dalam balutan es itu.

Sebanyak 91 gunung berapi tersebut ditemukan di wilayah Antartika bagian barat. Posisinya tersembunyi di antara lapisan es yang menutupi Kutub Selatan itu dengan ketebalan hingga empat kilometer.
Dikutip dari Sky News, dari 91 gunung berapi tersebut, 47 di antaranya sudah diketahui sebelumnya karena puncaknya menyembul dari balik lapisan es. Gunung-gunung berapi tersebut diperkirakan memiliki ketinggian bervariasi, mulai dari 100 meter hingga 3.850 meter.
Para ahli geologi menyatakan, bentuk gunung api diAntartika memiliki kemiripan dengan pegunungan vulkanik di Afrika Timur, yang dianggap memiliki jumlah gunung api terpadat di dunia. Jika aktivitas vulkanik terjadi, maka es di Kutub Selatan kemungkinan akan mencair.
Jika lapisan es menipis saat iklim semakin menghangat, diperkirakan aktivitas vulkanik di Antartika bisa meningkat. Agar mampu mencegah dampak yang ditimbulkan erupsi gunung vulkanik itu, tim riset asal Universitas Edinburgh tengah menelaah seberapa aktif gunung berapi tersebut.
