Kumparan Logo
Konten Media Partner

Begini kondisi Jembatan di Desa Kurungan Nyawa Pesawaran Pasca Ambrol

Lampung Gehverified-green

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Pengendara motor yang sedang melewati jembatan sementara di Desa Kurungan Nyawa, Pesawaran | foto: Latifah Desti Lustikasari/lampunggeh.co.id
zoom-in-whitePerbesar
Pengendara motor yang sedang melewati jembatan sementara di Desa Kurungan Nyawa, Pesawaran | foto: Latifah Desti Lustikasari/lampunggeh.co.id

Lampunggeh.co.id, Pesawaran - Bilah-bilah kayu kelapa yang diikat kawat besi hasil swadaya masyarakat tampak tersusun di atas jembatan ambrol di Dusun Wonoharjo, Desa Kurungan Nyawa, Kecamatan Gedong Tataan, Kabupaten Pesawaran, Selasa (19/2) untuk akses sementara warga yang melintas.

Hujan lebat yang turun hampir di seluruh daerah Lampung (14/2), menyisakan ironi akibat terputusnya jalan utama yang menghubungkan Desa Kurungan Nyawa dan Sungai Langka, Kabupaten Pesawaran. Aktivitas warga sekitar terpaksa harus terhenti karena jembatan tidak lagi dapat dilalui.

video youtube embed

"Kamis sore, setelah hujan lebat itu sudah retak. Terus besok paginya benar-benar ambrol. Kasihan anak-anak yang mau berangkat sekolah. Tidak bisa lewat." Ujar Efry (28) salah seorang warga Wonoharjo.

Jembatan yang berdiri di atas sungai Dusun Wonoharjo menyisakan ruang selebar 1,5 meter dan panjang 2 meter itu, kini tidak lagi dapat dulalui kendaraan roda empat. Warga pun harus memutar dengan mengambil jalur melalui Desa Bernung.

Jika diamati lebih dekat dari sisa-sisa reruntuhan, tampak jelas bahwa bangunan jembatan tidak ditopang dengan konstruksi yang layak dan meyakinkan. Hanya berupa pondasi bebatuan yang dipaksa mengikat tanah gembur berkandungan air tinggi.

Kondisi terkini jembatan sementara di Desa Kurungan Nyawa, Pesawaran | foto: Latifah Desti Lustikasari/lampunggeh.co.id

Tidak heran ketika curah hujan tinggi dan debit air sungai naik, maka pondasi jembatan yang sudah cukup berusia ini tidak lagi mampu menahan derasnya arus yang datang.

Ketika jembatan terputus pada Jumat pagi (15/2), dengan bantuan bilah-bilah kayu dari beberapa pihak, warga sekitar segera bahu-membahu untuk membangun jembatan sementara. Karena jalan ini merupakan akses vital bagi warga.

Hingga Minggu pagi (16/2), konstruksi jembatan hasil swadaya masyarakat itu baru selesai. Kendati dapat dilalui, namun hanya kendaraan roda dua saja. Warga juga harus ekstra waspada karena jembatan kayu sementara yang menggantikan tidak terjamin keamanannya.

Saat Lampung Geh meninjau langsung lokasi jembatan, tampak dua sepeda motor di sebrang sungai sedang mengantre untuk bergantian melewati jembatan dengan pengendara yang datang dari arah berlawanan.

Pengendara motor yang sedang mengantre untuk melewati jembatan sementara di Desa Kurungan Nyawa, Pesawaran | foto: Latifah Desti Lustikasari/lampunggeh.co.id

Istaropa, salah seorang warga yang turut bergotong-royong membangun jembatan mengatakan bahwa, sebelum dapat dilalui, pondasi kayupun sempat ambrol, karena tanah di sekelilingnya gembur dan terkikis air.

"Yang penting anak sekolah bisa lewat dulu. Kasihan kalau harus mutar lewat daerah rumah sakit jiwa. Jauh dan jalannya jelek." Tutur Istaropa.

Sebelumnya, sekitar tahun 2009-an, jembatan di Jalan Raya Desa Kurang Nyawa ini juga sempat ambrol. Bersamaan dengan mulai diaspalnya jalan-jalan desa di Kabupaten Pesawaran, jembatan tersebut juga turut dibangun.

Meski tidak ada korban jiwa maupun kerugian harta benda dalam peristiwa ini, namun jembatan yang belum tersentuh perbaikan selama sepuluh tahun terakhir ini tetap membutuhkan penanganan serius dari isntansi terkait.

Sebab jalan dan jembatan adalah fasilitas publik utama penunjang laju ekonomi di sebuah daerah. Terputusnya jembatan akan berdampak serius pada perputaran roda ekonomi yang melintasinya.

Kepada reporter Lampung Geh, Efri mengungkapkan harapannya. "Kemarin Pak Camat dan Pak Lurah sudah melihat lokasi, tapi belum tahu kapan dibangun kembali. Semoga pembangunan secepatnya dilakukan, karena ini kan jalan utama, di sebrang sungai masih banyak desa-desa yang warganya lewat sini." (*)

Laporan reporter lampunggeh Latifah Desti Lustikasari

Editor : M Adita Putra