Tekno & Sains
·
15 Oktober 2020 18:46

Rahasia di Balik Kekuatan Super Tardigrada yang Tahan Terhadap Radiasi UV

Konten ini diproduksi oleh Lampu Edison
Rahasia di Balik Kekuatan Super Tardigrada yang Tahan Terhadap Radiasi UV (21252)
Tardigrada atau beruang air, yang diamati melalui mikroskop objektif | Gambar oleh Darron Birgenheier dari wikimedi commons
Pernahkah kalian mendengar tardigrada? Tardigrada atau yang dikenal dengan beruang air merupakan hewan mikroskopis yang hidup di air (baik perairan tawar maupun asin) dan di wilayah berlumut. Hewan ini memiliki panjang 0,5 hingga 1 mm, tubuhnya bersegmen dan dilengkapi dengan empat pasang kaki yang gemuk.
ADVERTISEMENT
Walaupun kecil, tardigrada dikenal sebagai hewan yang paling tangguh dan sulit dihancurkan di dunia. Hewan ini mampu bertahan hidup pada suhu dan tekanan yang ekstrem, serta ruang hampa udara. Selain itu, mereka juga bisa bertahan hidup tanpa makan hingga 30 tahun dan tetap kembali hidup normal.
Rahasia di Balik Kekuatan Super Tardigrada yang Tahan Terhadap Radiasi UV (21253)
Hasil SEM dari tardigrada yang aktif | Gambar oleh Schokraie E, dkk. dari wikimedia commons
Namun kemampuan tardigrada tidak berhenti sampai di situ, sebab penelitian terbaru berhasil mengungkapkan kekuatan super lain yang membuatnya semakin tangguh.
Dalam studi yang dilaporkan di Biology Letters, ilmuwan menemukan bahwa tardigrada mampu menahan dosis radiasi ultraviolet (UV) yang mematikan.
Sebelumnya, peneliti telah mengamati adanya sistem proteksi pada tardigrada berupa protein 'penekan kerusakan' yang disebut Dsup. Akan tetapi, temuan terbaru mereka menunjukkan bahwa rahasia di balik ketahanan tardigrade terhadap UV adalah fluoresensi, yang merupakan salah satu mekanisme biologis.
ADVERTISEMENT
Studi yang dilakukan oleh tim dari the Indian Institute of Science ini menggunakan strain baru dari genus Paramacrobiotus, yaitu Paramacrobiotus BLR, yang termasuk dalam kelas eutardigrada.
Eutardigrada terdiri dari kelas tardigrada terbesar. Mereka memiliki tampilan yang solid dengan pelengkap lateral (potongan yang terlihat seperti lengan dan kaki) yang lebih kecil.
Tim mengisolasi Paramacrobiotus BLR dari sampel lumut yang tumbuh di dinding beton di Bengaluru, India. Selanjutnya, mereka meradiasi tardigrada dengan sinar UV yang dipancarkan dari germicidal lamp (lampu kuman). Hal ini dilakukan untuk tujuan sterilisasi sehingga organisme seperti bakteri dan virus mati.
Berdasarkan eksperimen yang dilakukan, tim menemukan fakta menarik. Di bawah sinar mematikan ini, Paramacrobiotus BLR memancarkan sinar biru cerah, dan menunjukkan bentuk fluoresensi alami yang disebut autofluoresensi. Jenis fluoresensi ini, sebelumnya telah diamati pada banyak hewan, termasuk burung beo, kalajengking, bunglon, dan katak.
ADVERTISEMENT
Tim yang dipimpin oleh ahli biokimia Harikumar R. Suma, menjelaskan dalam makalah mereka bahwa pada burung beo, hal ini dikaitkan dengan sinyal visual terhadap calon pasangan. Meskipun demikian, tujuan fungsional sebenarnya dari fenomena autofluoresensi masih belum jelas.
Fakta lain yang ditemukan adalah Paramacrobiotus BLR tidak hanya bersinar di bawah radiasi UV. Sebagian besar strain ini juga tahan terhadap kerusakan akibat radiasi sinar, bahkan hingga satu jam.
Sebaliknya, Hypsibius exemplaris, spesies tardigrada yang digunakan sebagai kontrol, dan beberapa cacing gelang di sekitarnya (yang dimasukkan ke dalam campuran untuk keakuratan pengukuran), tidak tahan terhadap radiasi.
Menurut para peneliti, fluoresensi inilah yang memungkinkan Paramacrobiotus BLR tolerir terhadap radiasi.
Dalam percobaan lain, tim mengekstrak senyawa kimia berair yang berpendar dari Paramacrobiotus BLR dan menutupi H. exemplaris dengan senyawa tersebut. Hasilnya menunjukkan adanya peningkatan toleransi H. exemplaris terhadap UV dibandingkan sebelumnya. Mereka menyimpulkan bahwa ini adalah bukti langsung dari fotoproteksi yang disebabkan oleh fluoresensi.
ADVERTISEMENT
Peneliti menambahkan bahwa senyawa fluoresen membentuk 'perisai' terhadap radiasi UV yang melindungi tardigrada dari efek mematikan. Ketika terpapar radiasi, senyawa ini akan menyerap radiasi tersebut dan kemudian melepaskan energi sebagai cahaya biru.
Tim peneliti berspekulasi bahwa strain Paramacrobiotus BLR mungkin mengembangkan mekanisme fluoresensi untuk melawan radiasi UV yang tinggi di India selatan (indeks UV dapat mencapai 10).
Nah, bisa kalian bayangkan jika radiasi terjadi ratusan kali lipat di bumi, ada kemungkinan manusia akan musnah, tapi tidak dengan hewan yang satu ini.
Sumber:
https://www.sciencealert.com/tardigrades-reveal-yet-another-incredible-survival-tactic-glowing-radiation-shields
https://royalsocietypublishing.org/doi/10.1098/rsbl.2020.0391
https://www.theguardian.com/science/2020/oct/14/tardigrades-latest-superpower-a-fluorescent-protective-shield
sosmed-whatsapp-whitesosmed-facebook-whitesosmed-twitter-whitesosmed-line-white