Tekno & Sains
·
17 Juli 2021 12:43
·
waktu baca 3 menit

Melawan Pemanasan Global dengan Pola Diet Makan Rendah Karbon

Konten ini diproduksi oleh Lampu Edison
Sistem pangan dunia –dari menanam hingga memanen tanaman, hewan ternak dan produk hewani seperti sapi, ayam, keju, susu, babi, sayuran, dan lain-lain− termasuk proses mengolah, mengemas produk, dan memasarkan produk ke seluruh dunia, telah menyumbang sekitar seperempat gas rumah kaca bumi.
ADVERTISEMENT
Selama manusia hidup dan makan, maka manusia akan selalu menjadi bagian besar dari sistem pangan dunia. Apa yang harus kita lakukan untuk menekan peningkatan gas rumah kaca bumi? Apakah mengubah pola makan bisa membuat bumi menjadi lebih baik?
Melawan Pemanasan Global dengan Pola Diet Makan Rendah Karbon (215256)
searchPerbesar
Makanan | Sumber: Pxfuel
Perhatikan jenis makananmu!
Jenis makanan yang kita konsumsi setiap hari menentukan seberapa besar akumulasi jejak karbon harian kita. Proses pangan dari awal hingga sampai ke meja makan sangatlah panjang dan terus menerus menyumbang gas rumah kaca ke atmosfer bumi.
Proses ini terjadi setiap hari di berbagai belahan bumi. Dari proses pembukaan lahan untuk pertanian dan peternakan –dengan menebang hutan misalnya, atau lebih buruk membakar lahan hutan− akan melepas karbon yang tersimpan di tanah ke atmosfer. Kemudian ketika ternak dimulai, maka hewan ternak akan menghasilkan kotoran yang mengandung gas metana, dan gas rumah kaca lainnya. FYI, kotoran ternak dan lahan sawah menjadi penyumbang gas metana yang besar bagi atmosfer. Kemudian, bahan bakar fosil yang digunakan untuk mengoperasikan mesin pertanian dan transportasi produk, semuanya menghasilkan emisi karbon.
ADVERTISEMENT
Sebuah analisis yang dilakukan pada tahun 2018, melakukan perhitungan emisi karbon yang dihasilkan dalam proses pangan. Studi ini memperhitungkan semua faktor yang digunakan ketika memproduksi makanan, termasuk lahan yang dibutuhkan untuk produksi, proses pertanian, transportasi, dan proses penjualan.
Hasilnya menunjukkan bahwa makanan hewani cenderung memiliki jejak karbon yang lebih besar dibandingkan dengan makanan nabati.
Jejak karbon pangan −emisi gas rumah kaca per kilogram untuk berbagai kelompok makanan− tertinggi adalah daging sapi (beef herd) sebesar 59,6 kgCO2eq per kg, daging domba 24,5 kgCO2eq per kg, keju 21,2 kgCO2eq per kg, dan daging sapi (dairy herd) 21,1 kgCO2eq per kg. kemudian berturut-turut disusul oleh dark cokelat, kopi, udang tambak, palm oil. Sementara itu produk makanan nabati cenderung menghasilkan jejak karbon yang rendah. Susu kedelai misalnya, hanya 1 kgCO2eq per kg, singkong 0,9 kgCO2eq per kg, pisang 0,8 kgCO2eq per kg, apel 0,3 kgCO2eq per kg, dan kacang 0,4 kgCO2eq per kg. List selengkapnya bisa dibaca di sini.
ADVERTISEMENT
Rencanakan pola makan, makan dihabiskan!
Limbah makanan adalah salah satu masalah yang timbul akibat sistem makan yang tidak direncanakan. Amerika membuang sekitar 40 persen makanannya, sementara itu Indonesia menghasilkan sekitar 300 kg sampah makanan per orang per tahun!
Tips mengurangi limbah makanan dimulai dari merencanakan makan harian. Belilah bahan makanan sesuai dengan kebutuhan, jangan berlebihan. Gunakan wadah aman untuk membungkus makanan agar makanan lebih tahan lama. Jika ada limbah makanan (bonggol sayuran, tulang, kulit) maka dibuat kompos agar metana yang dihasilkan lebih rendah dibandingkan dengan dibuang begitu saja ke kotak sampah.
Konsumsi hewani nabati seimbang
Cobalah konsumsi hewani dan nabati dengan seimbang dan tidak berlebihan. Coba untuk mengganti menu makanan harian agar tidak mengkonsumsi daging setiap hari. Protein hewani bisa diganti dengan protein nabati –tahu, tempe, susu kedelai misalnya−
ADVERTISEMENT
Kurangi makanan beku/proses
Makanan beku/proses telah melalui banyak proses produksi yang meninggalkan banyak jejak karbon. Jika Anda bisa mengurangi atau bahkan menghindari makanan proses, maka itu akan berdampak baik bagi bumi, dan juga bagi kesehatan tubuh Anda.
Makan makanan lokal
Makan produk lokal bisa mengurangi proses transportasi produk makanan. Kita tidak perlu memakan produk makanan dari tempat yang jauh, jika di sekitar kita juga memproduksi makanan yang serupa.
Sumber: 1, 2, dan 3
Baca Lainnya
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020