Kumparan Logo
Konten Media Partner

Di Tengah Pandemi, Rumah Makan di Lampung Sajikan Menu dengan Bayar Seikhlasnya

Lampung Gehverified-green

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Rumah Makan Nasi Rames Gedong Air yang dikonsep dengan menu bayar seikhlasnya di masa pandemi COVID-19, Jumat (5/6) | Foto: Dok. Nancy Ida
zoom-in-whitePerbesar
Rumah Makan Nasi Rames Gedong Air yang dikonsep dengan menu bayar seikhlasnya di masa pandemi COVID-19, Jumat (5/6) | Foto: Dok. Nancy Ida

Lampung Geh, Bandar Lampung - Ikut andil dalam menghadapi pandemi virus corona atau COVID-19, Rumah Makan Nasi Rames Gedong Air menyediakan menu yang dibayar seikhlasnya.

Nancy Ida (33) mengatakan bahwa konsep ini dibentuk untuk ikut berpartisipasi di tengah pandemi COVID-19 yang saat ini menjadi permasalahan di Indonesia khususnya Provinsi Lampung.

"Awal mulanya karena COVID-19, maka timbul ide itu. Ini kebetulan ide originalnya dari saya, kemudian kakak saya dengan temannya itu yang sering bagi-bagi nasi di jalan ikut membantu," ungkapnya saat diwawancarai Lampung Geh, Jumat (5/6).

Rumah makan yang berlokasi di Jalan Imam Bonjol tepatnya pada pertigaan Jalan Sam Ratulangi, Nomor 223 C, Kota Bandar Lampung ini sengaja dibuatnya untuk membantu para masyarakat yang terdampak pandemi.

"Konsepnya kita bikin rumah makan yang kita sebut bukan beramal, tapi sosial mandiri. Kita jual beberapa menu yang wajib bayar, itu kita subsidi buat menu yang bayar seikhlasnya. Jadi kita ada dua menu," jelas dia.

Menu dengan bayar seikhlasnya itu berisi nasi dengan tiga macam sayur beserta lauk lauk berupa telor atau daging suwir.

Salah satu menu makanan di Rumah Makan Nasi Rames Gedong Air, Jumat (5/6) | Foto: Dok. Nancy Ida

"Itu mereka mau bayar seribu atau dua ribu silahkan. Satu orang boleh makan satu porsi," ujar dia.

Sedangkan menu wajib bayar tersebut dipatok dengan harga Rp 17 ribu di mana keuntungan hasil penjualan itu akan disubsidikan untuk membeli bahan pokok menu bayar seikhlasnya.

"Kita juga ada jual nasi ayam yang bayar Rp 17 ribu, nah dari untungnya itu saya subsidikan untuk gaji tukang masaknya, yang jaga, dan sewa tempat," paparnya.

Sebelumnya, rekannya biasa membagikan nasi gratis di berbagai jalan yang ada di Kota Bandar Lampung. Tetapi saat ini dilanjutkan membuka rumah makan dengan konsep ini.

"Ini baru seminggu kita buka, idenya murni dari teman-teman yang awalnya suka bagi-bagi nasi di jalan. Selama masa COVID-19 kita lakukan, setelah COVID-19 selesai mungkin kita tidak lakukan lagi," terang dia.

Berbagai menu yang disediakan pada Rumah Makan Nasi Rames Gedong Air untuk menu bayar seikhlasnya di masa pandemi COVID-19, Jumat (5/6) | Foto: Dok. Nancy Ida

Saat ini masih belum banyak warga yang mengetahui walaupun membeli di rumah makan ini.

"Kita sudah pasang plang dan coba buat brosur. Saya kebetulan juga bukan orang organisasi profit, jadi saya minta bantuan teman-teman masyarakat Lampung ini agar tahu (jika) di sini ada tempat makan yang bayar seikhlasnya," urainya.

Selain itu, pihaknya juga menerima jika ada yang ingin berdonasi bahan pokok untuk keberlangsungan rumah makan dengan menu nasi bayar seikhlasnya ini.

Lauk tempe yang ada di Rumah Makan Nasi Rames Gedong Air untuk menu bayar seikhlasnya di masa pandemi COVID-19, Jumat (5/6) | Foto: Dok. Nancy Ida

"Saya juga sudah bertemu beberapa teman yang mau jadi donatur, donatur ini kita gak minta uang. Tapi sumbang bahan pokok seperti beras, telor, minyak dan lainnya. Supaya yang nasi bayar seikhlasnya ini berjalan terus," ungkap dia.

Ida pun tetap berupaya untuk mencari rekanan dengan visi misi yang sama untuk terus membangun rumah makan ini.

"Kalau seikhlasnya ini saya akan terus cari teman-teman yang punya visi sama dengan kita lalu sumbangkan bahan pokok tadi. Kita gak terima uang saat ini," jelasnya.

Ia juga terus mengajak para masyarakat yang berdomisili atau berkunjung ke Kota Bandar Lampung untuk makan di Rumah Makan Nasi Rames Gedong Air tersebut.

Lauk nugget yang ada di Rumah Makan Nasi Rames Gedong Air untuk menu bayar seikhlasnya di masa pandemi COVID-19, Jumat (5/6) | Foto: Dok. Nancy Ida

"Saya butuh orang yang makan, semakin banyak yang makan kan yang donasi juga senang. Tapi kalau gak ada yang makan, yang donasi juga lama-lama gak mau lagi. Jadi kami mengajak agar banyak yang mau makan ke sini," papar dia.

Dirinya membantah jika ini merupakan gimmick marketing untuk membesarkan usahanya. Ida menuturkan bahwa hanya berniat berbagi di tengah pandemi.

"Kalau jalan hanya yang Rp 17 ribu pasti akan saya tutup, karena visinya berbagi. Jadi bukan gimmick marketing supaya ramai, justru yang menu utamanya nasi bayar seikhlasnya," tuturnya.

Dalam satu hari, rumah makan ini menyediakan 40-50 bungkus nasi bayar seikhlasnya. Namun jika donasi semakin banyak, tidak menutup kemungkinan jumlah tersebut akan ditambah.

"Saya targetkan sehari 40-50 nasi bungkus, cuma sekarang ini gak sampai 20 bungkus. Itu pun biasanya kita kasih gratis ujung-ujungnya, karena sayang sudah dimasak," beber dia.

Dirinya juga tak menargetkan kepada siapa orang yang berhak untuk mendapatkan nasi bayar seikhlasnya ini.

"Targetnya semua kalangan, jadi gak harus pemulung atau sebagainya. Kadang anak kos belum dikirim uang, terpaksa makan mie. Dari pada makan mie melulu jadi gak sehat, lebih baik makan yang ini, bayarnya juga sukarela," pungkasnya.(*)

***

kumparanDerma membuka campaign crowdfunding untuk bantu pencegahan penyebaran corona virus. Yuk, bantu donasi sekarang!