Konten dari Pengguna

Teknologi NASA yang Tidak Dimiliki Semua Negara

Lampu Edison

Lampu Edison

Edison 9955 kali gagal menemukan lampu pijar yang menyala. Jika ia berhenti di percobaan ke 9956, mungkin sekarang kita tidak akan punya lampu.

comment
2
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Lampu Edison tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Teknologi-teknologi ini merupakan teknologi yang sudah dikembangkan sejak awal NASA ada dan masih digunakan sampai saat ini. Apa saja ya?

Roket Raksasa

rocket comparison | wikimedia.org
zoom-in-whitePerbesar
rocket comparison | wikimedia.org

Seperti yang kita ketahui bersama bahwa Space Shuttle NASA sudah tidak beroperasi lagi untuk menunjang kegiatan operasional NASA, lalu apa penggantinya? Sejak berhentinya space shuttle di 2011, roket baru telah dipersiapkan di 2018 dengan sebutan Space Launch System (SLS). Roket ini sendiri diprediksi dapat membawa 70 metrik ton perlengkapan ke orbit. Bisa dibayangkan untuk membawa beban sebesar itu, maka kendaraannya pun harus dalam ukuran besar. Kendaraan ini sendiri diperkirakan akan menjadi kendaraan terbesar yang pernah dibuat manusia dengan tinggi 116 m. Dengan kendaraan ini diharapkan perjalanan ke Mars akan lebih memungkinkan lagi dengan jarak yang sangat jauh dari Bumi.

Tenaga Pendorong Bertenaga Surya

Jika teknologi tenaga surya sudah banyak digunakan di berbagai alternatif kehidupan kita di Bumi, hal yang sama juga digunakan oleh NASA untuk tenaga pendorong mereka ketika berada di luar angkasa. Teknologi ini bahkan berkembang lebih luas ke bagai objek yang memicu kemajuan lainnya. Penggunaan hidrogen dan oksigen cair sebagai bahan bakar mungkin akan berkurang sangat efisien jika teknologi ini mungkin diciptakan. Apalagi mengingat jika perjalanan jauh (misalnya ke Mars), tangki yang dibutuhkan cukup besar sehingga tenaga surya merupakan alternatif yang tepat.

SEP | wikipedia.org

Solar Electric Propulsion (SEP) begitulah sebutannya, teknologi ini bekerja dengan melepaskan ion ke belakang dengan bantuan elektron dan gas xenon. Berbeda dengan tenaga bahan bakar yang mampu memberikan dorongan dengan akselerasi tinggi, kecepatan SEP bertambah perlahan karena proses transformasi tenaga surya ke dorongan ion tidak sebentar. Namun, dorongannya diperkirakan bisa mencapai maksimal 321.000 km/jam. Sampai saat ini teknologi ini masih dikembangkan dengan beban sebesar yang ditargetkan.

Deep Space Habitat

deep space habitat | wikimedia.org

Setelah sampai di luar angkasa, hal yang dipikirkan adalah tempat tinggal dan NASA cukup baik mempersiapkan hal ini agar para astronot yang terbang tidak kehilangan tempat mereka untuk tinggal. Teknologi dengan sebutan Deep Space Habitat ini dikembangkan dengan tujuan memberikan tempat tinggal dan penelitian yang layak untuk para astronot di luar sana. Teknologi ini berbentuk modular yang harus dirakit dan mampu menampung hingga 40 orang dengan waktu tinggal 60-500 hari. Bagian terbesar tempat ini adalah ruang untuk peralatan serta ruangan misi dan operasi di mana tempat dilakukannya penelitian, kontrol dan perbaikan alat. Sisanya, adalah ruang aktivitas untuk grup maupun individu.

Pakaian Baru Astronot

Baju astronot biasanya kaku dan tidak fleksibel untuk bergerak, namun yang ini berbeda. Selama di luar angkasa astronot tidak hanya duduk diam di kemudi dan tempat tinggal namun membutuhkan ruang gerak yang cukup banyak. Dengan kondisi yang berbeda di tiap medannya, pakaian luar angkasa yang fleksibel dan kuat tentu sangat dibutuhkan. Pakaian saat ini masih dianggap terlalu besar dan tidak praktis sehingga menyulitkan para astronot dalam bergerak.

spcae suit illustration | pixabay.com

Pakaian astronot yang saat ini sedang dirancang dibuat dari bahan yang tipis dan mampu menahan radiasi di luar angkasa.Teknologi utama seperti augmented reality, bio-monitor dan self-healing material menjadi dasar pertimbangan NASA mengembangkan teknologi ini. Belum diketahui kapan pakaian ini akan siap namun diperkirakan waktu yang dibutuhkan untuk menelitinya masih cukup panjang.

Komunikasi Via Laser

Misalkan jika dihitung jarak Mars dari Bumi adalah sekitar 55 juta km (Setara 36.000 kali pulang-pergi Jakarta ke Surabaya). Jarak yang cukup jauh ini menjadikan komunikasi menjadi sangat penting, apalagi kecepatan penerimaan dan pengiriman data dari robt-robot yang berada di Mars masih berada di angka 250 kbps. Pengujian komunikasi via laser ini sendiri sudah pernah dilakukan pada 2013 dalam program Lunar Atmosphere and Dust Environment Explorer (LADEE).

laser communication (illustration) | wikimedia.org

Hasilnya cukup mengejutkan dengan kecepatan data yang mencapai 77 MBps dari target 1 Gbps. Walaupun hasilnya masih sangat jauh dari target namun sampai saat ini penelitian masih dilakukan guna memperlancar alur komunikasi yang lebih baik. Tidak menutup kemungkinan teknologi lain selain laser bisa hadir untuk mencapai target tersebut.