Kumparan Logo
Konten Media Partner

Ini Upaya Pemerintah Tingkatkan Nilai Jual Produk Ikan Teri di Pulau Pasaran

Lampung Gehverified-green

ยทwaktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Aktivitas pengolahan ikan teri di Pulau Pasaran, Bandar Lampung. | Foto : Galih Prihantoro/ Lampung Geh
zoom-in-whitePerbesar
Aktivitas pengolahan ikan teri di Pulau Pasaran, Bandar Lampung. | Foto : Galih Prihantoro/ Lampung Geh

Lampung Geh, Bandar Lampung - Pulau Pasaran dikenal sebagai salah satu sentra pengolahan ikan teri yang ada di Provinsi Lampung khususnya Kota Bandar Lampung, di Pulau Pasaran ini terdapat 109 orang pengolah, 8 pemasar/pengepul serta hampir ada 200 orang tenaga kerja (buruh) pengolahan ikan.

Produk olahan ikan teri di Pulau Pasaran yang dikenal di antaranya, Teri Nasi, Teri Buntiaw dan Teri Jengki. Produk-produk tersebut dipasarkan ke Bandar Lampung, hingga luar Lampung seperti Pulau Sumatera dan Jawa.

Berbagai produk olahan ikan kini tersedia di sentra kuliner dan UMKM Pulau Pasaran. | Foto : Galih Prihantoro/ Lampung Geh

Meski telah dikenal sebagai sentra pengolahan ikan teri, namun masih terdapat beberapa persoalan yang perlu diatasi dalam pengembangan hilirisasi ikan teri.

Gubernur Lampung Arinal Djunaidi mengatakan, beberapa persoalan itu di antaranya Ikan Teri Nasi yang diproduksi di Pulau Pasaran masih dikenal dengan sebutan Teri Medan.

"Semua orang tahu ikan asin teri itu yang paling enak Medan, tapi dengan upaya-upaya Lampung akhirnya Medan kalah, kenapa kalah karena dia (biaya) transportasi tinggi, sementara kita tidak memerlukan biaya tinggi baik ke Jakarta maupun Jawa Barat dan Jawa Tengah," kata Gubernur Lampung Arinal Djunaidi.

Dia pun berharap agar ke depan Ikan Teri Nasi yang diproduksi di Pulau Pasaran ini lebih dikenal luas oleh masyarakat, bahwa produk tersebut olahan asli dari Lampung.

"Oleh karenanya, tidak ada lagi ikan teri Lampung ini disebut ikan teri Medan. Saya ingin Pemkot Bandar Lampung sama-sama kita melakukan pembinaan karena ini semua menjadi tanggung jawab kita semua," ungkapnya.

Produk olahan ikan teri yang telah dikemas di Pulau Pasaran. | Foto : Galih Prihantoro/ Lampung Geh

Selain itu, dijelaskan Arinal, beberapa persoalan yang perlu diselesaikan adalah produksi olahan ikan teri di Pulau Pasaran dijual dalam kardus tanpa merk, masih terbatasnya olahan siap saji, hingga pemasaran masih terbatas di dalam negeri.

Meski begitu, menurut Arinal, pemerintah juga telah mendukung dalam segi sarana dan fasilitas di Pulau Pasaran untuk menopang produksi olahan ikan teri.

"Beberapa permasalahan di Pulau Pasaran ini yang sudah berhasil diatasi adalah menaikan daya/tegangan listrik serta rehab lantai penjemuran. Selain itu program/kegiatan dari Pemerintah Provinsi Lampung juga dilakukan seperti pembinaan sertifikasi SKP, bantuan sarana pengolahan dan penangkapan ikan, pelatihan diversifikasi pengolahan ikan, sosialisasi bantuan permodalan usaha dan sosialisasi e-KPB," bebernya.

Kini Pulau Pasaran juga telah disulap oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan menjadi Kampung Nelayan Modern (Kalamo).

Dengan diubahnya wajah Pulau Pasaran menjadi Kampung Nelayan Modern kini memiliki sejumlah fasilitas yang memadai dalam mendukung pengolahan ikan teri.

Pulau Pasaran kini dilengkapi dengan berbagai fasilitas di antaranya rumah pengering higienis, gudang beku portabel, sentra kuliner, kios dan balai pertemuan nelayan.

Dengan diresmikannya Pulau Pasaran menjadi Kampung Nelayan Modern diharapkan bisa meningkatkan pertumbuhan ekonomi bagi masyarakat serta meningkatkan nilai jual produk olahan ikan teri hingga bisa diekspor ke luar negeri. (Lih/Put)