Konten dari Pengguna

Riset: Orang Pemarah Berpikir Mereka Lebih Cerdas dari Orang Lain

Lampu Edison

Lampu Edison

Edison 9955 kali gagal menemukan lampu pijar yang menyala. Jika ia berhenti di percobaan ke 9956, mungkin sekarang kita tidak akan punya lampu.

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Lampu Edison tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Tidak dapat dipungkiri, kita semua pernah mengalami kehilangan kesabaran dan marah. Kemarahan adalah hal yang wajar dan menjadi bagian penting dari emosi manusia. Bahkan pada titik tertentu marah bisa memberikan manfaat sebagai alat komunikasi dan motivator diri.

Namun begitu, marah ternyata memiliki sisi negatif yang tidak bisa dibanggakan. Sebuah riset yang dipublikasikan dalam Jurnal Intelligence pada tahun 2018, menunjukkan bahwa: orang yang sedang marah akan cenderung berpikiran bahwa orang lain lebih bodoh dari mereka, dan mereka otomatis merasa dan berpikir lebih pintar dan cerdas dibandingkan dengan orang lain.

Karena jujur saja, apa yang Anda rasakan ketika Anda sedang marah dan tidak dapat mengendalikan emosi Anda? Tidak perlu menyanggah, sedikit banyak pasti Anda berpikir karena orang lain tidak secerdas Anda bukan? Anda berpikir bahwa orang lain salah, dan Anda benar.

Ilustrasi orang marah | Image by Robin Higgins from Pixabay

Riset dan studi oleh Marcin Zajenkowski dan Gilles E. Gignac ini mengungkapkan bahwa, menjadi marah akan membuat seseorang berpikir bahwa mereka lebih pintar dari sebenarnya. Mereka meng-overestimate atau melebih-lebihkan kecerdasan mereka yang sebenarnya. Semakin cepat emosi seseorang, maka orang tersebut akan cepat merasa semakin pintar. Tak heran, hal ini menunjukkan mengapa berdebat dengan orang yang benar-benar sedang marah sangat sulit dilakukan.

Bagaimana hot-tempered person memandang kecerdasan mereka?

Studi Zajenkowski & Gignac meneliti hubungan orang-orang yang memiliki Trait-Anger (sifat marah) −seperti seseorang yang sering merasakan amarah, mudah tersinggung, iri hati, kebencian, dengan intensitas yang berbeda-beda− dan cara orang pemarah memandang kecerdasan mereka.

Zajenkowski & Gignac melibatkan 528 orang responden, yang diminta untuk menilai seberapa mudah mereka marah dan seberapa tinggi mereka menilai kecerdasan mereka. Studi melihat responden yang sesuai dan masuk dalam karakter pemarah, kemudian melihat penilaian kecerdasannya.

Hasilnya, orang yang memiliki karakter pemarah cenderung percaya bahwa mereka benar-benar pintar dan cerdas.

Hasil ini sangat logis dan masuk akal. Banyak dari kita sering marah saat kita yakin bahwa orang lain melakukan kesalahan atau orang lain tidak benar. Seorang pimpinan misalnya, saat marah mereka mengira bahwa mereka jauh lebih cerdas daripada orang di sekitarnya, padahal belum tentu ia benar. Atau seorang pelanggar lalu lintas yang meluapkan kemarahannya pada orang lain, padahal jelas mereka yang salah.

Orang pemarah cenderung memiliki tanda narsisme

Studi Zajenkowski & Gignac juga menunjukkan bahwa orang yang memiliki sifat marah yang tinggi lebih cenderung memiliki tanda-tanda narsisme. Mereka berpikir mereka adalah pusat, dan dunia berputar di sekitar mereka.

Sifat pemarah bisa diobati

Sifat pemarah adalah manusiawi, bahkan beberapa amarah memiliki beberapa manfaat. Namun jika Anda sering marah, atau jika Anda sering berkata kasar, merasa lebih pintar dari orang lain, bahkan membodoh-bodohi orang lain, maka ada baiknya Anda mulai introspeksi diri.

Jika Anda mendapati diri pada posisi berpotensi untuk marah, maka cobalah untuk meditasi ketenangan. Segera menjauh dari posisi tersebut, dan cobalah mengatur amarah demi kebaikan dan ketentraman hidup Anda. (f.as)

Sumber: Jurnal Intelligence