Gelar Diskusi soal Papua, Pers Universitas Lampung Diteror

Lampung Geh, Bandar Lampung - Unit Kegiatan Penerbitan Mahasiswa (UKPM) Teknokra Universitas Lampung (Unila) yang merupakan lembaga pers kampus mendapat pesan teror dan spam order makanan online dari orang tak dikenal.
Pemimpin Umum (Pimum) Teknokra Unila, Chairul, mengatakan bahwa peristiwa itu dialaminya saat akan menggelar diskusi daring dengan tema 'Diskriminasi Rasial terhadap Papua' yang dilaksanakan pada Kamis (11/6) pukul 19.00 WIB.
"Terkait diskusi yang kita helat bersama pengurus Teknokra lainnya mengadakan diskusi terkait Diskriminasi Rasial terhadap Papua. Cuma setelah pamflet disebar memang banyak teror-teror yang didapatkan dari pengurus," ucapnya kepada Lampung Geh, Kamis (11/6).
Dirinya yang juga menjadi narahubung dalam diskusi tersebut mendapat pesan teror melalui WhatsApp yang berisikan identitas pribadi miliknya.
"(Teror) yang dapatkan yaitu mendapat ancaman berupa pesan WhatsApp. Pesannya mereka men-screen capture data pribadi saya yang berisi nama, alamat lengkap seperti E-KTP," papar Chairul.
Selain itu, ia juga mendapat ancaman agar diskusi daring yang bertajuk isu terkait Papua tersebut untuk dibatalkan.
"Ancamannya di situ 'Hati-hati bro di jalan, jangan buat diskusi aneh-aneh'. Ada lagi yang bilang 'Kuliah aja yang bener, jangan buat diskusi aneh-aneh. Inget orang tua'," bebernya.
"Bahkan mereka menyebutkan nama orang tua saya secara lengkap, artinya data saya sudah dibobol," imbuh dia.
Chairul menjelaskan, pesan tersebut dikirimkan pada Rabu (10/6) pukul 09.00 WIB kemarin ini melalui tiga yang nomor berbeda.
"Ada tiga nomor, ngirimnya kemarin sekitar jam 9. Diskusinya nanti petang jam 19.00 WIB, tetap berlanjut karena ini bagian dari kebebasan berekspresi dan berpendapat," ucapnya.
Hal serupa juga dialami rekannya di mana akun ojek online miliknya diretas oleh pelaku hingga membuat order makanan secara otomatis.
"Satunya si Mita, dia mengalami peretasan di akun Gojeknya secara otomatis melakukan order sendiri. Jadi banyak banget sampai 50-an bahkan. Itu order Go Food," kata Chairul.
Bahkan beberapa driver sempat melakukan protes terhadap rekannya lantaran merasa ditipu atas order fiktif itu.
"Si Mita juga kalut, karena terus-terusan order namanya driver kan pasti marah-marah karena ada order fiktif. Sedangkan si Mita gak niat menipu, memang gak ada orderan dari Mita," terangnya.
Tak cukup sampai di situ, salah satu narasumber yang terlibat dalam diskusi daring ini juga mendapat perlakuan yang sama.
"Selain itu juga dapat kabar bahwa salah satu narasumber kita Tantowi Anwari dari Serikat Jurnalis untuk Keberagaman (Sejuk) dapat hal yang sama. Kalau Mita dari Go-Food, Mas Towi dari Grabfood. Beliau juga mendapat teror WhatsApp juga sempat diretas," ungkap dia.
Dengan kejadian ini, pihaknya telah melakukan pelaporan ke Mapolda Lampung melalui Direktorat Reserse Kriminal Khusus (Ditreskrimsus) terkait pesan teror dan spam order makanan online.
"Habis itu akun official Teknokra juga diretas, kita melaporkan ke sini dengan harapan segera diproses dan terjamin keamanan kita," pungkasnya.(*)
*****
Simak panduan lengkap corona di Pusat Informasi Corona.
Yuk! bantu donasi atasi dampak corona.
