Ketua PKS Lampung Ahmad Mufti: Tafsir Gus Miftah Salah, Risiko Timbul Perpecahan

Konten Media Partner
18 Januari 2024 15:26 WIB
·
waktu baca 2 menit
comment
3
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Ketua PKS Lampung Ahmad Mufti Salim. | Foto: Bella Sardio/Lampung Geh
zoom-in-whitePerbesar
Ketua PKS Lampung Ahmad Mufti Salim. | Foto: Bella Sardio/Lampung Geh
ADVERTISEMENT
Lampung Geh, Bandar Lampung - Ketua Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Lampung, Ahmad Mufti Salim mengecam keras tuduhan Gus Miftah yang mengaitkan PKS dengan Wahabi.
ADVERTISEMENT
Tuduhan tersebut dilontarkan Gus Miftah pada pengajian akbar yang digelar oleh PWNU Lampung di Lapangan Cipta Karya, Lampung Selatan, Jumat (12/1) lalu.
"Jadi saya bukan menantang Gus Miftah karena PKS dituduh Wahabi saja," kata Mufti saat ditemui Lampung Geh, di Kantor DPW PKS Lampung.
Namun sebagian alumni pesantren dan alumni Diklat Lemhannas, Mufti merasa terpanggil untuk menyampaikan penjelasan sebuah ayat, yaitu Surah Al An'am ayat 48.
Gus Miftah saat diwawancara di program Info A1 kumparan. Foto: Aditia Noviansyah/kumparan
"Cara menerjemahkan cara menafsirkannya salah yang ngeri bisa berdampak risiko perpecahan umat," kata alumni Pesantren Krapyak Yogyakarta.
Menurutnya, menganggap Wahabi identik dengan PKS yang dakwahnya 'suka nakut-nakutin' itu sangat jauh dari fakta atau salah.
"Sangat membahayakan kemudian ini bisa menyebabkan keresahan di tengah masyarakat," jelasnya.
ADVERTISEMENT
Pernyataannya pertama kali dilontarkan dalam Instagram resmi @pks_lampung merupakan langkahnya sebagai Ketua PKS Lampung.
Mufti juga mengajak Gus Miftah untuk diskusi secara terbuka di depan para ulama dan ahli tafsir tentang Surah Al An'am ayat 48 tersebut.
"Saya mengundang di depan secara terbuka Saya minta Gus minta hadir ayo ngaji bareng di depan ulama-ulama ahli tafsir," ajak Mufti.
Ia meminta agar Gus Miftah memberikan klarifikasi bahwa pernyataan sebelumnya soal PKS identik dengan Wahabi diralat.
"Kita cek pastikan cara Gus Mifta menerjemahkan dan menjelaskan sama tidak dengan apa yang saya pahami kalau salah beliau klarifikasi di depan ulama, tapi kalau saya yang salah saya siap jika memang ulama mengatakan saya yang salah paham," terangnya.
ADVERTISEMENT
Bahkan, Ahmad Mufti mempersilakan apa bila penafsiran antar keduanya dilakukan di depan Gubernur Lampung hingga menteri. Termasuk, Gubernur Jawa Timur yang juga hadir di majelis tersebut. (Ansa/Put)