Cerita Backpacker Lampung: Berkunjung dari Desa ke Desa Hingga Terjebak Corona

Lampung Geh, Bandar Lampung - Wabah virus corona atau COVID-19 juga dirasakan oleh Muhammad Rega, pria berumur 25 tahun yang merupakan seorang backpacker asal Lampung ini mengalami keterhambatan lantaran pandemi tersebut.
Sebelum masuk ke inti permasalahan, Rega --sapaan akrabnya-- bercerita awal mula ia memulai perjalanannya untuk mencari ilmu pengetahuan dari berbagai desa yang ia lewati.
"Karena basisku kuliah di Hukum Unila (Universitas Lampung) dan sempat magang di YLBHI (Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia), jadi memang aku punya ketertarikan kehidupan di desa-desa sama nilai masyarakatnya, kebersamaannya, ramah tamahnya, dan interaksi kecil lainnya," katanya saat dihubungi Lampung Geh, Senin (20/4).
Dari situlah Rega mulai belajar bagaimana bercengkerama langsung dengan penduduk desa yang ia singgahi. Selain itu dirinya juga menyempatkan untuk menampung konsultasi hukum bagi warga sekitar.
"Di situ aku bisa ambil kesempatan tinggal satu atap dengan mereka, berdiskusi, melihat kegelisahan mereka, dan itu pengalaman yang berarti buatku," jelas dia.
Rega tak seperti manusia pada umumnya, dirinya memiliki penyakit bawaan sejak lahir hemofilia yakni gangguan pembekuan darah akibat kekurangan faktor VII dan IX.
"Salah satu motivasiku karena aku punya kekurangan penyakit genetik hemofilia, aku penasaran sejauh mana bisa beradaptasi di lingkungan baru," terangnya.
Motivasi itulah yang membuatnya ingin membentuk karakter diri dengan kondisi sosial yang ada di desa.
"Kalau untuk harapan dan tujuan tidak ada mengalir saja, aku pengen tahu sejauh mana kejutan-kejutan yang ada, dan setelah pulang itu akan membentuk diriku yang seperti apa," kata Rega.
"Yang jelas aku ingin belajar, aku sudah hampir 18 tahun belajar di kelas, aku pengen punya waktu 1 tahun aja belajar di jalan," imbuhnya.
Saat hendak meninggalkan rumah, pemuda warga Gang Randu, Kelurahan Sumber Rejo, Kecamatan Kemiling, Kota Bandar Lampung juga mendapat penolakan dari orang tua. Hal itu lantaran keluarga sangat khawatir jika terjadi sesuatu saat ia berkelana.
"Izinnya butuh proses yang cukup lama dan berulang-ulang karena aku berusaha untuk memberi pengertian ke orang tuaku. Karena aku punya kekurangan secara genetikal itu, jadi kekhawatiran orang tua itu lebih besar dibanding ke anak-anak lainnya," ungkapnya.
Tetapi dengan penuh keyakinan Rega tetap bersikeras dan terus memberikan pengertian kepada keluarganya. Hingga akhirnya orang tua tercinta merestui perjalanannya tersebut.
"Aku kasih pengertian kalau aku ini pengen belajar, dan itu juga cukup berat karena dari 3 bulan awal perjalananku orang tua sudah nyuruh pulang saja. Cuma itu gak bagus buat mentalku karena aku gak nyelesaiin sesuatu yang aku mulai," papar dia.
Dari desa ke desa dilalui, banyak hal yang dapat ia ambil. Mulai dari adat istiadat, keanekaragaman suku, budaya, dan masih banyak yang lainnya
"Tinggal di rumah warga, kebanyakan itu lewat secara kebetulan, dan kebetulan itu yang aku bilang ngerasa ada keajaiban dimana aku menemukan waktu yang tepat dan orang yang tepat dari desa ke desa," urai dia.
Menurutnya keajaiban itu didapatkannya saat berkunjung ke salah satu desa di Cirebon, Jawa Barat. Secara tak sengaja ia bertemu dengan petani dan sedikit berbincang-bincang.
"Kayak di Cirebon kemarin posisi sudah motoran dari pagi sampai magrib, aku berhenti karena lihat view buat foto dan di situ ada petani lalu ngobrol-ngobrol lihat plat motor ternyata dia pernah merantau ke Lampung," jelasnya.
Rega sendiri berkelana dengan menggunakan motor jenis Honda Beat warna biru bernomor BE 4881 BN. Setelah pertemuan itu akhirnya ia diajak oleh petani tersebut untuk bertempat tinggal sementara di rumahnya.
"Akhirnya aku diajak ke rumahnya sampai tinggal seminggu di sana bahkan posisinya di desa itu sedang pemilihan kepala desa karena basic aku hukum jadi saling konsultasi," ucap dia.
Di desa tersebut Rega mempelajari banyak hal seperti melakukan pengairan sawah tempat petani yang ia kenal tersebut. Selain itu dirinya juga beradaptasi dengan alam di daerah itu.
"Kalau di desa aku biasanya ikut aktivitas di warga desanya, ada desa yang basisnya persawahan jadi ikut cara pengairannya. Kemarin ada desa di dataran tinggi Pangalengan kita ikut panen kentang dan mancing berburu burung puyuh dan kepiting," papar Rega.
Menjadi backpacker sudah pastinya harus memiliki dana yang cukup, Rega sendiri sudah mengumpulkan niat sejak 2017 lalu untuk menjadi seseorang yang belajar dari alam.
"Biayanya aku ngumpulin uang dari tahun 2017 sampai 2019, terus aku juga jual PS4, jual sepeda, sebelum berangkat juga diongkosin orang tuaku. Yang jelas aku jalan ini dengan uang seadanya, dan selama 10 bulan ini belum pernah tidur di hotel," katanya.
Dan saat ini perjalanan Rega sudah memasuki bulan ke-10 dan sudah sampai di Dompu, Pulau Sumbawa, Nusa Tenggara Barat (NTB) bagian timur. Dirinya berniat akan melanjutkan perjalanan ke Desa Ambalawi, Bima, NTB.
Namun hal itu sedikit mengalami keterlambatan karena pandemi COVID-19, pintu-pintu desa yang biasanya terbuka luas kini tertutup rapi. Orang asing menjadi sangat asing saat di tengah wabah ini.
"Iya itu jelas sekali, aku kan backpacker dari satu desa ke desa lainnya. Yang tadinya aku dengan mudah bisa masuk desa dan diterima dengan baik, setelah pandemi itu berkali-kali lipat lebih sulit karena orang asli desa itu saja yang pulang mudik itu saja timbul beberapa penolakan. Apalagi posisiku yang orang asing," bebernya.
Meski mengalami keterhambatan, putaran roda motor Rega akan terus bergulir ke desa-desa yang ingin dikunjungi. Hal itu tidak lain untuk belajar dan belajar.
"Banyak pelajaran yang diambil, karena basic-ku di hukum jadi aku benar-benar ingin mencari pembuktiannya baru aku bisa mempercayainya. Ada tempat yang pengen aku lewati itu Sumba karena itu masih banyak desa adatnya, dan view-nya juga bagus," tutupnya.(*)
