Itera Kembangkan Teknologi Tambak Udang Berbasis IoT, Diuji di Lampung Selatan
·waktu baca 2 menit

Lampung Geh, Bandar Lampung - Tim dosen Institut Teknologi Sumatera (Itera) berhasil mengembangkan inovasi teknologi otomatisasi tambak udang berbasis Internet of Things (IoT) yang diklaim mampu meningkatkan efisiensi dan keberlanjutan budidaya udang di Lampung.
Teknologi ini mencakup sistem pakan otomatis, kontrol aerator, hingga monitoring kualitas air (pH, suhu, salinitas, dan kekeruhan) secara real-time. Seluruh sistem dapat dipantau dan dikendalikan dari jarak jauh melalui aplikasi smartphone bernama App Smart Farm.
Prototipe teknologi ini telah diuji coba dan disosialisasikan kepada para petambak di CV Sebalang Berkah, Desa Tarahan, Kecamatan Katibung, Lampung Selatan, pada Senin, 6 Oktober 2025. Sosialisasi dihadiri 30 orang petambak, termasuk pemilik CV Sebalang Berkah, Diang Adistya.
“Inovasi ini menjawab tantangan efisiensi dan keberlanjutan budidaya udang, terutama dalam pengelolaan pakan dan energi,” kata Ketua Tim Peneliti, Aidil Afriansyah.
Aidil menjelaskan, teknologi ini dikembangkan sebagai solusi atas masalah pemberian pakan manual yang kerap tidak akurat dan boros.
Selain itu, penggunaan aerator secara terus-menerus tanpa kendali menyebabkan pemborosan energi listrik. Untuk itu, tim juga mengintegrasikan panel surya dan turbin angin untuk memenuhi kebutuhan listrik sistem secara mandiri.
“Tidak hanya otomatisasi, inovasi kami menekankan keberlanjutan dengan memanfaatkan energi terbarukan. Ini penting untuk lokasi tambak yang jauh dari akses listrik,” tambahnya.
Riset berlangsung sejak Agustus hingga Oktober 2025, melibatkan survei, pengembangan sistem, hingga pengujian di laboratorium dan lapangan. Proyek ini juga menjadi media pembelajaran langsung bagi mahasiswa Itera.
Pengujian melibatkan tim ahli dari berbagai bidang, seperti Dr. Munti Sarida dari Universitas Lampung yang menyebutkan bahwa sensor kualitas air menunjukkan akurasi tinggi, serta Herri Gusmedi yang memastikan sistem tenaga listrik terbarukan bekerja optimal di lokasi tambak. Pakar Informatika Industri, Ir. Resty Annisa, juga turut memastikan perangkat keras dan lunak berfungsi sesuai spesifikasi.
Pemilik tambak, Diang Adistya, menyambut positif teknologi ini. “Ini jawaban yang kami butuhkan. Bisa memantau dan mengontrol tambak dari mana saja akan mengubah cara kerja kami. Tidak hanya efisien, tapi juga berkelanjutan,” ujarnya.
Proyek ini merupakan bagian dari program Hilirisasi Riset - Pengujian Model dan Prototipe TA 2025 yang didukung Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan, Kemendiktisaintek. Itera berharap, inovasi ini bisa diadopsi secara luas sebagai solusi teknologi bagi sektor perikanan nasional. (Yul/Lua)
