Mengapa Hidung Rudolph Berwarna Merah?

Edison 9955 kali gagal menemukan lampu pijar yang menyala. Jika ia berhenti di percobaan ke 9956, mungkin sekarang kita tidak akan punya lampu.
Tulisan dari Lampu Edison tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Bagi kamu para penggemar Sinterklas, pasti tidak asing lagi dengan sosok Rudolph, salah satu rusa dari sembilan rusa kutub milik Sinterklas yang menarik kereta berisi hadiah untuk anak-anak di malam Natal.

Karakter fiktif ini merupakan rusa termuda yang terkenal karena hidung merahnya. Ia sering diolok-olok oleh teman-teman rusa kutub lainnya karena hidungnya tersebut yang dianggap lucu. Namun pada malam Natal, Sinterklas meminta Rudolph untuk menjadi pemimpin barisan rusa di paling depan karena hidungnya yang merah menyala dapat menjadi penerang di malam musim dingin yang gelap.
Meskipun Rudolph hanyalah karakter fiktif buatan Robert Lewis May pada 1939, tapi ternyata hidung merah rusa kutub bukanlah cerita bohong. Warna merah benar-benar terlihat di hidung mereka. Tapi mengapa bisa begitu? Dan apa guna hidung merah pada rusa kutub? Apa benar-benar untuk menerangi jalan?
Ada beberapa peneliti dari Erasmus Medical Center di Rotterdam, Belanda dan University of Rochester di New York, AS yang melakukan riset untuk mengungkap misteri tersebut. Rusa kutub memiliki hidung berwarna merah karena jaringan pembuluh darah yang sangat padat pada organ pernapasan tersebut. Hewan tersebut memiliki 25 persen pembuluh kapiler lebih banyak dari manusia. Pembuluh tersebut membawa darah yang berwarna merah dan kaya akan oksigen.
Rusa kutub hidup di daerah kutub dan negara-negara utara yang beriklim sangat dingin. Hidup di tempat tersebut, ditambah lagi jika mereka harus menarik kereta santa ke atmosfer, membuat mereka harus bertahan dari suhu yang sangat rendah. Banyaknya sirkulasi darah pada hidung rusa kutub membuat permukaan hidung tetap hangat. Banyaknya jaringan pembuluh darah di hidung Rudolph berguna untuk mengatur suhu di dalam tubuh hewan tersebut. Terutama karena rusa kutub, sama dengan hewan mamalia lainnya kecuali manusia, tidak bisa berkeringat.
Para peneliti menggunakan instrumen berteknologi tinggi untuk melakukan penelitian tersebut. Alat yang digunakan adalah mikroskop genggam yang dapat mengambil rekaman gambar di bagian dalam tubuh. Dengan alat tersebut para peneliti membandingkan pembuluh darah dua ekor rusa kutub (Rangifer tarandus) dan manusia. Ada enam orang yang berpartisipasi dalam studi ini. Lima di antaraya memiliki hidung yang sehat, sementara satu orang lagi memiliki polip pada hidungnya.
Satu relawan yang memiliki gangguan hidung tersebut diperiksa setelah menghirup 100 miligram kokain. Dalam laporan risetnya, para peneliti menjelaskan bahwa kokain adalah obat yang secara rutin digunakan dalam dunia medis untuk mengobati tenggorokan, telinga, dan hidung sebagai anestesi lokal dan vasokonstriktor.
Eksperimen dilakukan dengan membuat manusia dan rusa kutub berlari di atas treadmill. Hasilnya adalah hidung rusa kutub berubah warna menjadi merah setelah berlari beberapa saat. Gambar diambil dalam bentuk termografik di mana warna merah menunjukkan suhu yang hangat.
Hasil lainnya yang mereka dapat adalah ditemukannya struktur-struktur seperti kelenjar dalam selaput lendir pada hidung rusa kutub dan manusia. Struktur-struktur tersebut dikelilingi oleh pembuluh-pembuluh kapiler. Menurut para peneliti, struktur-struktur tersebut berfungsi untuk mengeluarkan lendir, setidaknya pada manusia.
Hasil penelitian tersebut menyoroti karakter fisiologi intrinsik pada Rudolf dan rusa-rusa kutub lainnya. Hidung yang merah melindungi mereka supaya tidak beku pada udara dingin dan mengatur suhu pada otak mereka.
Kepopuleran hidung merah Rudolph tersebar sampai ke seluruh dunia. Kisah Rudolph-pun diadaptasi ke dalam berbagai bentuk, mulai dari film, kisah televisi, permainan, dan yang paling terkenal adalah lagu Rudolph the Red Nose Reindeer yang sering kita dengar ketika musim Natal tiba.
