Itera Dampingi Petani Lampung Timur Olah Singkong Jadi Tepung Mocaf
·waktu baca 2 menit

Lampung Geh, Lampung Timur – Institut Teknologi Sumatera (Itera) mendampingi warga Desa Mekar Karya, Waway Karya, Kabupaten Lampung Timur, mengolah singkong menjadi tepung Modified Cassava Flour (Mocaf) yang memiliki nilai jual lebih tinggi.
Desa Mekar Karya sendiri ditetapkan sebagai desa binaan sekaligus proyek percontohan produksi tepung mocaf berbasis usaha rumah tangga oleh Itera.
Rektor Itera, Prof I Nyoman Pugeg Aryantha, bersama Kepala LPPM Itera Muhammad Fatikul Arif, meninjau langsung proses produksi tepung mocaf di desa tersebut pada Selasa, 21 Oktober 2025. Turut hadir sejumlah dosen dan mahasiswa Itera yang terlibat dalam pendampingan.
“Kami ingin masyarakat lebih mandiri dan inovatif dalam mengelola singkong. Itera hadir membawa sentuhan teknologi agar petani mampu menghasilkan produk bernilai tinggi seperti tepung mocaf,” katanya.
Dalam kunjungan itu, Rektor juga melihat langsung alat-alat bantuan Itera seperti mesin pengering singkong dan teknologi fermentasi. Ia menekankan pentingnya efisiensi dan higienitas dalam setiap proses produksi.
Tak hanya fokus pada produksi, Itera juga mendorong pemanfaatan limbah singkong. Kulit singkong, misalnya, dapat diolah menjadi bahan cairan pemadam kebakaran, sementara limbah cair bisa dijadikan prebiotik untuk pakan ternak.
Rektor berharap program ini bisa menjadi pilot project yang mendapat dukungan dari Pemerintah Provinsi Lampung. “Kami ingin petani benar-benar bisa merasakan kesejahteraan dari hasil inovasi ini,” katanya.
Sementara itu, Sabto Wibowo, petani asal Desa Mekar Karya, mengaku harga jual singkong yang rendah, yakni sekitar Rp900 per kilogram, membuat petani sulit untung. Apalagi, pemotongan berat di pabrik bisa mencapai 45%.
“Dengan harga dan sistem seperti itu, petani tidak pernah untung,” ujarnya.
Ia menyebut, pendampingan Itera memberi harapan baru karena mocaf memiliki nilai jual lebih tinggi. Kini, ia bahkan mulai menerima pasokan singkong dari petani lain untuk diolah.
Mahasiswa Itera, Muhammad Ujianto Trepsilo, menambahkan bahwa pendampingan telah dilakukan sejak 2024 melalui berbagai program seperti PPK Ormawa, KKN tematik, dan PKM-PDB. Namun, menurutnya tantangan terbesar saat ini adalah pemasaran dan peningkatan kualitas produk.
“Kami berharap kegiatan ini bisa menjadi solusi nyata bagi petani dan ditiru di daerah lain,” tutupnya. (Yul)
