Mengapa Kita Tidak Bisa Berhenti Ketika Makan Keripik?

Edison 9955 kali gagal menemukan lampu pijar yang menyala. Jika ia berhenti di percobaan ke 9956, mungkin sekarang kita tidak akan punya lampu.
Tulisan dari Lampu Edison tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Sebelum keping terakhir habis tak tersisa, mustahil rasanya untuk berhenti ketika sedang menikmati keripik.

Sumber Gambar: Pixabay
Siapa yang tidak suka keripik? Rasa-rasanya setiap orang menikmati camilan satu ini. Di Indonesia sendiri, kita punya beragam jenis keripik mulai dari keripik yang terbuat dari kentang, singkong, gadung, pisang, tempe, buah-buahan, sayuran, bahkan ada yang mengkreasikan batang pohon pisang menjadi keripik kegemaran. Selain itu, kita juaranya soal keragaman rasa keripik. Manis, pedas, asin, gurih semua tersedia. Seperti keripik singkong balado khas padang, keripik singkong gurih pedas ala bandung atau keripik buah-buahan manis gurih dari malang. Banyaknya pilihan ini juga turut membuat selalu ketagihan. Siapa yang berani menolak?
Dimulai dengan segenggam keripik kentang gurih, namun kita tentunya tidak akan puas dengan itu. Tidak lama, kita dapat menghabiskan sebungkus keripik kentang di pangkuan sembari menonton tivi atau mengobrol. Mengapa kita rasanya seperti tidak bisa berhenti ketika sedang makan keripik? Bagaimana sains menjelaskan ini?
Beberapa penelitian dilakukan untuk menganalisis fenomena ini. Konsumsi keripik secara berlebihan erat kaitannya dengan kandungan lemak serta garam atau gula yang cukup tinggi dalam keripik yang memicu selera makan. Dr Jhon Resch dari Beth Israel Deaconess Medical Center di Boston berhasil menemukan beberapa grup neuron yang mengontrol keinginan tubuh terhadap konsumsi sodium. Temuan ini mengidentifikasi sebuah sirkuit di otak yang secara spesifik mendeteksi adanya defisiensi kandungan garam di dalam tubuh dan memberikan perintah pada tubuh untuk mengkonsumsi garam dan mengoreksi kekurangan ini.
Dr Jhon Resch juga menegaskan bahwa konsumsi sodium diatur sepenuhnya oleh otak dan dapat terjadi disfungsi pada struktur neuron ini yang dapat mengakibatkan konsumsi garam secara berlebihan. Disfungsi ini terjadi karena otak sangat baik mendeteksi kekurangan garam namun tidak cukup baik dalam mendeteksi kelebihan garam. Itu sebabnya tubuh seperti dikelabui untuk terus menerus memakan keripik yang banyak mengandung garam.
Lebih lanjut sebuah studi lain juga menyebutkan bahwa mengkonsumsi garam dapat memicu produksi dopamine. Dopamine merupakan hormon neurotransmitter yang dapat mengontrol perasaan bahagia. Sehingga konsumsi keripik dengan kadar garam tinggi akan meningkatkan dopamine dan menimbulkan perasaan bahagia. Jadi sains telah membuktikan tubuh secara alamiah tidak dapat menolak untuk berhenti mengkonsumsi garam—dalam hal ini terkandung dalam keripik, dan akhirnya kita seperti tidak bisa berhenti, ingin makan lagi dan lagi.
Namun perlu diperhatikan penelitian lain selama 12 tahun terakhir membuktikan bahwa konsumsi garam berlebih dapat meningkatkan risiko gagal jantung. Organisasi kesehatan dunia atau WHO merekomendasikan konsumsi garam sebanyak 5 gram per hari namun kebanyakan orang mengkonsumsi lebih dari 140% dari angka yang disarankan. Menurut WHO menurunkan konsumsi garam dapat membantu menurunkan tekanan darah dan menurunkan resiko penyakit kardiovaskuler, stroke atau serangan jantung koroner. Keripik yang dibuat dengan cara digoreng juga mengandung acrylamide, bahan kimia yang bersifat mutagen, neurotoxin dan karsinogen. Jadi meskipun keripik-keripik yang kita makan sangat nikmat dan rasanya seperti tidak dapat berhenti, kita harus mulai awas terhadap konsumsi garam berlebihan dapat beresiko buruk terhadap kesehatan.
Kemudian bagaimana caranya untuk mengkonsumsi keripik secara lebih sehat?
Ganti keripik anda dengan keripik berkadar garam rendah. Mengganti keripik dengan yang berkadar garam rendah dapat membantu mengurangi konsumsi garam perhari. Lebih baik lagi apabila kita dapat mengurangi konsumsi keripik secara keseluruhan
Konsumsi keripik yang dibuat dengan cara dipanggang. Keripik yang dibuat sendiri lebih sehat dibanding dengan keripik yang kita beli di supermarket, karena mengurangi tambahan bahan pengawet maupun garam. Kita dapat membuat keripik dengan mengganti jenis minyak untuk menggoreng seperti minyak biji bunga matahari. Namun keripik yang dipanggang ternyata lebih sehat dibandingkan dengan keripik yang dibuat dengan cara digoreng/deep fried.
Keripik dari buah dan sayur lebih sehat dibandingkan keripik kentang. Keripik yang dibuat dari buah-buahan atau sayur seperti wortel, ubi manis atau apel dinilai lebih sehat apabila diproses dengan cara dipanggang bukan digoreng.
Usahakan mencari cemilan pengganti seperti buah segar, kacang-kacangan atau sayur.
Lebih banyak mengkonsumsi air dan protein sehingga hasrat untuk “ngemil” menjadi berkurang. Jika kita selalu merasa lebih kenyang, selera makan palsu yang mendorong kita untuk mengkonsumsi keripik dapat ditekan.
Sumber:
https://www.rd.com/food/fun/why-are-potato-chips-addictive/
https://www.prima.co.uk/diet-and-health/diet-plans/news/a40704/science-pringles-salt/
https://thedocskitchen.com/you-need-to-stop-chippin-5-reasons-you-should-consider-eating-less-potato-chips/
