Konten dari Pengguna

Fakta: Tidak Ada Seorang pun yang Benar-Benar Memikirkan Kita

Lampu Edison

Lampu Edison

Edison 9955 kali gagal menemukan lampu pijar yang menyala. Jika ia berhenti di percobaan ke 9956, mungkin sekarang kita tidak akan punya lampu.

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Lampu Edison tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Perasaan tidak nyaman dan khawatir akan pendapat orang lain tentang diri kita memang sebuah hal yang sangat normal. Namun akan berbahaya jika hal tersebut sudah melampaui batas. Pertanyaan yang diajukan oleh otak kita terhadap diri kita sendiri terus menerus datang. Apakah outfit saya hari ini sesuai? Apakah hari ini saya terlalu banyak bicara? Apakah perilaku saya membosankan? Jangan-jangan orang lain mengira saya terlalu pasif?

Pertanyaan-pertanyaan dan kekhawatiran itu mulai memburuk. Bahkan terkadang kita teringat kejadian yang kita lakukan sebulan lalu −yang menurut kita− konyol dan memalukan. Saat kita bertemu dan bertatapan dengan orang lain, kita beranggapan bahwa orang tersebut pasti memikirkan dan mengingat hal detail tertentu tentang kita!

Image by StockSnap from Pixabay
zoom-in-whitePerbesar
Image by StockSnap from Pixabay

Dan ternyata, truth has been spoken! Menurut peneliti, tidak ada seorang pun yang benar-benar detail memikirkan kita! Tidak ada orang di sekitar kita yang menghabiskan banyak waktu mereka untuk mengingat dan memikirkan detail semua yang kita katakan dan lakukan.

Karena pada dasarnya, kebanyakan kita memikirkan diri kita sendiri

Dikutip dari medium.com, pada tahun 1997, Dunbar, Marriott dkk mempelajari tentang topik dan konten apa saja yang dibicarakan manusia. Mereka menemukan bahwa 78% perbincangan manusia adalah perbincangan tentang diri mereka sendiri dan persepsi tentang dunia, bukan tentang orang lain.

Selain itu Tamir dan Mitchell dari Harvard dalam penelitian mereka pada tahun 2013, menunjukkan bahwa kebanyakan orang melakukan sesuatu yang disebut dengan ‘anchoring and adjustment’ atau ‘pematokan/standar dan penyesuaian’ selama bersosialisasi.

Hal ini merupakan sejenis bias kognitif, dimana seseorang menggunakan pengalaman mereka sendiri sebagai standar untuk menyimpulkan pengalaman orang lain.

Otak manusia ter-setting untuk memikirkan diri sendiri

Terdengar egois, namun itulah manusia. Pada dasarnya manusia ‘senang’ memikirkan diri mereka sendiri, bukan memikirkan orang lain.

Pernyataan ini didukung oleh teori yang diajukan Meyer dan Lieberman pada tahun 2018. Ada bagian tertentu pada otak manusia (MPFC/DA 10) yang merupakan sebuah area ‘jaringan default’. Jaringan default ini akan aktif ketika otak sedang istirahat dan tidak terpapar oleh faktor eksternal. Meyer dan Lieberman mengungkapkan bahwa ternyata area ‘jaringan default’ juga akan akan aktif saat otak manusia memikirkan diri mereka sendiri.

Penelitian Meyer dan Lieberman tersebut mendukung pernyataan bahwa manusia berbicara tentang diri mereka sendiri lebih dari apapun.

Saat kita beranggapan bahwa orang lain sedang menilai dan menghakimi diri kita, hal tersebut sebenarnya adalah penilaian diri kita sendiri. Bahkan meskipun orang tersebut benar-benar menilai dan menghakimi kita, sebenarnya penilaian tersebut bukan benar-benar tentang kita.

Sekali lagi, penelitian Tamir & Mitchell dkk menunjukkan bahwa orang menggunakan pikiran dan pengalaman mereka sendiri sebagai ‘standar dan parameter’ untuk menilai orang lain. Jadi, ketika ada orang lain menilai dan menghakimi Anda, maka pada dasarnya mereka sedang menilai dan menghakimi diri mereka sendiri.

Dan tentu saja, Anda tidak perlu terlalu khawatir apakah seseorang mengingat detail apa yang kita lakukan dan katakan –bulan lalu, misalnya− karena tidak ada seorang pun yang benar-benar memikirkannya!

Sumber: 1 dan 2