IDI Bandar Lampung: Klaim Hadi Pranoto Soal Obat Herbal COVID-19 Menyesatkan

Lampung Geh, Bandar Lampung - Organisasi profesi Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Kota Bandar Lampung sesalkan klaim Hadi Pranoto terkait antibodi herbal yang disebut-sebut mampu menyembuhkan pasien COVID-19, Selasa (4/8).
Hadi Pranoto dengan antibodi herbalnya yang dinilai mampu menyembuhkan pasien COVID-19 masih menjadi perbincangan nasional. Bagaimana tidak, di tengah pandemi COVID-19 yang masih belum berakhir, pihaknya mengklaim bahwa antibodi herbal racikannya mampu menyembuhkan pasien yang terinfeksi virus corona. Nama Hadi Pranoto semakin mencuat tatkala terlibat perbincangan dengan musisi Anji di channel YouTube Dunia Manji beberapa waktu lalu.
Menanggapi hal tersebut, Ketua IDI Cabang Bandar Lampung, dr. Aditya M Biomed turut angkat bicara. Pasalnya, Hadi Pranoto yang mengaku bergelar profesor dan ahli mikrobiologi tersebut tidak jelas asal-usulnya.
"Pertama kami menyesalkan, statusnya beliau sendiri itu tidak jelas. Saya juga sudah diklarifikasi sama pengurus pusat IDI, bahwa Hadi Pranoto bukan anggota IDI Bandar Lampung. Anggota kita cukup banyak, ada 800 orang, dan tidak ada yang bernama Hadi Pranoto," ujar Aditya saat dihubungi Lampung Geh.
Pihaknya melanjutkan bahwa klaim atas antibodi herbal yang dinilai mampu menyembuhkan pasien COVID-19 itu menyesatkan. "Pernyataan beliau terkait obat herbal itu menyesatkan. Vaksinnya saja belum ada, maka ini terkesan memberikan harapan palsu pada pasien dan masyarakat," lanjutnya.
Aditya mengatakan, bahwa nama Hadi Pranoto yang mengaku sebagai ahli mikrobiologi juga diragukan. "Saya tahu kalau beliau pakar mikrobiologi, pastinya kita tahu guru-guru besarnya, serta profesornya. Saya tahu guru-guru besar yang ahli di bidang mikrobiologi, dan dia tidak ada di komunitas bidang mikrobiologi itu. Jadi saya meragukan juga klaimnya yang mengaku profesor mikrobiologi," kata Aditya.
Aditya mengungkapkan, meskipun yang dipublikasikan oleh Hadi Pranoto adalah antibodi herbal, tetap harus melalui serangkaian proses dan uji coba secara klinis.
"Secara medis juga belum ditemukan obat untuk pasien yang terinfeksi COVID-19, vaksinnya juga baru mau jalan. Memang kita juga tidak anti terhadap pengobatan tradisional. Tapi itu tidak sembarangan, ada aturannya. Terlebih lagi mau diberikan ke manusia. Manusia itu bukan hewan percobaan, kita harus tau apa efek sampingnya, dan dosisnya berapa. Harus ada izin dari BPOM, ada sidang publikasi dengan melibatkan IDI misalnya. Sedangkan ini jurnal publikasinya juga tidak ada," jelas Aditya.
Dan soal harga tes swab yang menurut Hadi Pranoto, hanya berkisar seharga Rp 20.000, Ketua IDI Bandar Lampung menyebut nominal tersebut tidak masuk akal. "Dia juga bilang, tes swab melalui PCR seharga Rp 20.000, darimana angka itu, untuk mengambil sampel swabnya saja itu tidak cukup, belum lagi alat-alat yang digunakan. Ini kan tidak masuk akal," terangnya.
Memang, lanjut Aditya, untuk pemeriksaan swab menggunakan PCR biayanya cukup mahal, belum lagi resiko terpapar bagi petugas lab yang melakukan pemeriksaan terhadap sampel swab.
"Saya tahu tarifnya bisa sampai Rp 2 juta lebih kalau dihitung semua. Belum lagi mesinnya mahal, mengerjakannya juga tidak sebentar. Karena PCR yang otomasis bisa sampai 4-5 jam sekali running. Rasa-rasanya tidak mungkin kalau dihargai cuma Rp 15.000 - Rp 20.000 saja," lanjutnya.
Pernyataan soal tarif swab oleh Hadi Pranoto seperti yang dikatakan dalam channel YouTube Dunia Manji dinilai dapat menurunkan kepercayaan terhadap tenaga medis, terutama petugas yang melakukan pemeriksaan swab dengan PCR. "Itu yang kami sesalkan. Kalau begini kan kami dianggap nipu bikin tarif PCR hingga Rp 2 juta," sambungnya.
IDI Bandar Lampung mengimbau masyarakat tetap cerdas dan bijak, terutama dalam menyaring informasi yang bersifat mencari ketenaran di tengah pandemi COVID-19.
"Tolonglah kalau mau cari tenar itu dengan cara yang benar, jangan menjadi tenar dengan membuat keresahan," pungkasnya. (*)
