kumparan
8 Jan 2019 22:28 WIB

Menelusuri Sejarah : Dampak Erupsi Krakatau 1883 terhadap Dunia

Seberapa dahsyat dampaknya kepada dunia saat itu?
Erupsi oleh gunung Krakatau pada Agustus 1883 adalah erupsi gunung paling mematikan sepanjang sejarah modern. Diperkirakan setidaknya sebanyak 36.417 orang tewas karena terkena dampaknya. Diantara korban meninggal adalah karena efek suhu yang amat tinggi akibat letusan. Sementara sebagian yang lain meninggal karena tsunami yang diakibatkan tumpahnya abu vulkanik ke kaldera atau cekungan yang terbentuk akibat letusan. Posisi kaldera yang terkena tumpahan abu vulkanik ini berada di bawah permukaan air laut. Letusan ini juga berdampak pada iklim dan menjadikan suhu di seluruh dunia menjadi turun drastis.
ADVERTISEMENT
Aktivitas vulkanik di gunung api Krakatau adalah akibat pertemuan antara lempeng tektonik Indo-Australia yang terus bergeser ke arah utara ke arah Asia daratan. Sebelum terjadi erupsi, terdapat 3 pulau yang merupakan puncak aktivitas magma. Ketiga pulau itu adalah Perboewatan, Danan, dan Rakata.
Pada bulan Mei 1883, kapten kapal perang Elizabeth asal Jerman melaporkan bahwa ia melihat awan vulkanik di atas Krakatau. Tinggi awan vulkanik itu diperkirakan mencapai 9,6 Km. Dua bulan kemudian kapal dagang dan juga kapal komersial melaporkan bahwa terdengar suara dentuman keras menyerupai gemuruh petir dan terlihatnya awan panas. Penduduk di kepulauan sekitar Krakatau menyambut hal ini dengan mengadakan semacam festival yang nantinya akan berujung pada kisah tragis di tanggal 27 Agustus.
ADVERTISEMENT
Pada tanggal 26 Agustus, ledakan awal terjadi mementalkan gas dan banyak pecahan batu dari gunung hingga sejauh 24 Km di atas ketinggian gunung. Pecahan batu-batuan dari letusan awal ini diperkirakan menyumbat saluran di dapur magma sehingga mengakibatkan naiknya tekanan di dapur magma. Pada tanggal 27 Agustus pagi hari, 4 letusan besar terdengar sampai sejauh Perth, di Australia yang tepatnya berjarak 4500 Km dari gunung Krakatau.
Tumpahan lava yang panas kemudian bercampur dengan air laut menghasilkan uap panas. Fenomena ini dinamakan phreatomagmatic. Uap panas ini terbawa arus air laut dengan kecepatan 100 Km/Jam. Sebagai perbandingan, daya ledak bom di Hiroshima kira-kira adalah 1/10.000 dari daya ledak gunung Krakatau saat itu.
ADVERTISEMENT
Pecahan batu vulkanik yang berhamburan membunuh ribuan orang di Jawa pada saat itu. Namun, sebagian besar korban meninggal dikarenakan tsunami. Ketinggian gelombang tsunami pada saat itu diperkirakan mencapai 120 kaki dan terjadi karena amblasnya gunung berapi ke dalam laut. Tsunami ini merusak 165 desa di sekitar perairan gunung Krakatau. Penduduk di pesisir Jawa dan Sumatra melarikan diri ke tempat yang lebih tinggi.
Ledakan Krakatau diperkirakan menghasilkan 45 Km kubic pecahan batu dan lainnya yang juga disebut debris. Debris ini membuat langit menjadi gelap hingga sejauh 442 Km. Di daerah yang terdampak letusan, hingga tiga hari fajar tidak bisa terlihat. Abu vulkanik jatuh dan memenuhi kapal-kapal hingga sejauh 6076 Km. Alat ukur tekanan laut yang dinamakan barographs mengukur bahwa tekanan air laut dunia saat itu naik hingga tujuh kali lipat menyebabkan timbulnya gelombang pasang di seluruh dunia yang menyulitkan nelayan karena ketinggian gelombang mencapai 40 meter di atas permukaan laut. Setelah 13 hari gas sulfur dioxide serta gas lain yang timbul akibat erupsi makin menebal sehingga memfilter sinar matahari yang masuk ke bumi menjadikan seluruh dunia menjadi redup. Suhu di seluruh dunia turun hingga 1,2 derajat Celcius hingga 5 tahun ke depan. Karena atmosfer telah penuh dengan abu halus dan aerosol, fenomena matahari terbenam yang unik dapat terlihat di seluruh penjuru Eropa dan Amerika Serikat. Matahari terbenam yang unik terlihat berwarna hijau dan biru. Letusan kali ini menyebabkan ⅓ bagian dari Krakatau hilang.
ADVERTISEMENT
Munculnya Anak Krakatau
Pada tahun 1927, para nelayan dikejutkan dengan menyembulnya permukaan baru dari dalam laut yang akhirnya disebut dengan nama “Anak Krakatau”. Setelah 44 tahun Krakatau akhirnya “terbangun” lagi dengan bentuk yang baru menyembul dari bawah permukaan laut dengan bentuk mirip pulau kecil. Kecil kemungkinan bahwa akan ada letusan lagi yang menyamai kedahsyatan Krakatau pada tahun 1883. Namun, berada di sekitar Anak Krakatau dan pulau-pulau nya termasuk berbahaya mengingat aktifnya gunung ini sehingga tsunami kecil bisa terjadi kapan saja dengan waktu evakuasi yang sangat singkat karena terlalu dekatnya pulau-pulau ini ke gunung Anak Krakatau.
Sumber : Livescience, http://volcano.oregonstate.edu/
Sumber Gambar : Wikimedia Common
Tulisan ini adalah kiriman dari user, isi tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan