Konten dari Pengguna

Memilih Baju yang Lebih Ramah Lingkungan

Lampu Edison

Lampu Edison

Edison 9955 kali gagal menemukan lampu pijar yang menyala. Jika ia berhenti di percobaan ke 9956, mungkin sekarang kita tidak akan punya lampu.

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Lampu Edison tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Tahukah kalian bahwa baju dari bahan spandex setiap dicuci melepaskan ribuan mikrofiber yang akan mencemari lingkungan?

Seperti halnya makanan, kita juga mudah melupakan dari mana baju berasal karena display yang menarik di toko. Satu-satunya hal yang kita pedulikan biasanya adalah harganya. Kini banyak orang yang telah menyadari bahwa harga yang harus dibayar untuk mencemari lingkungan jauh lebih besar daripada harga yang tertera di banderol dari toko. Dulunya semua kain yang diproduksi menjadi baju, atau sprei dan gorden didesain dengan sangat baik sehingga akan tahan lama. Proses produksi lebih berfokus pada kualitas ketimbang kuantitas. Produk-produk saat ini kebanyakan hanya didesain untuk bisa tahan selama beberapa bulan dan bukan dalam kurun waktu tahun. Diperkirakan setidaknya setiap tahunnya di setiap kota ada 200.000 ton sampah dari baju yang tidak lagi terpakai. Walaupun beberapa perusahaan baju terkenal telah memiliki inisiatif untuk mengumpulkan baju untuk didaur ulang, hanya persentase kecil yang bisa menjadi baju kualitas baik saat didaur ulang. Belum lagi dampak lingkungan lain seperti mikrofiber yang lepas dari kain spandex saat dicuci juga baru bisa hilang terdekomposisi dalam waktu ratusan tahun.

Secara umum proses produksi kain meliputi mengambil bahan mentah, pre-treatment (mencuci, pemutihan), dan juga mewarnai serat kain, dan mencetak pola tertentu, sampai tahap labelling. Semua proses ini melibatkan bahan kimia dan toksin yang membawa dampak buruk bagi lingkungan dan juga pekerja.

Lalu bagaimana kriteria kain yang ramah lingkungan? Diantaranya adalah menekan penggunaan bahan kimia dalam proses produksinya serta dapat terdegradasi dengan baik (biodegradable). Perlu dicatat tidak semua kain bersifat biodegradable. Definisi biodegradable adalah mampu diurai secara alami oleh mikroorganisme. Biodegradable berbeda dengan bio-based. Misalnya, katun non-organik adalah bio based karena berasal dari alam, namun tidak biodegradable. Sebagian besar jenis kain tidaklah biodegradable karena telah dicampur dengan bahan kimia untuk memperkuat strukturnya.

Berikut diantara bahan kain yang dapat terdegradasi dengan baik (biodegradable) :

  1. Katun organik : Katun organik adalah katun yang tidak menggunakan pestisida dalam proses penanamannya. Katun organik bisa terdegradasi dalam waktu 5 bulan, mirip dengan sampah dari apel yang bisa terdegradasi dalam waktu 3 bulan.

  2. Sutra : Sutra berasal dari serat natural yang dihasilkan oleh ulat sutra yang membungkus dirinya dalam kepompong. Sutra adalah salah satu serat terkuat di alam. Butuh waktu sekitar 4 tahun agar kain sutra bisa terdegradasi dengan sempurna.

  3. Linen : Bahan ini berasal dari tanaman biji rami yang ditarik dengan tangan untuk mendapatkan panjang serat yang maksimal. Linen adalah bahan yang sangat tahan lama (hingga 20 tahun) namun juga paling mudah terdegradasi menjadi komponen yang tidak merusak tanah jika tidak diberikan pewarna. Linen juga nampak sangat fashionable ketika digunakan dan memiliki pori yang membuat kulit bebas bernapas. Namun, karena effort yang aman besar untuk memintal benang dari linen, harganya menjadi mahal dan dianggap sebagai salah satu kain yang mewah. Menariknya, linen ternyata sudah digunakan sejak zaman Mesir kuno untuk menjadi pembungkus mumi.

  4. Hemp : Bisa dibilang secara fisik mirip dengan linen. Jenis bahan ini juga didapatkan dari spesies tanaman Cannabis Sativa yang merupakan kerabat dekat dari tanaman ganja, namun dengan efek psikotik yang jauh lebih rendah. Sama halnya dengan linen, karena ukuran porinya yang unik Hemp juga melindungi kulit dari sinar matahari dan juga jamur. Hemp tumbuh dengan baik tanpa fertilizer dan pestisida. Hemp juga hanya membutuhkan air yang sangat sedikit untuk dapat tumbuh.

  5. Jute : Dikenal juga dengan nama goni. Berasal dari tanaman yang bernama Corchorus genus. Sama seperti hemp, jute mudah sekali untuk tumbuh dan tergolong murah. Kita mungkin membayangkan jute akan benar-benar kasar seperti goni. Namun, jute biasanya dicampur dengan bahan lain untuk mendapatkan tekstur yang halus dan kuat.

  6. Serat jeruk : Bahan ini adalah inovasi terkini dari limbah perusahaan jus buah.

Kain Linen. Sumber Gambar : textileschool.com