Konten dari Pengguna

Inikah yang Dimaksud Manusia Berubah Menjadi “Zombie”?

Lampu Edison

Lampu Edison

Edison 9955 kali gagal menemukan lampu pijar yang menyala. Jika ia berhenti di percobaan ke 9956, mungkin sekarang kita tidak akan punya lampu.

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Lampu Edison tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Penelitian terbaru menunjukkan beberapa gen hidup kembali di otak manusia setelah kematian yang mereka alami, mungkinkah ini indikasi “zombie” pada manusia?

Kita tentu sudah sering mendengar dan menonton tentang cerita-cerita zombie pada layer kaca maupun buku yang kita baca, namun mungkin kita juga tidak membayangkan bagaimana zombie tersebut dapat hidup pada manusia setelah terjadinya kematian. Penelitian terbaru ini menunjukkan hal yang berbeda terkait hal tersebut. Tepatnya beberapa jam setelah kita mati, sel-sel tertentu di otak manusia masih aktif. Beberapa sel bahkan meningkatkan aktivitasnya dan tumbuh hingga proporsi raksasa. Dalam studi yang baru diterbitkan di jurnal Scientific Reports, para peneliti UIC menganalisis ekspresi gen di jaringan otak yang dikumpulkan selama operasi otak rutin. Pada beberapa kali setelah pengangkatan untuk mensimulasikan interval post-mortem dan kematian, mereka menemukan bahwa ekspresi gen di beberapa sel justru meningkat setelah kematian.

Brain cell illustration | pixabay.com
zoom-in-whitePerbesar
Brain cell illustration | pixabay.com

Para peneliti menyebut hal ini secara sederhana sebagai 'Gen zombie', hal ini yang meningkatkan ekspresi setelah interval post-mortem dan secara spesifik untuk satu jenis sel yaitu sel inflamasi yang disebut sel glial. Para peneliti mengamati bahwa sel glial tumbuh dan menumbuhkan lengan panjang seperti pelengkap selama berjam-jam setelah kematian. Para peneliti menyebutkan bahwa sel glial mungkin membesar setelah kematian tidak terlalu mengejutkan mengingat bahwa mereka meradang dan tugas mereka adalah membersihkan segalanya setelah cedera otak seperti kekurangan oksigen atau stroke. Namun yang terpenting adalah implikasi dari penemuan ini dan kebanyakan studi penelitian yang menggunakan jaringan otak manusia untuk menemukan pengobatan serta penyembuhan potensial untuk gangguan seperti autisme, skizofrenia dan penyakit Alzheimer, tidak memperhitungkan ekspresi gen post-mortem atau aktivitas sel tersebut.

Sebagian besar penelitian manusia berasumsi bahwa segala sesuatu di otak berhenti saat jantung berhenti berdetak, tetapi hal tersebut tidak semudah itu terjadi begitu saja, temuan terbaru ini akan diperlukan untuk menafsirkan penelitian tentang jaringan otak manusia. Namun memang disadari bahwa tetap perlu untuk mengukur perubahan ini sampai sekarang atau di masa depan. Dengan memperhatikan bahwa pola global ekspresi gen di jaringan otak manusia segar tidak sesuai dengan laporan yang dipublikasikan tentang ekspresi gen otak postmortem dari orang-orang tanpa gangguan neurologis atau dari orang-orang dengan berbagai macam gangguan neurologis, mulai dari autism sampai Alzheimer. Para peneliti memutuskan untuk melakukan eksperimen kematian simulasi dengan melihat ekspresi semua gen manusia, pada titik waktu dari 0 hingga 24 jam, dari sekumpulan besar jaringan otak yang baru dikumpulkan, yang dibiarkan duduk pada suhu kamar untuk mereplikasi kejadian tersebut agar semirip mungkin dengan keadaan aslinya.

Zombie Brain monster illustration | pixabay.com

Penelitian ini tentu tidak sembarangan dilakukan namun dengan bank jaringan otak manusia dari pasien dengan gangguan neurologis yang telah setuju untuk mengumpulkan dan menyimpan jaringan untuk penelitian baik setelah mereka meninggal, atau selama operasi perawatan standar untuk mengobati gangguan seperti epilepsi. Misalnya, selama operasi tertentu untuk mengobati epilepsi, jaringan otak epilepsi diangkat untuk membantu menghilangkan kejang. Tidak semua jaringan diperlukan untuk diagnosis patologis, sehingga sebagian dapat digunakan untuk penelitian.

Para peneliti menemukan bahwa sekitar 80% gen yang dianalisis tetap relatif stabil selama 24 jam dan ekspresinya tidak banyak yang berubah. Gen yang termasuk ini sering disebut sebagai gen housekeeping yang menyediakan fungsi seluler dasar dan biasanya digunakan dalam studi penelitian untuk menunjukkan kualitas jaringan. Kelompok gen lain, yang diketahui ada di neuron dan terbukti terlibat secara rumit dalam aktivitas otak manusia seperti memori, aktivitas berpikir, dan kejang, dengan cepat terdegradasi beberapa jam setelah kematian. Sedangkan kelompok gen ketiga adalah yang disebut sebagai 'gen zombie' yaitu gen yang meningkatkan aktivitas mereka pada saat yang sama dengan penurunan gen saraf. Pola perubahan post-mortem mencapai puncaknya sekitar 12 jam. Temuan ini tidak berarti bahwa kita harus membuang program penelitian jaringan manusia, itu hanya berarti bahwa peneliti perlu memperhitungkan perubahan genetik dan seluler ini, dan mengurangi interval post-mortem sebanyak mungkin untuk mengurangi besarnya perubahan ini. Kabar baik dari temuan ini adalah bahwa kita sekarang mengetahui gen dan jenis sel mana yang stabil, mana yang terdegradasi, dan mana yang meningkat seiring waktu sehingga hasil dari studi otak postmortem dapat lebih dipahami.