Diskusi Klasika: Bahas Perempuan dalam Pusaran Kapitalisme dan Budaya Konsumtif
·waktu baca 2 menit

Lampung Geh, Bandar Lampung - Kelompok Studi Kader (Klasika) gelar diskusi Perempuan: Antara Memahami dan Dipahami” dengan subtema “Perempuan, Tubuh, dan Pasar di Rumah Ideologi Klasika, Jumat (31/10).
Dalam diskusi ini menghadirkan dua pemantik, yakni Eka Febriani dan Diana Herdianti, yang mengulas keterjebakan perempuan dalam pusaran kapitalisme dan budaya konsumtif.
Pembicara pertama, Diana Herdianti menjelaskan, tubuh perempuan kerap dijadikan objek ekonomi karena dianggap memiliki daya tarik yang mampu mendorong konsumsi.
“Kapitalisme tidak hanya menyasar perempuan, tapi tubuh perempuan menjadi target utama karena seluruh aspek dirinya bisa dikomodifikasi,” tuturnya.
Diana mencontohkan dominasi citra perempuan dalam iklan dan media yang membentuk standar kecantikan baru.
“Kini, bahkan perempuan berhijab atau berkulit gelap pun ikut menjadi bagian dari pasar konsumsi, karena citra ideal selalu dibentuk ulang agar kita terus membeli,” tambahnya.
Sementara itu, Eka Febriani menyoroti akar historis dari standar kecantikan modern yang menurutnya berakar pada kolonialisme.
“Dalam teori, ada istilah mimikri yang kecenderungan masyarakat jajahan meniru penjajah. Inilah mengapa kulit putih dan tubuh langsing masih dianggap ideal,” jelasnya.
Eka juga mengutip pemikiran tentang masyarakat yang membeli bukan karena kebutuhan, melainkan karena citra.
“Sepatu Nike atau tas bermerek bukan lagi soal fungsi, tapi simbol status sosial. Perempuan akhirnya menjadi konsumen dan sekaligus produsen dalam sistem kapitalisme,” jelasnya.
Diskusi berkembang pada persoalan tubuh perempuan yang kini juga dikomodifikasi melalui gaya hidup sehat.
“Kapitalisme menciptakan simbol baru, perempuan dianggap cantik bila tampak bugar, ikut yoga, atau pilates. Padahal semua itu juga produk konsumsi,” ujar Eka.
Dalam sesi tanya jawab, para peserta menyinggung pengaruh media sosial yang memperkuat budaya konsumtif.
Diana menilai, media menjadi aparatus ideologis yang menanamkan ide bahwa konsumsi adalah pilihan pribadi.
“Padahal, yang kita sebut keinginan sering kali hasil konstruksi kapitalisme,” ujarnya.
Diskusi ditutup dengan refleksi bahwa tubuh perempuan adalah medan paling kompleks dalam eksploitasi kapitalistik bukan hanya ekonomi, tetapi juga ideologi dan simbol sosial.
“Menyadari bahwa banyak hal yang kita inginkan hanyalah hasil konstruksi sosial adalah langkah awal untuk melawan dominasi kapitalisme,” jelasnya. (Taufik/Ansa)
