Gempa dan Misteri Sains di Dalamnya

Edison 9955 kali gagal menemukan lampu pijar yang menyala. Jika ia berhenti di percobaan ke 9956, mungkin sekarang kita tidak akan punya lampu.
Tulisan dari Lampu Edison tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Fenomena gempa tentu menjadi hal yang sudah sering kita dengar dalam kehidupan kita. Salah satu fenomena yang dikatakan sering terjadi pada daerah cincin api ini menjadi suatu hal yang menakutkan bagi banyak orang, terutama dampak yang ditimbulkannya jika hal ini terjadi di lautan.
Ya, tsunami yang kita kenal memang salah satu penyebabnya diakibatkan oleh gempa yang terjadi di dasar lautan sehingga menyebabkan adanya pergeseran lempeng yang memicu terjadinya bencana tersebut.
Lantas, seperti apa cara yang dilakukan untuk menentukan besaran gempa dan bagaimana melakukannya? Mungkinkah manusia memprediksi lokasi dan waktu terjadi gempa sebelum gempa tersebut memicu bencana dan korban yang lebih besar? Mari kita bahas hal tersebut dengan beberapa penjelasan dalam perspektif sains di bawah ini.
Cara Besaran Gempa Ditentukan
Hal ini adalah suatu pertanyaan besar yang sering muncul di benak setiap orang, lalu bagaimana cara ilmuan menentukan besaran gempa yang terjadi? Besaran sangat dipengaruhi seberapa besar gerakan lempeng dapat terjadi, namun bukan itu cara ilmuwan merekam seberapa besar gempa yang terjadi ratusan bahkan ribuan meter di bawah permukaan bumi tersebut.
Hal yang mungkin sulit dibayangkan untuk dilakukan dengan luasnya dan besarnya peluang terjadi pada lokasi yang berbeda-beda. Namun hal itu bukanlah mustahil, dengan bantuan seismograf mereka dapat menentukan besaran gempa yang terjadi. Garis yang bergerak pendek dan tidak bergoyang dapat berarti gempa kecil dan garis panjang yang menggoyang banyak menjadi penanda adanya gempa besar.
Pembacaan pada seismograf dapat dilihat dari Gelombang P yang menunjukkan gelombang pertama yang akan tercatat pada seismograf. Berikutnya menyusul Gelombang S yang akan terekam pada seismogram, garisnya biasanya lebih besar dari Gelombang P.
Sementara Gelombang Permukaan, biasanya tercatat pada seismogram cenderung tercatat setelah Gelombang S yang berarti gempa dengan kekuatan yang lebih besar dari gelombang lainnya.
Menentukan Lokasi Gempa
Cara apa yang dipakai untuk menentukan titik gempa berasal? Apakah memungkinkan dilakukan dalam ilmu matematika atau fisika? Seperti halnya menentukan besaran gempa, Gelombang P dan S sangat diperlukan dalam menentukan lokasi gempa berada. Gelombang P seperti kilat, dan Gelombang S seperti guntur. Gelombang P bergerak lebih cepat dan mengguncang tanah tempat anda pertama kali. Kemudian Gelombang S mengikuti dan mengguncang tanah juga.
Dengan melihat jumlah waktu antara Gelombang P dan S pada seismogram, ilmuwan dapat mengetahui seberapa jauh gempa tersebut berasal dari lokasi tersebut. Mereka menggunakan metode yang disebut triangulasi untuk menentukan secara tepat di mana gempa itu.
Jika lingkaran di gambar di sekitar tiga seismograf yang berbeda di mana jari-jari masing-masing titik itu, adakah jarak dari stasiun ke sumber gempa, maka akan didapatkan persimpangan tiga lingkaran tersebut, di mana titik tersebut adalah episentrum tempat gempa terjadi.
Memprediksi Gempa
Pertama kali mendengar ini di telinga mungkin akan ada keanehan tertentu yang kita rasakan karena layaknya memprediksi terjadinya fenomena lainnya, apakah mungkin untuk dilakukan? Seperti terjadinya hujan atau ramalan cuaca lainnya, banyak orang mulai berpikir apakah gempa juga dapat diprediksi dengan ilmu sains yang ada di dalamnya.
Sampai saat ini, secara sains, gempa masih tidak mungkin untuk bisa diprediksi. Para ilmuwan telah mencoba berbagai cara untuk memprediksi gempa bumi, namun tidak ada yang berhasil. Dalam beberapa kejadian tertentu, ilmuwan tahu akan ada gempa yang terjadi lagi di masa depan, namun mereka tidak memiliki cara untuk menceritakan kapan hal itu akan terjadi maupun titik pasti gempa itu terjadi.
Terlebih lagi jika harus menjelaskan besaran gempa yang terjadi serta area terdampak yang akan terkena dari gempa tersebut. Namun, dengan teknologi yang semakin berkembang prediksi akan gempa ini tentu masih terus dikembangkan lebih lanjut dengan pola pergeseran lempeng maupun kamera yang bisa menembus ratusan kilometer di bawah permukaan bumi.
Mungkinkah suatu saat gempa bisa diprediksi?
