Kumparan Logo
Konten Media Partner

Dilema Sampah, Dijual Atau Dibuang?

Lampung Gehverified-green

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Lampunggeh.co.id, Bandar Lampung - Melihat berbagai jenis sampah yang berasal dari rumah tangga maupun industri bagaikan dua sisi mata pisau bagi masyarakat Indonesia. Sebagian orang menilai sampah sebagai hal yang sudah sepatutnya untuk dibuang dan dimusnahkan, namun di sisi lain ada beberapa orang kreatif yang memanfaatkan sampah sebagai sumber penghasilan.

Seperti halnya, Nila Ariyanti (56) warga Jalan Purnawirawan Raya, Kelurahan Gunung Terang, Kecamatan Langkapura, Kota Bandar Lampung mengaku bahwa sampah rumah tangga yang ia kumpulkan selalu dibakar di dekat rumahnya dikarenakan beberapa hal.

Nila Ariyanti (56) saat membakar sampah | Foto : Latifah Desti Lustikasari/Lampunggeh.co.id
zoom-in-whitePerbesar
Nila Ariyanti (56) saat membakar sampah | Foto : Latifah Desti Lustikasari/Lampunggeh.co.id

"Tahu asapnya berbahaya, tapi sekitaran rumah masih banyak pepohonan tanahnya juga masih luas. Jadi jarak tempat membakar dan rumah tetangga cukup jauh," ujarnya saat diwawancarai Lampunggeh.co.id, Rabu (20/2).

Selain itu, alasan dirinya membakar sampah dan tidak menyerahkan sampah tersebut ke dinas pengelolaan sampah setempat yaitu karena petugas kebersihan tidak pernah menjamah wilayah rumahnya.

"Karena memang enggak sampai kesini, rumahnya juga agak masuk sih. Mobil sampah hanya mengangkut sampah dari rumah-rumah di depan jalan raya, ia menganggap rumahnya cukup terpencil di belakang," sambungnya.

Perlu Kerjasama dengan Pihak Ketiga

Kepala Dinas Lingkungan Hidup, Sahriwansah mengatakan bahwa, volume sampah di Kota Bandar Lampung hingga mencapai 840 ton per hari. Dalam penanganannya, pihaknya selalu membawa sampah-sampah tersebut ke tempat pembuangan akhir (TPA) yang berada di wilayah Bakung, Telukbetung Barat, Kota Bandar Lampung.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kota Bandar Lampung, Sahriwansah (tengah) | Foto : Obbie Fernando/Lampunggeh.co.id

"Pemerintah Kota Bandar Lampung akan mencari pihak ketiga yang dapat mengelola sampah itu di TPA Bakung. Diharapkan kedepannya sampah yang masuk kesana bisa terkelola semua," katanya saat dikonfirmasi Lampunggeh.co.id

Dalam hal ini, Lampunggeh menggali lebih jauh tentang permasalahan sampah yang ada di Kota Bandar Lampung yang juga pada akhir-akhir ini sering menyebabkan kebanjiran di beberapa kecamatan.

"Saya menjabat dari 1 November 2018 lalu, jadi saat ini belum saya kaji betul tentang permasalahan sampah ini. Kalau melihat situasi banjir saat ini karena curah hujan sangat tinggi, tapi tidak menutup kemungkinan sampah adalah salah satu faktornya," ungkap dia.

Pihaknya terus berupaya untuk lebih bekerja ekstra dalam membersihkan sampah di kota ini, mengingat petugas kebersihan di Kota Bandar Lampung hanya 20 orang saja. Petugas tersebut yang membersihkan seluruh wilayah di Kota Bandar Lampung.

"Selain itu upaya kita juga akan melakukan kerjasama dengan pihak-pihak diantaranya sekolah, agar menanamkan dari dini untuk menyadari bahaya sampah. Contohnya seperti bank sampah untuk pengelolaan sampah non organik. Nantinya setiap anak sekolah nanti bisa memilah sampah menurut jenisnya. Kita mengusahakan akan melaksanakan di tahun ini akan bersinergi dengan Dinas Pendidikan dan pemangku kebijakan terkait," terangnya.

Pada fasilitas penampungan sampah di ruang publik, Sahriwansah menjelaskan bahwa sudah menyiapakan mobil kontainer yang setiap hari mengambil sampah di setiap pasar.

"Untuk di perumahan walaupun sebagian dikelola oleh rekan-rekan yang lainnya. Namun Dinas Lingkungan Hidup tetap memantau walaupun keterbatasan sarana dan prasarana. Setiap taman kita sediakan tempat sampah untuk meminimalisir pengunjung yang membuang sampah sembarangan," jelasnya.

Dirinya merencanakan pada TPA Bakung akan diperluas dengan melakukan pembebasan tanah milik warga. Pihaknya akan mengganti kerugian pada tanah warga yang terkena sebagai TPA sampah.

"Saya sudah melakukan penawaran sebesar Rp 50 ribu per meter. Untuk sementara ini wacana pembuangan akhir di lokasi lain itu tidak ada. Melalui ini saya mengimbau kepada seluruh masyarakat Kota Bandar Lampung agar peduli terhadap sampah dengan tidak membuangnya secara sembarangan dan tidak membuang sampah di sungai," pungkasnya.

Sementara itu, Direktur Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Lampung, Hendrawan mengungkapkan, jenis sampah yang hingga kini paling mengkhawatirkan di bumi itu salah satunya sampah plastik.

Direktur WALHI Lampung Hendrawan | Foto : Ist

"Memang sebenernya menjadi tantangan sampah plastik ini bisa di daur ulang atau diolah kembali. Kalau di kota ini lebih dari 800 ton per hari, itu sampah dari rumah tangga, industri termasuk hotel," ujarnya.

Berdasarkan pemantauan Walhi Lampung, sampah yang dibuang ke TPA itu hanya sekitar 70 persen saja. Sisanya ada yang dibuang ke sungai, laut, ada juga yang dibakar dan sebagian kecil dikelola oleh bank sampah ataupun dibuat pupuk kompos.

"Maka dari itu kita melakukan penanggulangan dengan cara memberdayakan masyarakat agar tidak membuang sampah sembarangan. Namun seharusnya yang paling bertanggung jawab itukan pemerintah daerah. Bagaimana membuat kesadaran masyarakat untuk membuang sampah pada tempatnya," katanya.

Atas upaya pemberdayaan yang telah dilakukan Walhi Lampung tersebut, sepertinya tidak terlalu membawa dampak yang cukup berubah secara cepat. Menurutnya, upaya itu harus dilaksanakan secara berlanjut atau rutin untuk menimbulkan rasa kesadaran membuang sampah pada tempatnya.

"Kalau untuk menimbulkan kesadaran masyarakat itu harusnya kita memberikan sosialisasi tidak hanya sekali, harus berkelanjutan. Itupun harus dibantu dengan peran pemerintah seperti membuat surat edaran untuk masyarakat tidak membuang sampah sembarangan," ucap dia.

Ketika ditanyakan terkait kondisi TPA di Kota Bandar Lampung yang makin hari makin menggunung dengan berton-ton tumpukan sampah. Hendrawan menilai bahwa sudah selayaknya pemerintah menggunakan cara lain untuk melakukan pengelolaan sampah secara maksimal.

"Itu sudah over kapasitas, karena pengelolaaannya kan masih di buang saja tanpa ditimbun. Seharusnya itukan ditampung lalu ditimbun dengan tanah. Kalau disana di tampung saja tidak di timbun, karena tanahnya juga tidak ada. Kota itu tidak diwajibkan untuk membuat TPA, harusnya sudah ada pengolahan sampah. Tidak mungkin juga di kota akan membangun TPA baru, karena mengingat ketersediaan lahan yang sempit. Kecuali perluasan, beberapa tahun lalu ada rencana perluasan tapi sampai saat ini belum terealisasi. Itu juga hanya solusi sementara tidak permanen," tegas dia.

Memilah Sampah Menjadi Barang Bernilai Tinggi

Di lain sisi, Qoriatul Hayati (28) warga Kelurahan Sumbergede, Kecamatan Sekampung, Lampung Timur mengungkapkan bahwa tertarik membuat produk dari bahan dasar sampah karena ekonomis.

"Alasan sederhana, gak butuh banyak modal. Awalnya saya mainan kain sisa tukang jahit, lama-lama ketagihan ngolah yang lain. Sampai bisa jadi penghasilan sampingan mengisi waktu luang kuliah," ungkap dia.

Wanita yang biasa disapa Qori ini juga menambahkan, sudah sejak 2011 menekuni usaha ini. Bahkan penjualannya saat ini sudah mencapai luar kota bahkan luar provinsi.

Etnik Bag Tapis dari Karung Goni Karya Qoriatul Hayati (28) | Foto : Ist

"Ngejual sampai luar daerah sih pernah, ke Jakarta. Kalau keluar negeri belum, tapi kita pernah kedatangan tamu dari luar yang sedang melakukan riset di bank sampah binaan kami," kata dia.

Dirinya mulai memfokuskan untuk memasarkan produk miliknya karena berkat semangat dari organisasi yang Ia ikuti yakni La Lotus Indonesia sebagai organisasi sadar akan bahaya sampah di bumi. Yang sebelumnya hanya sebatas hobi, kini sudah menghasilkan pundi-pundi penghasilan.

"Omsetnya lumayan, sudah bisa bantu tetangga dapat kerjaan sampingan. Paling sedikit saya pernah dapat Rp1 juta perbulan. Paling tinggi pernah dapat kisaran Rp10 juta," tandasnya.

Sama juga seperti halnya Tri Indah Noviana (38) warga Jalan Pagar Alam, Gang Bahagia, Kelurahan Segala Mider, Kecamatan Tanjungkarang Barat, Kota Bandar Lampung yang juga tertarik membuat kerajinan dari bahan dasar sampah karena prihatin dengan banyaknya sampah yang berserakan di sekitar rumahnya.

"Dari situ saya coba pilah, pilih sampah yang sekiranya masih bisa dimanfaatkan. Salah satunya sampah awal yang saya olah adalah koran bekas. Sayang kalau dijual kiloan harga murah sekali. Makanya saya mencoba berinisiatif untuk mengolah koran tersebut menjadi produk yang bisa lebih memiliki nilai jual," ucap dia.

Miniatur Sepeda Bahan Koran Bekas Karya Tri Indah Noviana (38) | Foto : Ist

Dirinya mengaku mulai menekuni kerajinan tangan ini sejak 2014 lalu, menurutnya peluang ekonomi untuk meneruskan usaha ini sangat besar mengingat dengan modal yang cukup amat minim.

"Penjualan lebih banyak keluar kota, untuk penjualan keluar negeri lebih banyak dari kerabat dan teman-teman yang membeli untuk buah tangan. Kalau hasil perbulan tidak pasti, rata-rata Rp 2 juta sampai Rp 3 juta. Tapi kalau pas banyak event seperti bulan April, Agustus dan akhir tahun itu lumayan, bisa sampai Rp 5 juta-an," tutupnya.(*)

Laporan reporter Lampunggeh Obbie Fernando dan Latifah Desti Lustikasari

Editor: M Adita Putra