Polusi Suara dan Kehidupan Laut

Edison 9955 kali gagal menemukan lampu pijar yang menyala. Jika ia berhenti di percobaan ke 9956, mungkin sekarang kita tidak akan punya lampu.
Tulisan dari Lampu Edison tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Makhluk hidup di bawah laut merespon suara untuk mengenali habitatnya.
Mamalia laut seperti paus, singa laut, anjing laut, dan lumba-lumba menangkap suara di bawah laut untuk mendeteksi hewan buruan juga musuh mereka. Polusi suara di laut mampu meningkatan hormon stres pada paus akibat polusi suara. Efeknya pola makan dan reproduksi paus dapat berubah.
Aktivitas manusia yang secara langsung meningkatkan polusi suara misalnya eksplorasi minyak di lepas pantai. Pengeboran dan suara mesin kapal dapat meningkatkan kebisingan. Berkurangnya es di kutub utara secara tidak langsung berpengaruh pada polusi suara di laut. Lapisan es adalah penyerap suara dari permukaan air agar tidak masuk ke bawah laut. Selain itu, es yang mencair akan memperluas habitat bagi hewan laut. Migrasi hewan dari sub-artik ke utara telah terjadi. Selain meningkatkan kebisingan, migrasi hewan laut juga berdampak pada kompetisi makanan dan penyebaran penyakit.
Polusi udara selain berdampak pada kondisi fisiologi hewan juga mengganggu komunikasi antar kelompok. Komunikasi ini menjadi penting apalagi ketika masuk musim kawin. Dalam jangka panjang, ini akann berdampak pada kelangsungan hidup makhluk laut. Berbagai cara dapat dilakukan untuk mengurangi polusi suara di laut misalnya dengan mengurangi laju kapal serta lebih bijaksana dalam merencanakan transportasi laut. Upaya untuk mengurangi dampak aktivitas manusia terhadap pemanasan global juga terus dilakukan.
