Konten dari Pengguna

Studi: Antibodi Llama Dapat Membantu Mengobati COVID-19

Lampu Edison

Lampu Edison

Edison 9955 kali gagal menemukan lampu pijar yang menyala. Jika ia berhenti di percobaan ke 9956, mungkin sekarang kita tidak akan punya lampu.

comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Lampu Edison tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

COVID-19 tengah menjadi momok bagi manusia di seluruh belahan dunia. Buruknya dampak yang ditimbulkan dari penyakit ini, mengharuskan para ilmuwan dan praktisi kesehatan untuk memutar otak dalam menemukan alternatif pengobatan. Salah satu cara efektif yang bisa diterapkan dalam penanganan COVID-19 adalah melalui terapi antibodi.

Saat ini, berbagai sumber antibodi telah diuji kemampuannya dalam melawan virus corona. Uniknya, di antara antibodi-antibodi tersebut, ada yang berasal dari hewan, yaitu llama.

Llama atau Lama glama (sumber: wikimedia commons)
zoom-in-whitePerbesar
Llama atau Lama glama (sumber: wikimedia commons)

Mungkin sebagian dari kalian belum familier dengan llama. Dilansir dari situs Britannica, llama (Lama glama) merupakan anggota keluarga Camelidae (binatang berjari kuku genap) asli Amerika Selatan. Binatang ini memiliki kekerabatan yang erat dengan alpaka, guanaco, dan vicuna, yang dikenal sebagai lamoid. Sama seperti lamoid lainnya, llama tidak memiliki punuk seperti unta.

Menurut penelitian yang dilakukan oleh tim ilmuwan internasional, antibodi yang dihasilkan oleh llama mungkin dapat membantu melawan penyakit. Antibodi sendiri merupakan protein yang dihasilkan tubuh untuk melawan berbagai infeksi.

Tim yang terdiri atas para peneliti dari Universitas Texas di Austin, the National Institutes of Health, dan Universitas Ghent di Belgia, berhasil menciptakan antibodi baru yang mengikat erat protein kunci "spike" pada SARS-CoV-2, virus yang menyebabkan COVID-19. Coronavirus diselubungi oleh protein spike yang khas, yang memungkinkan virus dengan mudah menempel ke sel inang.

Pada tes laboratorium awal, para peneliti menemukan bahwa antibodi baru ini mampu memblokir virus sehingga tidak dapat menginfeksi sel dalam kultur.

Jason McLellan, associate professor dalam biosains molekuler dan sekaligus co-author senior mengatakan bahwa antibodi Ini adalah salah satu dari antibodi pertama yang diketahui mampu menetralkan SARS-CoV-2.

Antibodi baru ini terinspirasi oleh seekor llama bernama Winter, yang berusia 4 tahun dan tinggal di Belgia.

Llama dan unta lain seperti alpaca sangat membantu dalam penelitian seperti ini karena mereka membuat dua jenis antibodi: beberapa yang mirip dengan antibodi pada manusia dan yang lainnya hanya sekitar seperempat dari ukuran. Nanobodi kecil atau antibodi domain tunggal berguna pada pengobatan pernapasan karena dapat diubah menjadi uap atau partikel kecil dan digunakan dalam inhaler. Para ilmuwan telah menciptakan inhaler dengan antibodi llama dan mereka berharap suatu hari nanti, produk ini dapat digunakan untuk vaksin flu universal.

Kontribusi Winter dimulai empat tahun lalu ketika dia baru berusia sekitar 9 bulan. Pada 2016, para peneliti mempelajari dua coronavirus terdahulu, yaitu SARS-CoV-1 dan MERS-CoV. Sama halnya ketika manusia diimunisasi, Winter juga disuntik dengan protein spike yang telah distabilkan dari virus-virus itu selama enam minggu. Para peneliti mengumpulkan sampel darah dan mampu mengisolasi antibodi yang berpotensi menghentikan SARS-CoV-1 sehingga tidak menginfeksi sel dalam kultur atau yang mereka sebut dengan VHH-72.

"Temuan Ini adalah hal yang menarik bagi saya karena saya telah mengerjakannya selama bertahun-tahun," kata Daniel Wrapp, seorang mahasiswa pascasarjana di lab McLellan dan penulis pendamping pertama makalah itu. Ia juga menambahkan bahwa dulu, kebutuhan akan pengobatan terhadap virus corona masih sangat kecil dan ini hanya penelitian dasar, namun sekarang, temuan ini berpotensi memiliki dampak bagi kesehatan manusia.

Setelah wabah COVID-19, tim bertanya-tanya apakah antibodi VHH-72 juga bisa efektif terhadap penyakit lain yang terkait SARS-CoV-2. Dalam tes awal, mereka menemukan bahwa antibodi yang dihasilkan llama memang berikatan dengan protein spike, meskipun lemah. Agar ikatan ini menjadi lebih efektif, mereka menghubungkan dua salinan antibodi. Menurut para peneliti, antibodi yang baru direkayasa ini mampu menetralkan SARS-CoV-1 dan SARS-CoV-2.

Selanjutnya, para peneliti akan melakukan uji coba pada hewan, dan apabila berhasil, mereka akan melanjutkan pengujian ke manusia. Tujuannya adalah untuk mengembangkan pengobatan yang akan membantu pasien sesegera mungkin setelah terinfeksi novel coronavirus.

McClellan mengklaim bahwa dengan terapi antibodi, dokter dapat secara langsung memberi pasiennya antibodi pelindung sehingga setelah perawatan, seharusnya mereka akan langsung terlindungi. Antibodi ini juga dapat digunakan untuk mengobati seseorang yang sedang sakit untuk mengurangi keparahan penyakit.

Temuan terkait antibodi dari llama ini telah dilaporkan dalam studi peer-review yang tersedia dalam bentuk pre-proof di jurnal Cell.

Sumber:

Mother Nature Network & Britannica