Hewan-hewan Yang Memiliki Karakteristik Seperti Manusia

Edison 9955 kali gagal menemukan lampu pijar yang menyala. Jika ia berhenti di percobaan ke 9956, mungkin sekarang kita tidak akan punya lampu.
Tulisan dari Lampu Edison tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Tidak hanya pada manusia, hewan-hewan berikut ternyata memiliki karakteristik yang umumnya dimiliki manusia. Apa sajakah itu?
1. Jerapah memiliki tekanan darah tinggi
Jerapah memiliki tekanan darah yang paling tinggi dibanding di antara semua hewan. Bahkan lebih tinggi dari tekanan darah manusia yang diketahui berpotensi mengalami tekanan darah tinggi. Tercatat tekanan darah hewan berleher amat panjang ini mampu mencapai 300 mm Hg untuk tekanan sistolik (fase yang lebih tinggi) dan 200 mm Hg untuk tekanan diastolik (fase yang lebih rendah). Tentu saja tinggi tekanan darah jerapah dipengaruhi aktivitas di dalam tubuhnya yang harus memompakan darah dari hati hingga mencapai kepala yang tingginya dapat mecapai 7 kaki (84 inch). Sementara otak manusia hanya berjarak 12 inch letaknya di atas hati, sehingga tekanan darahnya juga akan jauh lebih rendah. Untuk dapat mengalirkan darah sampai ke otak tersebut, jerapah didukung oleh hati yang cukup besar dengan berat mencapai 26 pon.
Satu hal unik lain yang ditemukan dalam sistem peredaran darah jerapah adalah saat jerapah mengangkat kepalanya, pembuluh darah di kepala langsung mengalirkan hampir seluruh darah ke otak, tanpa membaginya ke bagian lain seperti pipi, lidah, ataupun kulit. Di saat yang bersamaan, kulit jerapah yang tebal dan otot tidak biasa yang terdapat pada pembuluh vena jugular, dimana vena biasanya tidak memiliki otot, akan menambahkan tekanan pada pembuluh vena yang membawa darah dari kepala untuk kembali menuju hati. Itulah yang membuat jerapah tidak mengalami pusing saat menaikturunkan kepalanya dari ketinggian.
2. Burung yang pandai menguping
Burung memiliki kemampuan yang sangat baik dalam “menguping” atau mendengarkan isyarat panggilan alarm dari burung-burung lainnya. Bahkan mereka juga belajar mengenai apa yang terjadi tanpa melihat kawanannya atau predator terlebih dahulu. Andy Radford, seorang professor dari University of Bristol yang mempelajari perilaku ekologi menyebutkan, masing-masing spesies burung memiliki bahasanya sendiri. Seperti halnya bahasa yang digunakan manusia, terdapat beberapa jenis bahasa yang memiliki kemiripan, namun ada pula yang akan sangat berbeda meskipun pada dasarnya mengandung makna yang serupa.
Selain memiliki bahasa sendiri, kelompok burung-burungan ini juga menangkap bahasa dari spesies lain, khususnya mereka belajar untuk mendeteksi bahaya dengan menguping panggilan alarm dari burung-burung lainnya. Radford dan rekannya mencoba mempelajari bagaimana proses belajar yang terjadi pada burung dengan melakukan eksperimen terhadap jenis burung Fairy Wren (Cikrak Peri Agung), salah satu burung yang khas dari Australia bagian Tenggara. Mereka menggunakan panggilan alarm yang tidak familiar bagi burung bertubuh mungil tersebut. Percobaan pertama diketahui tidak menghasilkan respon pada burung Cikrak. Selanjutnya para peneliti mengkombinasikan panggilan tersebut dengan suara-suara yang mampu dikenali burung dari keluarga Maluridae. Hasilnya, setelah pelatihan terhadap burung ini dilakukan, suara yang awalnya tidak nampak familiar, menjadi mampu untuk dikenali.
3. Burung yang senang berakrobat
Mungkin kita sudah mengenal sejumlah hewan dari kelompok aves atau burung-burungan yang bentuk evolusinya berupa tidak memiliki atau terbatas dalam kemampuan terbang, seperti burung unta, ayam, dan beberapa jenis lainnya. Namun, salah satu jenis burung dari keluarga merpati ini tidak kalah unik karena bukan hanya kehilangan kemampuan terbangnya, tapi di sisi lain juga memiliki kemampuan berakrobat. Merpati yang disebut Parlor Roller ini secara selektif memang dikembangbiakan hingga tidak lagi memiliki kemampuan terbang, sehingga Parlor Roller beraktivitas dengan berjalan di tanah. Namun bukan berarti Parlor Roller tidak bisa terbang sejak lahir, karena sesungguhnya kemampuan terbang mereka baru hilang setelah umur 3 bulan. Selain berjalan, hilangnya kemampuan terbang pada merpati yang berasal dari Skotlandia ini, justru membuatnya memiliki keunikan melalui kemampuan akrobatik. Teori umum yang menjelaskan kondisi pada Merpati Parlor Roller adalah adanya beberapa “kerusakan” pada pusat keseimbangan otak, sehingga ketika mencoba untuk terbang, bukannya berhasil tapi justru membalik ke belakang atau rolling.
Meski tidak bisa terbang, nyatanya merpati jenis ini juga turut dilombakan untuk melihat seberapa jauh mereka bisa berguling ke belakang. Rekor yang pernah dicapai seekor Parlor Roller untuk berguling ke belakang secara terus menerus yaitu mencapai panjang 662 kaki dan 3 inch (201.85 meter).
