Mirip manusia, Ular Juga Suka Bergaul, Lho!

Edison 9955 kali gagal menemukan lampu pijar yang menyala. Jika ia berhenti di percobaan ke 9956, mungkin sekarang kita tidak akan punya lampu.
Tulisan dari Lampu Edison tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Ular merupakan salah satu reptil karnivora yang paling ditakuti karena jiwa pemangsa yang dimilikinya. Hewan ini juga sering dianggap sebagai predator tunggal yang individualis, karena jarang sekali mereka terlihat berkumpul satu dengan lainnya. Namun jangan salah, hal ini tidak terjadi pada ular garter.

Penelitian terbaru menunjukkan bahwa ular garter merupakan makhluk sosial. Garter sendiri adalah sebutan untuk jenis-jenis ular dari genus Thamnophis. Ular ini tidak berbahaya dan dapat dijumpai di seluruh Amerika Utara dan sebagian wilayah Amerika Tengah.
Pada penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Behavioral Ecology and Sociobiology, diketahui bahwa ular garter sangat senang bergaul dengan ular lain yang sejenis. Ular ini juga lebih suka menghabiskan waktu bersama kawanannya, dibandingkan sendirian.
Graham Alexander, seorang Herpetolog dari Universitas Alexander Witwatersrand, yang tidak terlibat dalam penelitian mengatakan bahwa ular merupakan binatang yang sulit untuk dipelajari karena sifatnya yang tertutup. Namun, studi terbaru ini telah berhasil mengungkap sisi lain ular sebagai makhluk kognitif.
Untuk mempelajari bagaimana sosialisasi memengaruhi hewan, psikolog komparatif Noam Miller dan mahasiswa pascasarjana Morgan Skinner dari Universitas Wilfrid Laurier telah lama mempelajari pola interaksi dari berbagai spesies hewan. Mereka memperkirakan bahwa hewan yang berbeda mungkin memiliki cara interaksi yang berbeda dalam kelompok. Karena beberapa peneliti telah mengamati ular, Skinner memutuskan untuk menguji 40 ular garter timur (Thamnophis sirtalis sirtalis) yang masih muda untuk menilai kepribadian dan preferensi sosial mereka.
Skinner menyediakan 4 kandang berdinding dengan ukuran sisi kurang dari 1 meter. Kemudian, Ia menempatkan pada masing-masing kandang, 10 ekor ular yang telah ditandai dengan titik berwarna di kepalanya. kandang ini juga telah dilengkapi kamera yang akan mengamati pergerakan ular.
Dua kali sehari, Skinner memotret pengelompokan ular, kemudian mengeluarkan reptil tersebut dan membersihkan kandang untuk menghilangkan bau. Setelah bersih, ular-ular tersebut akan dimasukkan kembali ke posisi yang berbeda. Selanjutnya, kamera akan melacak apakah kelompok yang sama terbentuk kembali.
Dari percobaan yang dilakukan, mereka mengamati adanya pembentukan kelompok yang terdiri dari 3-8 ekor ular di salah satu kandang. Kelompok-kelompok itu terdiri dari anggota yang sama, sehingga mereka menduga bahwa ular-ular tersebut membentuk “geng” atau kelompok-kelompok kecil.
Dilansir dari situs sciencemag, Skinner mengatakan bahwa struktur sosial dari ular garter mirip dengan mamalia, termasuk manusia.
Terlebih lagi, Skinner dan Miller mencatat beberapa ciri kepribadian ular yang sangat mirip manusia. Beberapa ular terlihat lebih berani daripada yang lainnya. Hal ini diketahui setelah mereka menguji “keberanian” ular dengan meletakkannya sendirian di dalam kandang yang pintunya dibiarkan terbuka. Dari pengamatan ini terlihat bahwa ada beberapa ular yang berani, dimana mereka menghabiskan banyak waktu di luar, sementara itu yang lainnya terlihat malu dan lebih memilih untuk tinggal di dalam kandang.
Ketika ular berada dalam kelompok, mereka cenderung melakukan apa yang kelompok lakukan, terlepas dari kepribadian mereka sendiri.
Miller menjelaskan bahwa ada manfaat dari interaksi sosial, terutama bagi ular yang lebih muda. Sama seperti reptil lainnya, ular adalah hewan berdarah dingin, dimana mereka membutuhkan panas. Dengan membentuk kelompok, mereka dapat mempertahankan panas dan kelembaban yang lebih optimal dibandingkan ketika sendirian. Selain itu, jika predator menyerang, setiap individu dalam kelompok memiliki peluang yang lebih besar untuk melarikan diri. Ular juga dapat berbagi informasi satu sama lain, misalnya informasi apakah di luar aman atau tidak.
Penelitian lain yang dilakukan oleh Harvey Lillywhite, seorang ahli ekologi fisiologis di Universitas Florida dan murid-muridnya juga menyoroti perilaku sosial pada ular. Lillywhite mengamati bahwa ular cottonmouth (Agkistrodon piscivorus) jantan dan betina telah berpasangan dalam waktu yang lama dan mereka mencari makan secara bersama-sama.
Lillywhite memperingatkan bahwa hasil dari studi terbaru ini mungkin tidak berlaku di alam liar. Desain kandang yang berbeda pun mungkin akan menghasilkan pola interaksi yang berbeda. Namun demikian, temuan ini merupakan awal yang signifikan untuk menjelaskan perilaku sosial reptil, khususnya pada ular.
Menurut Miller, temuan tentang interaksi sosial antara ular ini dapat membantu dalam upaya konservasi. Jika mereka tahu bahwa ular lebih suka bergaul dalam kelompok, mungkin upaya konservasi dapat dilakukan dengan memindahkan seluruh kelompok atau memberikan “aroma” spesies ke lokasi konservasi, sehingga ular-ular tersebut akan lebih betah di lokasi baru.
Sumber:
Sciencemag & Mother Nature Network
