Kumparan Logo
Konten Media Partner

Jejak Islam di Lampung: Cikal Bakal Masjid Jami' Al Anwar

Lampung Gehverified-green

ยทwaktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Masjid Jami' Al-Anwar, masjid tertua di Provinsi Lampung. | Foto: Bella Sardio/ Lampung Geh
zoom-in-whitePerbesar
Masjid Jami' Al-Anwar, masjid tertua di Provinsi Lampung. | Foto: Bella Sardio/ Lampung Geh

Lampung Geh, Bandar Lampung - Salah satu bukti sejarah masuknya Islam di Provinsi Lampung dengan adanya Masjid tertua, yakni Masjid Jami' Al-Anwar di Jalan Laksamana Malahayati Nomor 100 Kelurahan Kangkung, Kecamatan Teluk Betung Selatan, Kota Bandar Lampung.

Dikisahkan Rusdi, salah satu pengurus Masjid Jami' Al-Anwar, berdirinya masjid tertua ini berawal dari datangnya keluarga muslim dari Bone, Sulawesi Selatan, bernama Daeng Muhammad Ali, bersama kedua sepupunya Kiyai Hi Muhammad Saleh dan Hi Ismail, sekitar tahun 1839.

Pada masa itu, Kolonial Belanda telah menginjakan kaki di tanah Lampung. Sering banyak perampok (bajak laut) yang meresahkan di Perairan Teluk Lampung, Pemerintah Kolonial Belanda meminta bantuan Daeng Muhammad Ali untuk menjaga wilayah tersebut.

"Keluarga Daeng Muhammad Ali pada saat itu pun sudah bergelar Tumenggung karena beliau menikah dengan seorang wanita asal Lampung," terangnya.

Bantuan dari Tumenggung Daeng Muhammad Ali tak sia-sia, bahkan sejumlah perampok telah ditangkap. Para perampok yang berjanji tidak mengulangi perbuatannya diserahkan ke Kyai Hi Muhammad Saleh, yang dikenal sebagai seseorang yang berpengetahuan agama sangat luas.

Kyai Hi Muhammad Saleh turut memberikan pengetahuan tentang Islam kepada kawanan mantan perampok. Bahkan, kepopulerannya semakin membuat masyarakat sekitar tertarik.

Antusias masyarakat mempelajari Agama Islam membuat Sang Kyai ingin membangun sebuah Musala. Mendengar hal itu, Tumenggung Daeng Muhammad Ali pun mendukung rencana baik dari Kyai Hi Muhammad Saleh.

Pada akhirnya, terwujudlah pembangunan Musala yang kini dikenal dengan Masjid Jami' Al-Anwar.

"Akhirnya dibangun, musalanya dari atap Rumbia, berdinding geribik bertiang bambu," terangnya.

Kegiatan belajar agama Islam ini semakin tinggi peminat. Bahkan, murid sang kyai ada dari Aceh, Banten, Palembang, Melayu, Arab, dan lainnya.

"Para kyai menerjemahkan bahwa Kyai Muhammad Saleh berdakwah dan juga mencetak kader-kader muslim sebanyak-banyaknya untuk menentang penjajah," pungkasnya.

Namun, pada tahun 1883, Gunung Krakatau yang berada di Selat Sunda (kini masuk wilayah Lampung Selatan) meletus dengan dahsyat. Hingga menyebabkan air pasang sangat tinggi dan menghanyutkan apapun di sekitar Perairan Teluk Lampung.

"Akibat letusan itu, musala hancur, rata dengan tanah. Hanya tersisa 6 tiang yang terbuat dari kayu dan masih berdiri kokoh," kata Rusdi.

Untuk informasi, kini 6 tiang dari kayu masih tetap ada. Hanya saja dilapisi bahan bangunan permanen. "Konon, tiang ini merupakan simbol Rukun Iman yang jumlahnya ada 6," terangnya.

Dua tahun setelahnya, pada tahun 1885, Kyai Hi Muhammad Saleh berpulang ke Rahmatullah. Makam sang Kyai dikenal dengan nama Keramat Datuk Puang yang berlokasi di Gunung Seri (sekarang Gunung Kunyit, Kecamatan Bumi Waras, Kota Bandar Lampung). (*)