Tak Hanya Racun, Laba-laba Ini Juga Menularkan Bakteri Super Melalui Gigitannya

Edison 9955 kali gagal menemukan lampu pijar yang menyala. Jika ia berhenti di percobaan ke 9956, mungkin sekarang kita tidak akan punya lampu.
Tulisan dari Lampu Edison tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

The false widow spider atau yang dikenal dengan laba-laba janda palsu merupakan spesies laba-laba kecil berwarna coklat yang ditemukan di Inggris. Binatang dengan nama ilmiah Steatoda nobilis ini terkenal berbahaya dan dapat menghancurkan daging.
Studi terbaru yang dipublikasikan dalam Scientific Reports menunjukkan bukti yang kuat bahwa laba-laba janda palsu dapat menyebabkan infeksi kulit yang berbahaya.
Janda palsu pertama kali ditemukan di pantai Inggris pada tahun 1870-an, dan dalam beberapa dekade terakhir, jangkauannya telah meluas hingga mencapai Irlandia.
Menurut John Dunbar, seorang ahli zoologi di National University of Ireland (NUI) Galway, ada sekitar 10 spesies laba-laba di Eropa barat laut yang memiliki taring yang cukup kuat untuk menembus kulit manusia dan menghasilkan racun, tetapi hanya laba-laba janda palsu bangsawan yang memiliki kemampuan invasif, dan dianggap penting dalam dunia medis.
Pada kebanyakan kasus, efek terburuk yang mungkin terjadi dari gigitan laba-laba janda palsu adalah rasa sakit selama beberapa jam di sekitar lokasi gigitan, dan dalam satu atau dua hari sendi mungkin akan mengalami kaku.
Dampak dari gigitan janda palsu mungkin tidak lebih buruk dari sengatan tawon. Selain itu, racun yang dilepaskan pun bukanlah hal yang perlu dikhawatirkan, tetapi bahaya ini justru datang dari bakteri yang ditemukan di taringnya.
Media Inggris pernah memberitakan sebuah kasus yang terjadi akibat gigitan binatang berkaki delapan ini. Dilaporkan bahwa korban mengalami gejala jari yang berdenyut-denyut, tangan membengkak dengan lubang nanah yang membusuk, sehingga terancam diamputasi, dengan resiko terburuknya adalah kematian.
Saat itu identifikasi sangat sulit dilakukan, namun laba-laba janda palsu biasanya menjadi binatang yang disalahkan.
Para ahli memahami bahwa meskipun laba-laba tersebut meninggalkan beberapa lubang, korbanlah lah yang mungkin memasok bakteri nekrosis dengan menggaruk situs gigitan menggunakan kuku yang kotor.
Bukti kuat yang mendukung kedua penjelasan tersebut masih langka. Oleh karena itu, tim Dunbar melakukan pengujian laboratorium menggunakan spesimen janda palsu dan beberapa spesies lainnya, seperti laba-laba jaring renda (Amaurobius similis) dan laba-laba rumah raksasa (Eratigena atrica). Laba-laba ini diambil dari kebun dan jalan setapak.
Dalam penelitian tersebut, tubuh dan kelisera (alat sengat) laba-laba diseka dan dibersihkan dari bakteri. Peneliti juga mengumpulkan racun laba-laba janda palsu untuk diuji peranannya. Sebelumnya, ada dugaan bahwa racun ini berperan dalam menjaga kesterilan taring laba-laba sehingga saat mereka menggigit, tidak ada transmisi kuman ke tubuh korban.
Hasil pengujian berhasil mematahkan dugaan tersebut. Analisis RNA telah mengungkapkan berbagai mikroba yang ada pada laba-laba. Hampir selusin genus yang diidentifikasi secara total, dan dari 22 spesies bakteri yang ditemukan pada janda palsu, 12 berpotensi patogen bagi manusia.
Ahli mikrobiologi NUI Galway, Neyaz Khan mengatakan, studi ini menunjukkan bahwa laba-laba tidak hanya berbisa, tetapi juga pembawa bakteri berbahaya yang mampu menyebabkan infeksi parah.
Dilansir dari situs Science alert, beberapa varietas mikroba yang ada pada laba-laba dapat ditemukan di mana saja, termasuk pada tubuh manusia. Namun, ada beberapa yang menunjukkan tingkat resistensi yang tinggi terhadap antibiotik, dan inilah yang sangat dikhawatirkan.
Menurut Khan, bakteri-bakteri yang resisten terhadap berbagai obat sangat sulit untuk diobati dengan obat biasa.
Kita sering bergantung pada antibiotik, baik dalam pengobatan maupun dalam menjaga kesehatan ternak, dan hal ini yang menyebabkan munculnya 'bakteri super' yang resisten terhadap obat.
Namun kalian tidak perlu panik, setidaknya untuk saat ini, semua mikroba masih dapat diobati dengan ciprofloxacin, antibiotik yang umum.
Temuan terkait potensi infeksi bakteri resisten, yang ditransmisikan melalui sengatan kecil laba-laba diharapkan dapat meningkatkan pemahaman dan kewaspadaan manusia.
Khan menyarankan agar hal ini juga harus dipertimbangkan oleh para profesional kesehatan mulai dari sekarang, sebagai langkah antisipasi kasus di kemudian hari.
Sumber:
https://www.sciencealert.com/scientists-confirm-spider-s-bite-injects-something-potentially-deadlier-than-venom
https://www.nature.com/articles/s41598-020-77839-9
