Kumparan Logo
Konten Media Partner

Jungle Tracking Perbatasan TNWK dan Sadap Karet di Desa Labuhan Ratu VII Lamtim

Lampung Gehverified-green

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kanal perbatasan TNWK dengan wilayah Desa Labuhan Ratu VII Lampung Timur, Minggu (11/4) | Foto : Sidik Aryono/ Lampung Geh
zoom-in-whitePerbesar
Kanal perbatasan TNWK dengan wilayah Desa Labuhan Ratu VII Lampung Timur, Minggu (11/4) | Foto : Sidik Aryono/ Lampung Geh

Lampung Geh, Lampung Timur - Menikmati forest healing jungle tracking dan menyadap getah karet di Desa Labuhan Ratu VII Lampung Timur.

Desa Labuhan Ratu VII merupakan bagian dari Kecamatan Labuhan Ratu Kabupaten Lampung Timur. Desa yang berbatasan langsung dengan Taman Nasional Way Kambas ini terkenal dengan fenomena konflik manusia dan satwa, yakni gajah.

Di samping fenomena tersebut, desa yang kini sedang merintis pariwisata berbasis kearifan lokal memanfaatkan potensi masyarakat setempat, mencoba menawarkan paket-paket wisata edukasi atau eduwisata. Gagasan desa wisata tersebut didampingi oleh Konsorsium Unila AleRT dibawah naungan Tropical Forest Conservation Action (TFCA) Sumatera.

Salah satu atraksi wisata yang bisa dicoba adalah jungle tracking atau berjalan menyusuri wilayah perbatasan Desa Labuhan Ratu VII dengan TNWK. Untuk menikmati jungle tracking, pengunjung dikenai biaya sebesar Rp 100.000 per paket dan terdiri dari maksimal 10 orang dalam satu rombongan. Harga tersebut sudah termasuk seporsi es kelapa muda untuk setiap pengunjung.

Pengunjung akan dipandu untuk menjelajahi kawasan perbatasan hutan TNWK dengan desa penyangga serta mendapat pengalaman langsung mengunjungi jalur masuk gajah Sumatera ke desa, area penghalauan gajah, dan kanal pembatas kawasan.

Dalam perjalanan ini ditemani oleh Sunandar dari Pokdarwis Desa Labuhan Ratu VII. Di perbatasan tersebut nampak jelas perbedaannya, lahan pertanian warga banyak ditanami singkong hingga pohon karet, sementara di sisi lain, yakni di area TNWK hutan lebat dengan vegetasinya masih sangat terjaga.

Di perbatasan tersebut, pengunjung juga dapat melihat langsung kanal yang dibuat untuk menghalau gajah masuk kebun dan pemukiman warga. Kanal penghalau tersebut memiliki kedalaman sekitar 2 meter dan lebar sekitar 1,5 meter. Selain kanal, juga terdapat gundukan tanah menyerupai tanggul kanal sebagai penghalau masuknya gajah.

Melihat alat penghalau gajah di perbatasan Desa Labuhan Ratu VII dengan TNWK, Minggu (11/4) | Foto : Sidik Aryono/Lampung Geh

Kemudian, pengunjung juga dapat melihat alat penghalau gajah yang terbuat dari drum yang dibentuk sedemikian rupa sehingga terdapat bagian tajam seperti duri. Drum tersebut disangga dua tiang besi serta as yang membuat drum tersebut dapat berputar. Di sisi kanan kirinya, masih terdapat kawat sebagai penghalau.

Sembari berjalan, Sunandar menjelaskan bahwa gajah seringkali bisa melewati penghalau tersebut. "Mereka (gajah) merupakan hewan yang cukup pintar. Bahkan seringkali kedatangannya tidak terdengar, dan tau-tau sudah di kebun. Pernah dipasang kawan listrik, tapi dengan kepintaranya, Gajah merobohkan pohon sehingga menimpa dan memutuskan kawan listrik tersebut. Jadi gajah tetap bisa lewat," kata Sunandar.

Rapatnya vegetasi di perbatasan TNWK degan Desa Labuhan Ratu VII Lampung Timur, Minggu (11/4) | Foto : Sidik Aryono/ Lampung Geh

Jika sudah demikian, maka penduduk setempat akan mengusir gajah menggunakan petasan atau kembang api, dengan cara menembakannya ke atas. Cara-cara lainnya juga dilakukan seperti membuat api unggun dan lainnya, karena hewan bertubuh besar tersebut cukup pintar untuk mengetahui bahwa cara-cara pengusiran tersebut tidak membahayakannya.

Meniti jembatan kanal saat jungle Tracking Perbatasan TNWK dan Desa Labuhan Ratu VII Lampung Timur, Minggu (11/4) | Foto : Sidik Aryono/Lampung Geh

Dari sekelompok kawanan gajah, terdapat seekor gajah legendaris yang sudah terkenal di kalangan masyarakat setempat. Gajah Dugul, begitulah masyarakat menyebutnya. Gajah ini tidak memiliki kawanan atau rombongan, kesehariannya gajah ini selalu menyendiri (solitaire). Gajah yang sudah berusia lebih dari seratus tahun ini tidak memiliki gading, namun Gajah Dugul cukup disegani kawanan gajah lainnya karen kekuasaannya.

Jungle Tracking menyusuri perkebunan karet milik warga Desa Labuhan Ratu VII Lampung Timur, Minggu (11/4) | Foto : Sidik Aryono/ Lampung Ge

Tracking dilanjutkan memasuki perkebunan karet milik warga, yakni Handoko. Ya, selain komoditas pertanian, warga desa Labuhan Ratu juga menanam pohon karet sebagai salah satu sumber penghasilan.

Mencoba menyadap getah karet secara tradisional di wisata edukasi Desa Labuhan Ratu VII Lampung Timur, Minggu (11/4) | Foto : Sidik/Aryono Lampung Geh

Di perkebunan karet milik Handoko ini, pengunjung dapat melihat langsung proses menyadap getah karet secara tradisional, yang biasanya dilakukan saat pagi hari. Dengan sebilah alat menyerupai arit dengan gagang kayu, pengunjung akan diajari mengulas sebagian kulit pohon karet sampai mengeluarkan getahnya. Dan untuk menikmati wisata edukasi penyadapan getah karet ini, pengunjung dikenai biaya sebesar Rp 15.000 perorang, atau Rp 150.000 untuk 10 orang. (*)