Serba-serbi Pewarna: Kontroversi Warna Pada Krayon

Edison 9955 kali gagal menemukan lampu pijar yang menyala. Jika ia berhenti di percobaan ke 9956, mungkin sekarang kita tidak akan punya lampu.
Tulisan dari Lampu Edison tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Pemilihan warna pada krayon didapat melalui perdebatan panjang
Sebelum memiliki nama seperti yang kita kenal saat ini, pemberian nama pada warna crayon sempat terlebih dahulu menimbulkan pro-kontra. Hal ini biasanya terkait dengan anggapan mengenai rasisme. Seperti yang terjadi pada perusahaan krayon yang cukup ternama, Crayola, membuat krayon yang kemudian dinamai “flesh (daging).” Warna ini merupakan warna yang kurang lebih menggambarkan warna universal untuk telapak tangan manusia dalam etnis apapun. Namun menjadi perdebatan karena sejak penetapan warna itu, anak-anak menganggap bahwa kulit manusia harus selalu diwarnai dengan warna “flesh”. Maka pada tahun 1962, Crayola mengubah warna “flesh” menjadi warna “peach.” Begitu pun untuk warna “Indian red (merah Indian)” diganti menjadi warna “chestnut (kacang kastanye berwarna coklat kemerahan).” Penyebabnya karena “Indian red” dapat dianggap sebagai bentuk rasis terhadap warna kulit penduduk asli Amerika tersebut. Meskipun awalnya warna tersebut diambil dari pigmen tumbuhan dari India.

Sumber gambar: https://www.braytonlaw.com/
