Kumparan Logo
Konten Media Partner

AJI Bandar Lampung dan UBL Dorong Kolaborasi Multipihak untuk Kota Berkelanjutan

Lampung Gehverified-green

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Sekretaris Aji, Vina Oktaviana saat pemaparan materi. | Foto : Taufik H/Lampung Geh
zoom-in-whitePerbesar
Sekretaris Aji, Vina Oktaviana saat pemaparan materi. | Foto : Taufik H/Lampung Geh

Lampung Geh, Bandar Lampung - Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Bandar Lampung bersama Kem11lau Universitas Bandar Lampung (UBL) menggelar Workshop Understanding Sustainability dan Focus Group Discussion (FGD), di Co-Working Space Innovation Center UBL, pada Selasa (30/9). Menghadirkan dua narasumber Founder Hijauku.com Hisbullah Arief, Sekretaris AJI Bandar Lampung Vina Oktavia. Keduanya berbagi pandangan tentang pentingnya kolaborasi multipihak dalam membangun kota yang inklusif, aman, tangguh, dan berkelanjutan. Dalam pemaparannya, Hisbullah Arief menjelaskan bahwa konsep keberlanjutan tidak bisa dilepaskan dari dua kata seperti adaptasi dan mitigasi. Adaptasi, menurutnya, adalah kemampuan menyesuaikan diri terhadap dampak perubahan iklim, sementara mitigasi berfokus pada pengurangan emisi gas rumah kaca yang menjadi penyebab utama pemanasan global. “Adaptasi itu soal ketahanan dan kesiapan menghadapi dampak iklim, sedangkan mitigasi adalah pencegahan agar emisi dan polusi tidak makin parah. Dua-duanya harus jalan bareng,” jelasnya.

Founder Hijauku.com, Hisbullah Arief saat pemaparan | Foto : Taufik H/Lampung Geh
zoom-in-whitePerbesar
Founder Hijauku.com, Hisbullah Arief saat pemaparan | Foto : Taufik H/Lampung Geh

Arief juga menekankan pentingnya memahami empat istilah risiko, potensi dampak, kerentanan, dan ketahanan. “Empat kata ini dipakai di seluruh dunia. Kalau kita paham risikonya, baru bisa menentukan solusi. Di sinilah pentingnya data dan kolaborasi,” tuturnya. Menurutnya, krisis iklim kini sudah menjadi ancaman nyata. Suhu global telah naik 1,1 derajat Celsius sejak era revolusi industri, sementara kadar karbon dioksida di atmosfer mencapai 420 jauh melampaui ambang batas aman. “Kita seperti hidup di panci tertutup. Panasnya terjebak, efeknya bisa dirasakan dari banjir bandang sampai kekeringan ekstrem,” ujarnya. Sementara itu, Sekretaris AJI Bandar Lampung Vina Oktavia, menyoroti pentingnya peran media dalam menerjemahkan isu-isu lingkungan ke dalam bahasa yang mudah dipahami publik. “Kalau kita saja bingung dengan istilah efek rumah kaca, bagaimana masyarakat bisa peduli. Di sinilah jurnalis berperan sebagai jembatan,” ujarnya. Menurutnya, jurnalisme lingkungan harus mampu mengubah informasi menjadi kesadaran, serta mendorong perubahan perilaku dan kebijakan publik. “Media bukan cuma penyampai fakta, tapi juga penggerak perubahan. Tugas kita memastikan isu lingkungan tidak berhenti di ruang redaksi,” ujarnya. Vina juga menyoroti tantangan liputan lingkungan, mulai dari minimnya data, tekanan politik, hingga disinformasi. Karena itu, vina mendorong jurnalis bekerja sama dengan lembaga riset dan komunitas lingkungan. “Kolaborasi penting agar liputan kita kuat, valid, dan berdampak,” jelasnya. (Taufik/Ansa)