kumparan
KONTEN PENGGUNA
14 Februari 2020 19:33

Perkembangan Ilmu Kedokteran Gigi

dentist-428646_1920.jpg
Sumber gambar : Pixabay
Kesehatan gigi dan mulut berkaitan erat dengan kesehatan tubuh. Banyak yang menganggap menyikat gigi saja sudah cukup. Namun rutinitas menggosok gigi, membersihkan rongga mulut menggunakan obat kumur, dan menggunakan benang gigi ternyata belum cukup untuk menjaga kesehatan gigi dan mulut.
ADVERTISEMENT
Gigi dan mulut yang bermasalah dapat berakibat fatal bagi kesehatan tubuh secara keseluruhan. Infeksi pada gigi atau gusi dapat menyebar ke dalam jaringan tubuh lain.
Penyakit yang ditimbulkan tidak hanya berkaitan dengan kesehatan gigi dan mulut, tapi juga kesehatan organ lain. Maka dari itu sangat penting bagi kita untuk mengecek kesehatan gigi kita setiap 6 bulan sekali, namun bagaimana perkembangan tentang dokter gigi itu sendiri?
Ilmu kedokteran gigi diyakini sudah ada sejak Firaun ramses II. Dr Ja’far khadem yamani menyatakan pada saat itu sudah ada tabib ahli gigi yang tinggal di istana Firaun yang bernama Bahab Azz.
Seribu tahun sebelum kelahiran Nabi Musa AS, orang-orang Akadia dan Mesir sudah mampu membuat alat berupa pinset gigi, pengikiran gigi dan tang pencabut gigi. Kini di Mesir tumbuh jurusan kedokteran gigi. Wajib ditempuh selama 5 tahun plus 1 tahun magang di klinik gigi.
ADVERTISEMENT
Misalnya di Ain Shams University, Alexandria University, Suez canal University dan al-Azhar. Di negerinya para filosof, Orang-orang yunani baru mengenal ilmu kedokteran gigi setelah mereka menamatkan belajarnya di Mesir. Mereka pulang ke Athena sambil membawa buku-buku kedokteran gigi.
Sementara pada masa pendirian Baitul hikmah di Baghdad, menurut Dr Ja’far khadem sudah banyak kitab/buku tentang kedokteran gigi yang diterjemahkan ke dalam bahasa Arab.
Di Baghdad, sudah ada kursi khusus untuk pasien yang akan memeriksakan giginya. Hampir di setiap kota dari baghdad, Damsyiq, Qurthubah sampai Iskandariyah terdapat balai pengobatan gigi. Dr Ja’far menyimpulkan bahwa sesungguhnya ilmu kedokteran gigi modern sekarang ini merupakan pengembangan dari kedokteran gigi di Andalusia.
Di benua Amerika, ilmu kedokteran gigi tak luput dari sejarah pendirian University of Maryland School of Dentistry. Kampus yang didirikan tahun 1840 ini dinobatkan sebagai kampus yang menyediakan fakultas kedokteran gigi pertama di dunia. Prof Chapin A. Harris adalah dekan pertama di kampus tersebut sekaligus guru besarnya.
ADVERTISEMENT
Kampus ini resmi membuka pendaftaran pada 3 November 1840. Ketika itu hanya ada 5 peserta didik. Bila di benua Amerika ditandai dengan berdirinya fakultas kedokteran gigi, maka di Eropa khususnya Inggris ditandai dengan berdirinya rumah sakit gigi pada tahun 1858 di kota london. Dua tahun berikutnya, menurut Amolak singh disana baru didirikan the Royal college of Surgeons.
Bagaimana dengan Indonesia? Sewaktu masih bernama Hindia belanda, di kota Surabaya telah berdiri sekolah kedokteran yang bernama Nederlandsch-Indische Artsen School (NIAS) pada tahun 1913. Karena lembaga kedokteran gigi belum ada maka kebutuhan akan tenaga kesehatan gigi (dokter gigi) didatangkan langsung dari Eropa (Belanda).
Namun jumlah dokter gigi dari Eropa yang bisa dan mau bekerja di Hindia Belanda pada waktu itu amat terbatas, itupun sebagian besar hanya untuk melayani orang-orang Eropa yang tinggal di sini. Jika orang-orang pribumi menderita penyakit gigi maka sebagian besar dibawa ke dukun atau tabib dengan pengobatan tradisional, dan sebagian lagi dibiarkan untuk sembuh dengan sendirinya.
ADVERTISEMENT
Sampai tahun 1950 Indonesia baru memiliki dua universitas negeri, yaitu Universitas Gadjah Mada di Yogyakarta dan Universitas Indonesia (UI). Selanjutnya tanggal 10 November 1954 secara resmi Universitas Airlangga berdiri.
Dengan berdirinya Universitas Airlangga maka Fakultas Kedokteran dan Institut atau Lembaga Kedokteran Gigi yang semula merupakan cabang dari UI kemudian dipisahkan dari induknya dan digabung ke Universitas Airlangga.
Penyebaran institusi pendidikan kedokteran gigi di Indonesia sampai saat ini juga masih belum merata, hal ini juga merupakan salah satu faktor yang menghambat upaya peningkatan pelayanan kesehatan gigi.
Saat ini institusi pendidikan kedokteran gigi masih terkonsentrasi di pulau jawa. Sementara di Papua dan Maluku masih seidikit institusi pendidikan kedokteran gigi.
ADVERTISEMENT
Tulisan ini adalah kiriman dari user, isi tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan